
Tel Aviv (Trigger.id) – Di tengah konflik yang terus memanas di perbatasan utara Israel, sebuah teknologi yang sempat digadang-gadang sebagai masa depan pertahanan udara justru menghadapi ujian berat. Sistem laser Iron Beam ternyata belum mampu sepenuhnya menghadang serangan drone yang diluncurkan oleh Hezbollah.
Dalam beberapa hari terakhir, puluhan pesawat tanpa awak dilaporkan menembus wilayah udara Israel. Alarm serangan berbunyi di kota-kota perbatasan seperti Kiryat Shmona dan Kibbutz Dafna. Namun sejumlah drone bahkan sempat terbang tanpa gangguan sebelum akhirnya dijatuhkan dengan cara konvensional—menggunakan helikopter atau tembakan senapan.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas Iron Beam, sistem laser yang selama ini diproyeksikan menjadi pelengkap pertahanan udara Israel bersama Iron Dome.
Iron Beam bekerja dengan menembakkan sinar laser berkekuatan tinggi ke target selama beberapa detik hingga merusak struktur objek dan menjatuhkannya. Teknologi ini dirancang untuk menghadapi ancaman ringan seperti drone atau roket kecil, dengan biaya intersepsi yang jauh lebih murah dibandingkan rudal pencegat.
Namun kenyataan di medan tempur tidak sesederhana itu. Jumlah unit sistem laser ini masih terbatas dan kemampuannya juga tidak dirancang untuk menghadapi rudal balistik berkecepatan tinggi.
Padahal Israel telah menanamkan investasi besar untuk teknologi tersebut. Kementerian Pertahanan Israel bersama perusahaan pertahanan Rafael Advanced Defense Systems dan Elbit Systems bahkan menandatangani kontrak bernilai miliaran syikal untuk memperluas produksinya.
Menurut analis pertahanan dan mantan komandan sistem pertahanan udara Israel, Ran Kochav, teknologi laser memang merupakan terobosan penting. Namun ekspektasi terhadapnya selama ini dinilai terlalu besar.
Perkembangan drone yang semakin kecil, murah, dan mudah diproduksi membuat ancaman udara semakin sulit ditangani. Fenomena serupa juga terlihat dalam konflik Rusia-Ukraina War, di mana drone sederhana sering kali mampu menembus sistem pertahanan canggih.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hezbollah, Naim Qassem, menyatakan serangan kelompoknya merupakan bentuk perlawanan terhadap agresi Israel yang menurutnya telah berlangsung lama.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam perang modern, teknologi canggih tidak selalu menjadi jawaban instan. Di langit konflik Timur Tengah hari ini, drone kecil justru mampu membuka celah dalam sistem pertahanan yang dibangun dengan biaya miliaran dolar. (ian)



Tinggalkan Balasan