
Denpasar (Trigger.id) – Di tengah kehidupan yang serba cepat, masyarakat sering kali menilai kondisi seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan. Selama seseorang mampu berjalan, berbicara, atau beraktivitas tanpa alat bantu, ia dianggap sehat dan tidak membutuhkan perlakuan khusus. Padahal, tidak semua keterbatasan dapat dikenali dengan mata. Di balik wajah yang terlihat bugar, ada jutaan orang yang setiap saat hidup berdampingan dengan penyakit kronis yang dapat berubah menjadi kondisi darurat tanpa tanda-tanda yang kasatmata.
Gagasan mengenai pentingnya membangun sistem yang lebih peka terhadap penyandang disabilitas tak tampak inilah yang mengantarkan Gabriella Sunsugos Sianturi, mahasiswa Universitas Udayana, meraih Juara Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang digelar pada akhir Juni 2026. Melalui esai berjudul Saat “Sehat” Menipu: Membangun Sistem yang Mampu Melihat Disabilitas Tak Tampak, Gabriella mengajak publik melihat persoalan disabilitas dari sudut pandang yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Menurut Gabriella, salah satu tantangan terbesar penyandang disabilitas tak tampak adalah minimnya pengakuan sosial. Berbeda dengan penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, tongkat, atau alat bantu lainnya, mereka yang hidup dengan penyakit autoimun, epilepsi, gangguan saraf, maupun sejumlah penyakit kardiovaskular sering kali terlihat sehat secara fisik. Padahal, sewaktu-waktu mereka dapat mengalami kelelahan ekstrem, kehilangan kesadaran, tremor, hingga kondisi medis yang mengancam keselamatan.Ironisnya, ruang publik masih cenderung mengukur kebutuhan seseorang berdasarkan indikator visual. Akibatnya, banyak penyandang disabilitas tak tampak harus berulang kali menjelaskan kondisi kesehatannya hanya untuk memperoleh bantuan atau akomodasi yang sebenarnya merupakan hak mereka. Dalam situasi darurat, kondisi ini tentu menjadi persoalan serius karena tidak semua orang mampu menjelaskan keadaan dirinya ketika serangan penyakit terjadi.
Persoalan tersebut bukanlah isu yang sepele. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari satu miliar penduduk dunia hidup dengan disabilitas. Sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas tak tampak yang menghadapi tantangan ganda, mulai dari kurangnya pengakuan hingga terbatasnya akses terhadap pelayanan publik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Selain menghadapi risiko kesehatan, penyandang disabilitas tak tampak juga dibayangi tekanan psikologis. Tidak sedikit yang memilih menyembunyikan kondisi medisnya karena takut mendapat stigma atau diskriminasi. Namun, ketika membutuhkan bantuan, mereka justru dihadapkan pada tuntutan untuk membuktikan bahwa keterbatasan tersebut benar-benar ada. Dilema antara menjaga privasi dan memperoleh perlindungan inilah yang menjadi salah satu persoalan mendasar.
Indonesia sebenarnya telah memiliki Kartu Penyandang Disabilitas (KPD) sebagai bentuk pengakuan administratif sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016. Sejumlah komunitas juga mulai memperkenalkan penggunaan lanyard sebagai penanda bagi penyandang disabilitas tak tampak. Sayangnya, kedua instrumen tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan di lapangan.
Lanyard masih sebatas simbol bahwa seseorang membutuhkan bantuan dan belum diakui secara seragam di berbagai layanan publik. Sementara itu, KPD lebih berfungsi sebagai identitas administratif tanpa memuat informasi mengenai kebutuhan akomodasi yang diperlukan pemegangnya. Akibatnya, penyandang tetap harus menjelaskan kondisi kesehatannya secara langsung ketika membutuhkan pelayanan.
Melalui esainya, Gabriella menawarkan sebuah gagasan yang ia sebut VISI, akronim dari Verifikasi Digital, Identitas Dua Lapis, dan Sosialisasi. Konsep ini dirancang untuk menghadirkan sistem pelayanan yang lebih inklusif tanpa mengabaikan perlindungan data pribadi penyandang.Dalam konsep tersebut, identitas dua lapis menjadi pelengkap KPD dengan menyediakan informasi mengenai kebutuhan akomodasi yang hanya dapat diakses oleh petugas berwenang dalam kondisi tertentu. Pendekatan ini memungkinkan privasi penyandang tetap terjaga, namun pelayanan dapat diberikan secara lebih cepat dan tepat.
Gagasan berikutnya adalah pembangunan sistem verifikasi digital yang terintegrasi dengan fasilitas kesehatan dan layanan publik. Melalui platform ini, petugas dapat mengetahui informasi penting, seperti kebutuhan khusus penyandang, kontak darurat, hingga prosedur penanganan apabila terjadi kondisi medis tertentu. Karena banyak penyakit bersifat dinamis, sistem digital juga memungkinkan pembaruan data dilakukan secara berkala sehingga informasi yang tersedia selalu relevan.
Tak kalah penting, Gabriella menekankan perlunya edukasi yang lebih luas kepada masyarakat. Selama disabilitas masih dipersepsikan sebatas keterbatasan fisik yang tampak, stigma akan terus menjadi penghalang utama terciptanya ruang publik yang inklusif. Edukasi perlu menyasar masyarakat umum, petugas pelayanan publik, hingga tenaga kesehatan agar seluruh pihak memahami bahwa tidak semua disabilitas dapat dikenali secara kasatmata.
Tentu, membangun sistem seperti VISI bukan tanpa tantangan. Keamanan data pribadi, standar klasifikasi kebutuhan penyandang, kesiapan infrastruktur digital, hingga koordinasi antarlembaga menjadi pekerjaan besar yang harus disiapkan pemerintah. Namun menurut Gabriella, tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mempertahankan sistem yang belum mampu menjangkau seluruh kelompok masyarakat secara adil.
Pada akhirnya, ukuran sebuah negara yang inklusif bukan hanya ditentukan oleh banyaknya fasilitas yang dibangun, melainkan oleh kemampuannya mengenali kebutuhan setiap warganya, termasuk mereka yang selama ini tersembunyi di balik label “terlihat sehat”. Sebab, tidak seorang pun seharusnya mempertaruhkan keselamatannya hanya karena kondisi yang dialaminya tidak tampak oleh mata.
Melalui karya yang mengantarkannya menjadi juara nasional, Gabriella mengingatkan bahwa inklusivitas bukan sekadar menyediakan akses fisik, melainkan juga membangun sistem yang mampu memahami keberagaman kondisi manusia. Sebuah pesan sederhana, tetapi penting: tidak semua luka dapat dilihat, dan tidak semua keterbatasan tampak di permukaan. (wah)



Tinggalkan Balasan