
Surabaya (Trigger.id) – Di sebuah sudut Pulau Madura, tepatnya di Sumenep, perjalanan itu bermula. Bukan dari gemerlap, bukan pula dari panggung besar. Melainkan dari kesederhanaan, doa seorang ibu, dan tekad yang tak banyak bersuara. Kisah itulah yang dirangkum dalam buku Langkah Sunyi Menuju Puncak, sebuah biografi yang merekam jejak panjang Akhmad Munir menuju puncak dunia jurnalistik nasional.
Ditulis oleh wartawan Abdul Hakim, buku setebal 266 halaman ini tidak sekadar memaparkan daftar jabatan atau capaian. Ia menyelami makna di balik setiap proses—tentang ketekunan, kesabaran, dan keyakinan yang tumbuh perlahan namun pasti.
Peluncuran dan bedah buku yang digelar di Dyandra Convention Center menjadi momen reflektif. Di sana, Munir membuka lembaran hidupnya dengan jujur. Ia mengaku tak pernah membayangkan akan menjadi penulis, apalagi menempati posisi penting di dunia pers. Namun satu hal yang ia yakini sejak awal: doa ibunya adalah fondasi dari setiap langkah yang ia tempuh.
“Kesuksesan saya yang pertama adalah doa ibu,” ujarnya, sederhana, namun sarat makna.
Karier Munir bukan kisah tentang lompatan cepat. Ia memulainya dari titik paling dasar—sebagai pembantu koresponden di Sumenep, dengan penghasilan yang bahkan tak menentu. Dari sana, ia menapaki setiap jenjang secara bertahap: menjadi koresponden, karyawan tetap, hingga dipercaya menduduki posisi strategis.
Langkah-langkah kecil itu perlahan membawanya ke ruang-ruang penting. Ia pernah menjabat Kepala Biro Antara Surabaya, kemudian naik menjadi direktur pemberitaan, direktur utama LKBN ANTARA, hingga ketua dewan pengawas. Di organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), ia pun meniti jalur yang sama—dari sekretaris, anggota dewan kehormatan, hingga akhirnya dipercaya sebagai Ketua Umum PWI Pusat.
“Tidak ada satu pun jabatan yang saya dapat dengan melompat. Semua saya jalani dari bawah,” tuturnya menegaskan.
Menariknya, prinsip itu juga ia pegang di luar dunia jurnalistik. Dalam organisasi olahraga seperti PSSI Jawa Timur, Persebaya Surabaya, hingga KONI Jawa Timur, Munir tetap memilih memulai dari posisi dasar sebelum dipercaya mengemban peran yang lebih besar.
Bagi Munir, kesuksesan bukanlah hasil dari ambisi mengejar jabatan. Justru sebaliknya, ia mengaku tak pernah secara aktif mengajukan diri untuk posisi tertentu. Kepercayaan itu datang dengan sendirinya, seiring konsistensi dan dedikasi yang ia tunjukkan.
“Saya tidak pernah mengejar jabatan. Semua datang dari kepercayaan,” ungkapnya.
Dalam perjalanannya, ia juga mengalami fase-fase yang ia sebut sebagai “keanehan”—saat harus menjalankan berbagai peran sekaligus. Namun alih-alih menjadi beban, situasi itu justru membuka jalan baru yang membawanya ke jenjang berikutnya.
Melalui kisah hidupnya, Munir seperti ingin menyampaikan pesan sederhana namun kuat: bahwa kesuksesan tidak lahir dari proses instan. Ia tumbuh dari kesungguhan menjalani setiap tahap, dari doa yang tak pernah putus, dan dari keyakinan bahwa setiap langkah kecil memiliki arti.
“Selama kita menekuni apa yang kita lakukan, jalan itu akan terbuka dengan sendirinya,” ucapnya.
Dan mungkin, di situlah makna “langkah sunyi” itu berada—tak selalu terlihat, tak selalu terdengar, namun pasti mengantarkan pada puncak bagi mereka yang setia menjalaninya. (ian)



Tinggalkan Balasan