
Surabaya (Trigger.id) – Pemerintah Kota Surabaya terus mematangkan strategi penanganan banjir di wilayah selatan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan bahwa solusi tidak bisa lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus berbasis penataan ulang aliran air dari hulu hingga hilir.
Saat melakukan inspeksi di kawasan Ketintang, Eri menyoroti persoalan utama yang selama ini terjadi, yakni penumpukan debit air di wilayah Margorejo. Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh aliran air kiriman dari berbagai kawasan seperti Jambangan dan Karah yang semuanya bermuara ke satu titik.
Untuk mengurai persoalan tersebut, Pemkot merancang skema pengalihan arus air. Salah satu langkahnya adalah memotong aliran dari arah Karah dan kawasan tol agar langsung dialirkan menuju Rumah Pompa SWK Karah, sehingga tidak lagi membebani saluran Avur Wonorejo yang selama ini menjadi titik kritis.
Selain itu, arah aliran air dari Ketintang Baru juga akan direkayasa ulang. Air nantinya akan dialihkan kembali menuju saluran Kebon Agung melalui kawasan Central Park Ahmad Yani dan Mang Kabayan. Dengan skema ini, saluran di Margorejo hingga Prapen diharapkan hanya menampung air dari lingkungan sekitar, bukan kiriman dari wilayah lain.
Upaya lain yang disiapkan adalah pembangunan rumah pompa tambahan di bantaran Kali Surabaya, tepatnya di kawasan Pulo Wonokromo. Pompa ini ditujukan untuk mempercepat pembuangan air dari area sekitar Royal Plaza dan rel kereta api agar tidak terjadi genangan berkepanjangan.
Pemkot juga akan melakukan pelebaran saluran di kawasan Prapen serta memperkuat konektivitas antar-drainase. Tidak hanya itu, sistem pengelolaan aliran air ke depan akan didukung teknologi digital berupa peta catchment area yang dapat diakses publik. Dengan sistem ini, masyarakat diharapkan dapat ikut mengawasi dan memahami arah aliran air di lingkungannya.
Eri menargetkan seluruh skema pengalihan arus ini bisa rampung pada Oktober 2026. Ia menegaskan akan melakukan evaluasi serius apabila target tersebut tidak tercapai dan banjir masih terjadi.
Sementara itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya menjelaskan bahwa permasalahan banjir di wilayah Ketintang, Gayungsari, hingga Karah tergolong kompleks. Selama ini, beban air dari kawasan barat—terutama dari area tol—sepenuhnya mengalir ke timur menuju Wonorejo, sehingga menimbulkan tekanan besar pada saluran yang kapasitasnya terbatas.
Sebagai solusi, akan dilakukan pemotongan aliran (sodetan) langsung ke arah selatan menuju Sungai Kebon Agung. Langkah ini diharapkan mampu membagi beban aliran air sehingga tidak seluruhnya mengalir ke hilir.
Dengan pembagian beban tersebut, volume air yang menuju kawasan Prapen dan sekitarnya diproyeksikan menurun signifikan. Dampaknya, sejumlah titik rawan banjir seperti Ketintang, Karah, dan Gayungsari diharapkan bisa terbebas dari genangan saat hujan deras.
Pemkot optimistis pendekatan berbasis rekayasa aliran ini akan menjadi solusi jangka panjang, menggantikan metode lama yang hanya berfokus pada pengerukan tanpa perhitungan sistematis. (ian)



Tinggalkan Balasan