
Makkah (Trigger.id) – Panas matahari Makkah siang itu terasa menyengat. Ribuan jamaah terus bergerak memenuhi kawasan Terminal Jabal Ka’bah, sebagian tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang menuju Masjidil Haram. Di tengah keramaian tersebut, seorang perempuan berseragam medis berdiri sigap mengawasi situasi. Dialah Fransiska Mainake, perawat yang mengabdikan dirinya untuk melayani jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.
Perempuan berusia 38 tahun itu sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Namun saat musim haji tiba, ia meninggalkan rutinitasnya di rumah sakit untuk bergabung sebagai petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (PKP2JH) di Sektor Khusus Masjidil Haram.
Bagi Fransiska, tugas tersebut bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian dan ibadah. Keinginannya sederhana: membantu jamaah Indonesia agar dapat menjalankan ibadah dengan aman dan sehat.
Setiap hari, ia bersama tim harus bersiaga menghadapi berbagai kondisi darurat di tengah lautan manusia. Jamaah yang kelelahan, pingsan akibat cuaca panas, hingga kondisi kesehatan yang memburuk mendadak menjadi bagian dari situasi yang harus ditangani dengan cepat.
Namun tugas mereka tidak berhenti pada pertolongan pertama. Fransiska juga aktif memberikan edukasi kesehatan kepada jamaah, terutama kelompok lanjut usia dan mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi. Ia mengingatkan pentingnya menjaga stamina, mengatur cairan tubuh, dan mengenali batas kemampuan fisik selama menjalani rangkaian ibadah.
Bekerja di tengah suhu ekstrem dan kepadatan jutaan orang tentu bukan perkara mudah. Tenaga dan konsentrasi terkuras setiap hari. Untuk menjaga keselamatan petugas, tim PKP2JH menerapkan sistem pendampingan atau buddy system. Tidak ada petugas yang diperbolehkan bekerja sendirian ketika berpatroli maupun menangani keadaan darurat.
Meski melelahkan, Fransiska merasa semua pengorbanan itu terbayar oleh pengalaman-pengalaman menyentuh yang ia temui di Tanah Suci.
Salah satu momen yang paling membekas baginya terjadi ketika ia bertemu seorang jamaah lanjut usia yang tampak kebingungan di kawasan Dar Al Tawhid. Jamaah tersebut memiliki satu keinginan besar: bisa melaksanakan shalat di depan Ka’bah.
Dengan sabar, Fransiska mendampingi jamaah itu menuju Masjidil Haram di tengah arus manusia yang padat. Sesampainya di depan Ka’bah, jamaah tersebut menangis haru sambil menggenggam erat tangannya karena takut terpisah dari rombongan.
Bagi Fransiska, momen sederhana itu menjadi pengalaman spiritual yang sulit dilupakan. Ia menyaksikan langsung bagaimana perjuangan dan kerinduan jamaah untuk beribadah mampu mengalahkan rasa lelah, usia, bahkan keterbatasan fisik.
Berinteraksi dengan para jamaah lanjut usia juga memberinya banyak pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan hati. Ia melihat sendiri bagaimana mereka rela menunggu bertahun-tahun demi bisa menunaikan ibadah haji. Perjalanan panjang dan kondisi fisik yang tidak lagi muda ternyata tidak menyurutkan semangat mereka untuk menjadi tamu Allah.
Kisah-kisah seperti itulah yang membuat Fransiska terus bertahan menjalani tugas berat di tengah panasnya Makkah. Di balik kesibukan dan tekanan pekerjaan, ia menemukan makna pengabdian yang sesungguhnya: membantu orang lain menjalankan ibadah dengan rasa aman, nyaman, dan penuh harapan.
Melalui tangan-tangan para petugas kesehatan seperti Fransiska, jamaah haji Indonesia tidak hanya memperoleh bantuan medis, tetapi juga kehangatan, empati, dan ketulusan yang menemani mereka selama berada di Tanah Suci. (ian)
Sumber: Antara



Tinggalkan Balasan