• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Disabilitas Tak Tampak: Yang Tak Terlihat, yang Terabaikan

2 Juli 2026 by wah Tinggalkan Komentar

Gabriella Sunsugos Sianturi, (dua dari kiri) mahasiswa Universitas Udayana, meraih Juara Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026. Foto: Ist.

Denpasar (Trigger.id) – Di tengah kehidupan yang serba cepat, masyarakat sering kali menilai kondisi seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan. Selama seseorang mampu berjalan, berbicara, atau beraktivitas tanpa alat bantu, ia dianggap sehat dan tidak membutuhkan perlakuan khusus. Padahal, tidak semua keterbatasan dapat dikenali dengan mata. Di balik wajah yang terlihat bugar, ada jutaan orang yang setiap saat hidup berdampingan dengan penyakit kronis yang dapat berubah menjadi kondisi darurat tanpa tanda-tanda yang kasatmata.

Gagasan mengenai pentingnya membangun sistem yang lebih peka terhadap penyandang disabilitas tak tampak inilah yang mengantarkan Gabriella Sunsugos Sianturi, mahasiswa Universitas Udayana, meraih Juara Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 yang digelar pada akhir Juni 2026. Melalui esai berjudul Saat “Sehat” Menipu: Membangun Sistem yang Mampu Melihat Disabilitas Tak Tampak, Gabriella mengajak publik melihat persoalan disabilitas dari sudut pandang yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Menurut Gabriella, salah satu tantangan terbesar penyandang disabilitas tak tampak adalah minimnya pengakuan sosial. Berbeda dengan penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, tongkat, atau alat bantu lainnya, mereka yang hidup dengan penyakit autoimun, epilepsi, gangguan saraf, maupun sejumlah penyakit kardiovaskular sering kali terlihat sehat secara fisik. Padahal, sewaktu-waktu mereka dapat mengalami kelelahan ekstrem, kehilangan kesadaran, tremor, hingga kondisi medis yang mengancam keselamatan.Ironisnya, ruang publik masih cenderung mengukur kebutuhan seseorang berdasarkan indikator visual. Akibatnya, banyak penyandang disabilitas tak tampak harus berulang kali menjelaskan kondisi kesehatannya hanya untuk memperoleh bantuan atau akomodasi yang sebenarnya merupakan hak mereka. Dalam situasi darurat, kondisi ini tentu menjadi persoalan serius karena tidak semua orang mampu menjelaskan keadaan dirinya ketika serangan penyakit terjadi.

Persoalan tersebut bukanlah isu yang sepele. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari satu miliar penduduk dunia hidup dengan disabilitas. Sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas tak tampak yang menghadapi tantangan ganda, mulai dari kurangnya pengakuan hingga terbatasnya akses terhadap pelayanan publik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Selain menghadapi risiko kesehatan, penyandang disabilitas tak tampak juga dibayangi tekanan psikologis. Tidak sedikit yang memilih menyembunyikan kondisi medisnya karena takut mendapat stigma atau diskriminasi. Namun, ketika membutuhkan bantuan, mereka justru dihadapkan pada tuntutan untuk membuktikan bahwa keterbatasan tersebut benar-benar ada. Dilema antara menjaga privasi dan memperoleh perlindungan inilah yang menjadi salah satu persoalan mendasar.

Indonesia sebenarnya telah memiliki Kartu Penyandang Disabilitas (KPD) sebagai bentuk pengakuan administratif sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016. Sejumlah komunitas juga mulai memperkenalkan penggunaan lanyard sebagai penanda bagi penyandang disabilitas tak tampak. Sayangnya, kedua instrumen tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan di lapangan.

Lanyard masih sebatas simbol bahwa seseorang membutuhkan bantuan dan belum diakui secara seragam di berbagai layanan publik. Sementara itu, KPD lebih berfungsi sebagai identitas administratif tanpa memuat informasi mengenai kebutuhan akomodasi yang diperlukan pemegangnya. Akibatnya, penyandang tetap harus menjelaskan kondisi kesehatannya secara langsung ketika membutuhkan pelayanan.

Melalui esainya, Gabriella menawarkan sebuah gagasan yang ia sebut VISI, akronim dari Verifikasi Digital, Identitas Dua Lapis, dan Sosialisasi. Konsep ini dirancang untuk menghadirkan sistem pelayanan yang lebih inklusif tanpa mengabaikan perlindungan data pribadi penyandang.Dalam konsep tersebut, identitas dua lapis menjadi pelengkap KPD dengan menyediakan informasi mengenai kebutuhan akomodasi yang hanya dapat diakses oleh petugas berwenang dalam kondisi tertentu. Pendekatan ini memungkinkan privasi penyandang tetap terjaga, namun pelayanan dapat diberikan secara lebih cepat dan tepat.

Gagasan berikutnya adalah pembangunan sistem verifikasi digital yang terintegrasi dengan fasilitas kesehatan dan layanan publik. Melalui platform ini, petugas dapat mengetahui informasi penting, seperti kebutuhan khusus penyandang, kontak darurat, hingga prosedur penanganan apabila terjadi kondisi medis tertentu. Karena banyak penyakit bersifat dinamis, sistem digital juga memungkinkan pembaruan data dilakukan secara berkala sehingga informasi yang tersedia selalu relevan.

