

Senja di bulan Ramadhan selalu terasa berbeda. Langit yang perlahan memerah seperti ikut menahan napas. Di masjid-masjid, di sudut kampung, di tepi sungai, di alun-alun kota—waktu seakan melambat. Orang-orang menunggu satu suara yang sama: adzan Magrib.
Menunggu berbuka bukan sekadar soal menahan lapar dan dahaga. Di Indonesia, ia menjelma menjadi tradisi. Menjadi budaya. Menjadi ruang kebersamaan yang diwariskan turun-temurun.
Aceh: Dentuman Meriam dan Gema Serunee
Di Banda Aceh, dentuman meriam tradisional pernah menjadi penanda waktu berbuka. Tradisi meriam karbit—meski kini lebih terbatas demi keamanan—adalah bagian dari memori kolektif masyarakat Aceh.
Menjelang Magrib, pelataran Masjid Raya Baiturrahman dipenuhi warga. Anak-anak berlarian, orang tua duduk bersila, sebagian membaca Al-Qur’an. Di kota yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini, Ramadhan terasa khusyuk sekaligus hangat.
Sumatera Barat: Malamang dan Surau
Di ranah Minang, tradisi malamang—membuat lamang (lemang) dalam bambu—kerap hadir menjelang Ramadhan dan hari-hari besar. Di kampung-kampung Sumatera Barat, surau kembali ramai saat sore hari. Anak-anak mengaji, remaja berdiskusi, orang tua menunggu waktu berbuka dengan zikir dan tadarus.
Bagi masyarakat Minangkabau, surau bukan sekadar tempat ibadah, tetapi pusat pembentukan karakter. Senja Ramadhan di sana adalah perpaduan antara adat dan syariat.
Yogyakarta: Ngabuburit di Alun-Alun
Istilah ngabuburit—yang berasal dari bahasa Sunda dan berarti menunggu waktu sore—kini menjadi kosa kata nasional. Di Yogyakarta, alun-alun dan kawasan sekitar Masjid Gedhe Kauman dipenuhi warga.
Pasar takjil bermunculan. Kolak, es buah, kicak, hingga aneka gorengan menjadi primadona. Namun lebih dari itu, orang datang untuk suasana: duduk bersama keluarga, berbagi cerita, merasakan detik-detik terakhir sebelum adzan berkumandang.
Jakarta: Berburu Takjil dan Berbagi
Di ibu kota, ritme Ramadhan bergerak cepat. Kawasan Pasar Benhil di Jakarta dikenal sebagai salah satu sentra takjil terbesar setiap Ramadhan.
Sementara itu, pelataran Masjid Istiqlal menjadi lautan manusia menjelang berbuka. Ribuan paket makanan dibagikan gratis. Di tengah hiruk pikuk kota metropolitan, momen berbuka menghadirkan jeda: orang-orang yang biasanya terburu-buru mendadak duduk sejajar, menunggu adzan dengan sabar.
Makassar: Bedug dan Pantai Losari
Di Makassar, senja di Pantai Losari menjadi magnet. Warga duduk menghadap laut, menyaksikan matahari tenggelam sebelum berbuka.
Di kampung-kampung, tabuhan bedug masih menggema. Tradisi ini mengingatkan pada masa ketika pengeras suara belum merata. Bunyi bedug menjadi penanda kolektif—bahwa puasa hari itu telah sempurna.
Papua: Ramadhan dalam Harmoni
Di Jayapura dan kota-kota lain di Papua, komunitas Muslim menjalani Ramadhan dalam suasana kebersamaan lintas budaya. Waktu berbuka sering disertai kebersamaan dengan tetangga yang berbeda keyakinan—sebuah potret toleransi khas Indonesia Timur.
Masjid-masjid dipenuhi jamaah, anak-anak mengaji, dan makanan khas setempat hadir di meja berbuka.
Lebih dari Sekadar Menunggu
Menjelang Magrib di bulan Ramadhan, Indonesia seakan bersatu dalam satu ritme. Dari dentuman meriam di Aceh, surau di Minangkabau, alun-alun di Yogyakarta, hiruk pikuk Jakarta, pantai Makassar, hingga harmoni Papua—semuanya menunggu momen yang sama.
Detik-detik itu bukan hanya tentang mengakhiri puasa. Ia adalah latihan kesabaran kolektif. Ia adalah jeda untuk merenung. Ia adalah perayaan kecil setiap hari.
Ketika adzan akhirnya berkumandang, orang-orang mengangkat tangan, membaca doa berbuka, dan meneguk air pertama dengan rasa syukur yang tak tergantikan.
Senja Ramadhan mengajarkan bahwa menunggu pun bisa menjadi ibadah.
—000—
*Dewan Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan