
Surabaya (Trigger.id) – Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh dalam ingatan sepak bola Ghana. Luka itu berasal dari malam dramatis di Johannesburg pada Piala Dunia 2010, ketika harapan seluruh Afrika untuk melihat wakilnya menembus semifinal Piala Dunia pupus hanya beberapa detik menjelang akhir pertandingan.
Saat itu, tim nasional Ghana berdiri di ambang sejarah. Namun keberuntungan berpihak kepada Uruguay yang akhirnya memenangkan adu penalti setelah laga penuh kontroversi dan emosi. Meski gagal melangkah lebih jauh, pencapaian hingga perempat final tetap menjadi tonggak terbesar dalam sejarah sepak bola Ghana sekaligus salah satu kisah paling berkesan dalam perjalanan Piala Dunia.
Enam belas tahun berselang, semangat itu kembali menyala.
Tim berjuluk Black Stars tersebut kembali hadir di panggung sepak bola dunia pada Piala Dunia 2026 dengan membawa ambisi besar untuk mengulang bahkan melampaui pencapaian terbaik mereka. Ini menjadi penampilan kelima Ghana di putaran final setelah sebelumnya tampil pada edisi 2006, 2010, 2014, dan 2022.
Berbeda dengan dua edisi terakhir yang berakhir di fase grup, kali ini Ghana datang dengan optimisme yang lebih besar. Kepercayaan diri itu tumbuh dari performa impresif selama kualifikasi zona Afrika. Mereka tampil dominan dengan menguasai Grup I, meraih delapan kemenangan dari sepuluh pertandingan dan memastikan tiket menuju putaran final dengan meyakinkan.
Untuk memperkuat peluang bersaing di level tertinggi, federasi sepak bola Ghana mengambil langkah berani dengan menunjuk pelatih berpengalaman asal Portugal, Carlos Queiroz. Sosok yang pernah menangani Portugal dan Iran di beberapa edisi Piala Dunia itu diharapkan mampu menghadirkan disiplin taktik sekaligus mentalitas kompetitif bagi skuad Black Stars.
Pengalaman Queiroz di panggung internasional menjadi modal berharga, terlebih Ghana akan menghadapi tantangan berat di Grup L. Mereka harus bersaing dengan Inggris yang sarat talenta, Kroasia yang berpengalaman mencapai final dan semifinal dalam dua edisi terakhir, serta Panama yang dikenal kerap memberi kejutan.
Meski berada di grup yang tidak mudah, Ghana memiliki sejumlah pemain yang siap menjadi pembeda. Kapten tim, Jordan Ayew, tetap menjadi figur sentral baik di dalam maupun luar lapangan. Selain itu, ada gelandang tangguh Thomas Partey yang menjadi motor permainan di lini tengah.
Di sektor serangan, kecepatan dan kreativitas akan menjadi andalan melalui Inaki Williams, Kamaldeen Sulemana, Antoine Semenyo, hingga Fatawu Issahaku. Kombinasi pemain berpengalaman dan generasi muda inilah yang diharapkan mampu membawa Ghana kembali menjadi kekuatan yang disegani.
Sejarah juga menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi skuad saat ini. Nama besar Asamoah Gyan masih dikenang sebagai ikon sepak bola Ghana sekaligus pencetak gol terbanyak negara tersebut di Piala Dunia dengan koleksi enam gol. Warisan itu kini menjadi motivasi bagi generasi baru Black Stars untuk menorehkan cerita mereka sendiri.
Bagi Ghana, Piala Dunia 2026 bukan sekadar partisipasi. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka masih menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Afrika. Setelah bertahun-tahun menunggu momen kebangkitan, Black Stars kembali menatap panggung dunia dengan keyakinan bahwa sejarah besar dapat terulang.
Dan seperti tahun 2010, seluruh Afrika akan kembali berharap pada bintang-bintang hitam yang berusaha bersinar terang di panggung sepak bola terbesar dunia. (ori)



Tinggalkan Balasan