
Madinah (Trigger.id) – Siang itu, senyum tak pernah lepas dari wajah Nur Aisiyah. Perempuan berusia 70 tahun asal Banjarnegara itu tampak begitu bahagia saat para petugas haji yang bertugas mendampingi jamaah lansia dan disabilitas datang mengunjunginya di hotel tempat ia menginap di kawasan Misfalah, Makkah.
Kebahagiaan itu bukan tanpa alasan. Setelah menunggu selama 13 tahun sejak didaftarkan anaknya pada 2013, akhirnya ia dapat menjejakkan kaki di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Namun perjalanan spiritual itu harus ia jalani seorang diri. Suami yang dahulu menjadi teman hidupnya telah lebih dulu berpulang menghadap Sang Pencipta.
“Ketika mendapat panggilan haji, saya senang sekali sampai menangis,” kenangnya.
Anaknya terus menguatkannya. Baginya, tidak semua orang memperoleh kesempatan menjadi tamu Allah. Kalimat sederhana itu terus terngiang hingga akhirnya ia benar-benar berada di Makkah.
Namun kebahagiaan tersebut juga dibarengi rasa cemas. Penglihatannya sudah tidak setajam dulu. Ingatannya pun sering kali memudar. Di usianya yang tidak lagi muda, ia sempat khawatir tidak mampu menjalani seluruh rangkaian ibadah seorang diri.
Kekhawatiran itu perlahan sirna ketika ia bertemu banyak orang yang tulus membantunya.
“Saya sering lupa. Tapi di sini saya bertemu orang-orang baik yang membimbing saya. Saya sampai menangis karena dikelilingi orang-orang baik,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Aisiyah, para petugas haji bukan sekadar petugas. Mereka menjadi anak, saudara, sekaligus keluarga yang senantiasa hadir ketika ia membutuhkan bantuan. Mereka mendorong kursi rodanya, menuntunnya menuju kamar mandi, membantu saat hendak beristirahat, bahkan mendampinginya selama menjalankan rangkaian ibadah.
Momen yang paling membekas baginya adalah ketika melaksanakan wukuf di Arafah. Karena kondisi fisiknya, ia mengikuti program safari wukuf yang difasilitasi petugas.
Sepanjang perjalanan, petugas mendampinginya, membimbing doa demi doa, hingga ia dapat menjalani puncak ibadah haji dengan tenang.
Di Padang Arafah, perempuan lanjut usia itu mengangkat kedua tangannya. Ia tidak hanya memohon ampunan bagi dirinya, tetapi juga mendoakan anak-anak, cucu-cucu, menantu, serta saudara-saudaranya.
Bahkan, ia juga mendoakan orang-orang yang tidak dikenalnya.
“Saya berdoa supaya semua yang ingin berhaji bisa dipanggil Allah seperti saya. Saat berdoa itu saya menangis lagi,” katanya lirih.
Kisah serupa juga dialami Rohaya, jamaah lansia asal Bekasi yang merasakan langsung perhatian para petugas haji.
Menurutnya, petugas tidak hanya membantu urusan ibadah, tetapi juga kebutuhan sehari-hari yang sering kali sulit dilakukan sendiri oleh para lansia.
“Mereka sering membangunkan saya, membantu mencuci pakaian, mengantarkan makanan, sampai mengantar ke kamar mandi. Semua baik sekali,” ujarnya.
Di balik senyum para jamaah lansia, terdapat para petugas yang bekerja tanpa banyak sorotan. Salah satunya adalah M. Ridho Prabowo, koordinator layanan lansia dan disabilitas di salah satu sektor pelayanan jamaah di Makkah.
Setiap hari ia bersama tim melakukan kunjungan, mendata kebutuhan jamaah, berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, hingga mendampingi berbagai aktivitas ibadah.
Bagi Ridho, tantangan terbesar bukanlah kelelahan fisik, melainkan menjaga keikhlasan hati.
“Melayani lansia itu seperti melayani orang tua sendiri. Apa pun kebutuhan mereka, kami berusaha memenuhinya dengan penuh kesabaran,” ujarnya.
Ia mengaku awalnya tidak menyangka akan ditempatkan pada layanan lansia dan disabilitas. Namun justru dari tugas itulah ia memperoleh pengalaman spiritual yang sangat berharga.
“Ternyata Allah memberikan jalan yang sangat baik. Pekerjaan ini bukan hanya soal tenaga, tetapi juga soal hati. Ada ikatan batin yang terbentuk ketika kita melayani mereka,” katanya.
Hal senada dirasakan Sri Lestari, petugas yang bertugas di kawasan Masjidil Haram. Setiap hari ia menjumpai jamaah lansia yang kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan.
Banyak di antara mereka baru pertama kali datang ke Makkah sehingga belum memahami kondisi lapangan yang luas dan kompleks.
Namun keberadaan berbagai fasilitas ramah lansia seperti kursi roda, buggy car, hingga layanan pendampingan membuat para jamaah tetap dapat menjalankan ibadah dengan nyaman.
Di balik jutaan manusia yang memadati Tanah Suci setiap musim haji, terdapat kisah-kisah kecil yang sering luput dari perhatian. Kisah tentang tangan-tangan yang menuntun langkah renta, tentang kesabaran yang menjadi bahasa pelayanan, dan tentang air mata haru para tamu Allah yang merasa tidak pernah sendirian.
Bagi Nur Aisiyah, perjalanan hajinya mungkin dimulai seorang diri. Namun di Tanah Suci, ia menemukan keluarga baru: orang-orang yang dengan tulus membantu dan melayani tanpa pamrih.
Di tengah lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, ia menemukan satu pelajaran sederhana namun mendalam: kebaikan selalu menemukan jalannya sendiri. (ian)



Tinggalkan Balasan