
Washington (Trigger.id) – Aksi demonstrasi besar kembali mengguncang Amerika Serikat dalam gelombang ketiga unjuk rasa bertajuk “No Kings” yang melibatkan jutaan warga di berbagai kota. Massa turun ke jalan sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai kontroversial.
Mengutip laporan BBC, para demonstran memprotes sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari konflik dengan Iran, pengetatan imigrasi oleh aparat federal, hingga meningkatnya biaya hidup.
Di ibu kota Washington, D.C., ribuan orang memadati pusat kota. Massa berkumpul di kawasan Lincoln Memorial dan National Mall, menyuarakan tuntutan mereka sepanjang hari. Aksi serupa juga terjadi di New York City, khususnya di Times Square, hingga polisi harus menutup sejumlah ruas jalan.
Para peserta aksi membawa berbagai simbol protes, termasuk boneka figur Trump dan Wakil Presiden JD Vance, sambil menyerukan agar keduanya dilengserkan. Demonstrasi juga meluas ke kota-kota lain seperti Boston, Nashville, Houston, hingga kota kecil di berbagai negara bagian.
Salah satu titik penting aksi berlangsung di Minnesota, dipicu kematian dua warga, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, yang diduga terkait tindakan aparat imigrasi federal. Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik dan memperkuat gelombang protes terhadap kebijakan imigrasi pemerintah.
Sejumlah tokoh politik dari Partai Demokrat turut berpidato dalam aksi di St. Paul. Bahkan, musisi legendaris Bruce Springsteen ikut tampil membawakan lagu bernuansa kritik sosial.
Aksi “No Kings” kali ini disebut melanjutkan demonstrasi besar sebelumnya yang sempat menarik hingga jutaan peserta secara nasional. Meski beberapa negara bagian mengerahkan Garda Nasional, penyelenggara menegaskan bahwa aksi berlangsung damai.
Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, Trump disebut memperluas kewenangan presiden melalui berbagai perintah eksekutif, termasuk pembongkaran sejumlah lembaga federal dan pengerahan pasukan keamanan ke berbagai kota, meski mendapat penolakan dari pemerintah negara bagian.
Trump sendiri membantah tudingan bertindak otoriter. Dalam wawancara sebelumnya, ia menegaskan bahwa langkah-langkahnya bertujuan memulihkan kondisi negara yang tengah menghadapi krisis.
Namun, para kritikus menilai kebijakan tersebut berpotensi melanggar konstitusi dan mengancam demokrasi. Gelombang protes pun tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga meluas ke berbagai kota dunia seperti Paris, London, dan Lisbon, dengan tuntutan serupa: menghentikan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat serta menjaga nilai-nilai demokrasi. (ian)



Tinggalkan Balasan