
Madinah (Trigger.id) – Langkah itu memang tak lagi sekuat dulu. Tubuh renta tersebut kini lebih banyak bersandar pada kursi roda. Namun semangat Mardijiyono atau yang akrab disapa Mbah Mardi justru tampak begitu kokoh saat bersiap meninggalkan Madinah menuju Makkah untuk menjalani rangkaian ibadah haji.
Di usianya yang telah mencapai 103 tahun, jemaah asal Indonesia itu masih menyimpan tekad besar untuk menyempurnakan rukun Islam kelima. Wajahnya tampak tenang ketika petugas perlahan mendorong kursi rodanya menuju bus keberangkatan di Hotel Makarem Haram View Suites Madinah, Senin sore waktu Arab Saudi.
Sejak selepas Ashar, Mbah Mardi sudah duduk di dalam bus bersama sejumlah jemaah lanjut usia lainnya. Sementara sebagian jemaah masih menunaikan salat di Masjid Nabawi, ia memilih menunggu dengan sabar sebelum rombongan bergerak menuju Makkah.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan kota. Bagi Mbah Mardi, perjalanan tersebut adalah jalan panjang menuju impian spiritual yang mungkin telah dipendam selama puluhan tahun.
Petugas haji tampak sigap membantu setiap proses mobilitasnya, mulai dari keluar hotel hingga naik ke bus. Rombongan kloter YIA 9 yang membawanya dijadwalkan singgah di Bir Ali atau Masjid Dzulhulaifah untuk mengambil miqat dan niat ihram sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.
Ketua Sektor 1 Madinah, Ramlan Sudarto, mengatakan rombongan diberangkatkan lebih awal karena seluruh jemaah sudah siap. Langkah itu dilakukan agar para jemaah, khususnya lansia, tidak terlalu lama menunggu di dalam bus.
Di tengah keterbatasan fisik, kondisi kesehatan Mbah Mardi kini berangsur stabil setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi. Selama masa pemulihan, ia disebut tetap kooperatif dan memiliki selera makan yang baik.
“Makanannya enak, saya suka,” ucapnya singkat sambil tersenyum ringan.
Kalimat sederhana itu terasa menggambarkan ketulusan seorang lansia yang menikmati setiap proses perjalanan hidupnya tanpa banyak keluhan.
Selama berada di Madinah, Mbah Mardi masih sempat menjalani berbagai ibadah. Ia melaksanakan salat di Masjid Nabawi, berziarah ke Raudhah, hingga menyampaikan salam di makam Rasulullah SAW.
Di balik usianya yang melampaui satu abad, tersimpan cara hidup yang sederhana namun penuh makna. Mbah Mardi mengaku selalu berusaha menjalani hidup dengan ikhlas dan bahagia dalam keadaan apa pun. Ia juga mengatakan tidak pernah merokok sepanjang hidupnya.
Kini, perjalanan menuju Makkah menjadi babak baru bagi Mbah Mardi untuk menapaki fase paling penting dalam ibadah haji, termasuk persiapan menghadapi puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Kisahnya bukan hanya tentang seorang lansia yang pergi berhaji. Lebih dari itu, Mbah Mardi menghadirkan pelajaran tentang keteguhan, kesabaran, dan keyakinan bahwa usia bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan suci menuju Baitullah. (ian)



Tinggalkan Balasan