

Di Indonesia, ungkapan kasih sayang sering kali tidak disampaikan lewat kata-kata romantis, melainkan melalui makanan. Kalimat “sudah makan?” bahkan menjadi salah satu sapaan paling umum dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa bagi banyak orang Indonesia, makanan bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga medium untuk menunjukkan perhatian, kepedulian, dan cinta.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan keluarga. Banyak orang tua menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya dengan memasakkan makanan favorit. Begitu pula dalam hubungan pertemanan atau sosial, seseorang yang membawa oleh-oleh atau traktiran sering dianggap sebagai bentuk perhatian dan kedekatan emosional.
Dalam kajian psikologi, konsep ini sering dikaitkan dengan teori love languages yang diperkenalkan oleh Gary Chapman. Dalam teorinya, bahasa cinta manusia dapat berupa kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, sentuhan fisik, pemberian hadiah, dan tindakan pelayanan. Dalam konteks budaya Indonesia, memberi makanan bisa dianggap sebagai gabungan dari dua bahasa cinta tersebut: pemberian hadiah dan tindakan pelayanan.
Tradisi kuliner Nusantara juga memperkuat hubungan antara makanan dan ekspresi kasih sayang. Dalam banyak budaya lokal, makanan hadir dalam hampir setiap momen penting kehidupan—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga peringatan kematian. Misalnya, tradisi menyajikan Tumpeng dalam acara syukuran di Jawa bukan hanya soal hidangan, tetapi simbol doa, kebersamaan, dan rasa terima kasih.
Selain itu, kebiasaan membawa makanan saat berkunjung ke rumah kerabat juga menjadi budaya yang kuat. Hidangan khas seperti Rendang dari Sumatra Barat, Gudeg dari Yogyakarta, atau Pempek dari Palembang sering dijadikan oleh-oleh sebagai tanda perhatian kepada keluarga atau sahabat.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga di Indonesia masih didominasi oleh konsumsi makanan dan minuman. Dalam beberapa tahun terakhir, porsi pengeluaran untuk makanan bahkan mencapai lebih dari 40 persen dari total pengeluaran rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa makanan memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
Selain itu, survei dari berbagai platform kuliner dan layanan pesan antar juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sering memesan makanan untuk dibagikan kepada keluarga atau teman. Momentum seperti bulan Ramadhan, hari raya, atau acara keluarga biasanya ditandai dengan meningkatnya aktivitas berbagi makanan.
Secara antropologis, makanan memang memiliki fungsi sosial yang kuat. Para peneliti budaya menyebut bahwa makan bersama dapat mempererat hubungan sosial, memperkuat rasa kebersamaan, dan membangun kepercayaan antarindividu. Tidak heran jika banyak hubungan di Indonesia terasa lebih akrab ketika seseorang mengajak makan bersama.
Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat dan digital, tradisi mengekspresikan kasih sayang lewat makanan tetap bertahan. Mulai dari mengirim makanan melalui layanan daring hingga memasak sendiri untuk orang tercinta, semuanya menjadi cara sederhana untuk mengatakan satu hal yang sama: “Aku peduli.”
Karena itu, tidak berlebihan jika banyak orang mengatakan bahwa bahasa cinta orang Indonesia adalah makanan. Di balik setiap hidangan yang dibagikan, tersimpan pesan perhatian, kehangatan, dan rasa sayang yang sering kali lebih kuat daripada kata-kata.
—0000—
*Dewan Redaksi Trigger.id



Tinggalkan Balasan