
Moskow (Trigger.id) – Bayangan krisis energi kembali menghantui Eropa. Di tengah ketidakpastian pasokan dan melonjaknya harga energi, Komisi Eropa mulai mendorong langkah-langkah yang tidak biasa—bahkan hingga menyentuh pola kerja masyarakat modern.
Dalam sebuah draf kebijakan yang dilaporkan Financial Times, negara-negara anggota Uni Eropa diminta mempertimbangkan penerapan work from anywhere (WFA), setidaknya satu hari dalam sepekan. Tujuannya sederhana, namun berdampak luas: mengurangi mobilitas, menekan konsumsi energi, sekaligus menjaga produktivitas tetap berjalan.
Langkah ini bukan berdiri sendiri. Komisi Eropa juga mendorong berbagai bentuk dukungan lain, mulai dari subsidi transportasi umum hingga pemangkasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk teknologi ramah lingkungan seperti pompa kalor, boiler hemat energi, dan panel surya. Di saat yang sama, target elektrifikasi baru tengah disiapkan, lengkap dengan skema “sewa sosial” agar masyarakat lebih mudah mengakses teknologi hijau—termasuk kendaraan listrik.
Semua upaya ini bermuara pada satu hal: efisiensi. Penghematan konsumsi gas dan minyak kembali digaungkan, mengingat situasi saat ini mengingatkan pada krisis energi yang sempat melanda pada 2022 lalu.
Namun, krisis kali ini memiliki dimensi geopolitik yang lebih tajam.
Dari kawasan Teluk, ketegangan meningkat setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Jalur sempit ini bukan sekadar perairan biasa—sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintas di sana.
Penutupan ini disebut sebagai respons atas langkah Angkatan Laut Amerika Serikat yang sebelumnya membatasi lalu lintas maritim menuju pelabuhan-pelabuhan Iran. Washington menyatakan kapal non-Iran tetap boleh melintas, selama tidak membayar bea masuk ke Teheran—sebuah isu yang kini masih menjadi perdebatan.
Di tengah tarik-menarik kepentingan global itu, dampaknya terasa hingga ke ruang kerja dan rumah tangga masyarakat Eropa. Dari kebijakan WFA hingga dorongan energi hijau, krisis ini perlahan mengubah cara hidup—mengingatkan dunia bahwa energi bukan sekadar kebutuhan, melainkan juga alat tawar dalam percaturan geopolitik. (ian)
Sumber: Ant/Sputnik



Tinggalkan Balasan