
Surabaya (Trigger.id) – Di tengah ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga mengambil keputusan, banyak orang mulai khawatir: apakah otak manusia masih mampu bersaing?
Bagi ahli saraf Hannah Critchlow, jawabannya adalah ya. Bahkan, menurutnya, manusia justru memiliki peluang besar untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang tak bisa sepenuhnya ditiru mesin.
Lewat buku terbarunya, The 21st Century Brain, Critchlow mengajak publik memahami bahwa otak manusia sebenarnya masih sangat adaptif, meski secara biologis tidak jauh berbeda dari nenek moyang zaman batu.
“Teknologi AI berkembang dari pemahaman kita tentang otak manusia. Jadi, mengapa kita tidak menggunakan pengetahuan yang sama untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kita sendiri?” ujarnya.
Otak Modern untuk Dunia yang Terus Berubah
Critchlow mulai menulis bukunya sekitar tiga tahun lalu, jauh sebelum AI menjadi perbincangan sehari-hari seperti sekarang. Saat itu, ia sudah melihat bagaimana teknologi akan memengaruhi kehidupan manusia, baik secara sosial maupun personal.
Alih-alih terjebak dalam ketakutan terhadap AI, ia memilih fokus pada keterampilan manusia yang justru semakin penting di era modern: kemampuan beradaptasi, memahami emosi, berpikir kreatif, hingga menghadapi ketidakpastian.
Menurutnya, dunia abad ke-21 membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan akademik. Kemampuan untuk terhubung dengan orang lain, berempati, dan membangun relasi sosial justru menjadi fondasi penting untuk bertahan di tengah perubahan cepat.
Empati Jadi Kunci Kesuksesan
Salah satu hal yang paling disorot Critchlow adalah pentingnya kecerdasan emosional. Ia menjelaskan bahwa empati dan kemampuan memahami emosi memiliki pengaruh besar terhadap kebahagiaan, hubungan sosial, bahkan prestasi akademik.
Meski sebagian kemampuan tersebut dipengaruhi faktor genetik, manusia tetap bisa melatihnya.
Ia mengutip pandangan psikolog Stanford, Jamil Zaki, yang menyarankan agar seseorang memulai dari rasa welas asih terhadap diri sendiri.
Dengan mengenali emosi pribadi dan memahami kebutuhan diri, seseorang akan lebih mudah menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Efeknya, kata Critchlow, dapat menyebar luas dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Ternyata Kebaikan Hati Berasal dari Usus?
Temuan paling menarik dalam bukunya mungkin datang dari hubungan antara otak dan sistem pencernaan.
Critchlow menyoroti penelitian yang dilakukan Hilke Plassmann bersama timnya terhadap 100 relawan sehat. Dalam penelitian tersebut, peserta yang rutin mengonsumsi prebiotik dan probiotik selama tujuh minggu menunjukkan perubahan perilaku sosial.
Mikrobioma usus mereka menjadi lebih beragam, dan secara mengejutkan, tingkat altruismenya ikut meningkat. Para peserta menjadi lebih rela berbagi dan lebih peduli terhadap kesetaraan dibanding kelompok placebo.
“Ini luar biasa. Ternyata kondisi usus kita dapat memengaruhi perilaku sosial dan rasa empati,” ungkap Critchlow.
Masa Depan Tidak Hanya Soal Teknologi
Bagi Critchlow, masa depan bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknologi tercanggih, tetapi siapa yang mampu mempertahankan kualitas kemanusiaannya.
Di era AI, kemampuan berpikir fleksibel, menjaga kesehatan otak, memahami emosi, dan membangun koneksi sosial akan menjadi keunggulan yang paling berharga.
Karena pada akhirnya, mesin mungkin bisa meniru logika manusia, tetapi belum tentu mampu memahami makna menjadi manusia itu sendiri. (ian)



Tinggalkan Balasan