Tak kalah penting, Gabriella menekankan perlunya edukasi yang lebih luas kepada masyarakat. Selama disabilitas masih dipersepsikan sebatas keterbatasan fisik yang tampak, stigma akan terus menjadi penghalang utama terciptanya ruang publik yang inklusif. Edukasi perlu menyasar masyarakat umum, petugas pelayanan publik, hingga tenaga kesehatan agar seluruh pihak memahami bahwa tidak semua disabilitas dapat dikenali secara kasatmata.

Tentu, membangun sistem seperti VISI bukan tanpa tantangan. Keamanan data pribadi, standar klasifikasi kebutuhan penyandang, kesiapan infrastruktur digital, hingga koordinasi antarlembaga menjadi pekerjaan besar yang harus disiapkan pemerintah. Namun menurut Gabriella, tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mempertahankan sistem yang belum mampu menjangkau seluruh kelompok masyarakat secara adil.

Pada akhirnya, ukuran sebuah negara yang inklusif bukan hanya ditentukan oleh banyaknya fasilitas yang dibangun, melainkan oleh kemampuannya mengenali kebutuhan setiap warganya, termasuk mereka yang selama ini tersembunyi di balik label “terlihat sehat”. Sebab, tidak seorang pun seharusnya mempertaruhkan keselamatannya hanya karena kondisi yang dialaminya tidak tampak oleh mata.

Melalui karya yang mengantarkannya menjadi juara nasional, Gabriella mengingatkan bahwa inklusivitas bukan sekadar menyediakan akses fisik, melainkan juga membangun sistem yang mampu memahami keberagaman kondisi manusia. Sebuah pesan sederhana, tetapi penting: tidak semua luka dapat dilihat, dan tidak semua keterbatasan tampak di permukaan. (wah)

Share This :

Ditempatkan di bawah: nusantara, update Ditag dengan:Beswan Djarum 2026, Disabilitas, Essay Contest, kesehatan

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Logo HUT Ke-81 Jatim Tegaskan Arah Pembangunan Berkelanjutan

4 Oktober 2026 By admin

Kemkomdigi : Notifikasi Tak Cukup, Operator Harus Lindungi Sisa Kuota Pelanggan

4 Oktober 2026 By admin

KCL Singhasari Siapkan Dua Magister Baru, Fokus Perkuat Keamanan Siber

3 Oktober 2026 By admin

Dekananto Eko Purwono Dipercaya Jadi Kapolda Jatim

3 Oktober 2026 By admin

“Batik Berlayar” Merawat Tradisi Menggairahkan Ekonomi

2 Oktober 2026 By admin

Gubernur Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 30 November 2026

2 Oktober 2026 By admin

Jelang Konferensi PWI Jatim, DPS Keluar, Masa Sanggah hingga 2 Oktober 2026

1 Oktober 2026 By admin

PBNU Umumkan 210 Pengurus Periode 2026-2031, Gus Kikin Tekankan Pemerataan Kader

1 Oktober 2026 By isa

BAZNAS Jatim-UNUSA Perkuat Sinergi, Dorong Beasiswa, Riset, dan Pemberdayaan UMKM

1 Oktober 2026 By admin

‘Apartemen’ Lapas Cibinong Tak Tercatat Aset Negara. Siapa Donaturnya ?

1 Oktober 2026 By admin

Kenali Influenza A pada Anak: Gejala dan Cara Cegah Penularan

30 September 2026 By admin

Sambut Allergy Awareness Day, Morinaga Soya Rayakan Beragam Potensi Anak di Surabaya dan Malang

30 September 2026 By zam

Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Dibuka Hari Ini, Gratis Selama 14 Hari

30 September 2026 By zam

Gaya Hidup Tak Sehat Picu Serangan Jantung Usia Muda

29 September 2026 By admin

Rumah Kaca Sekolah Bumi Shalawat Jadi Laboratorium Agrikultur Modern

29 September 2026 By admin

Tips Memilih Daging Sapi Aman dan Berkualitas

29 September 2026 By admin

Jelang Indonesia vs Malaysia, GBK Semarak Hiburan Suporter

28 September 2026 By admin

Syahrini 7 Tahun Setelah Jaga Anak dan Reino Barack

28 September 2026 By admin

Opera Kolosal “Merah Putih Bertanya” Refleksi Perobekan Bendera

27 September 2026 By admin

Manasik Haji 2027 Dimulai Lebih Awal

27 September 2026 By admin

Guruh Soekarnoputra, Merawat Warna Budaya Indonesia Sampai Akhir Hayat

26 September 2026 By admin

Beasiswa Khofifah ke Al Azhar, Santri Jatim Menorehkan Prestasi di Kairo

26 September 2026 By admin

Jatim Bidik Pasar Arab Saudi, Potensi Transaksi Misi Dagang Capai Rp 6,7 Triliun

25 September 2026 By admin

Rebut Emas Pertama Asian Games 2026, Prabowo Telepon Tim Bulu Tangkis

25 September 2026 By admin

Memilih Yang Benar Dan Tawakal

25 September 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Veda Pratama Ikut Kualifikasi Moto3 Mandalika
  • Cium Bau Gas LPG ? Jangan Nyalakan Sakelar, Ini Langkah Aman Mengatasinya
  • Biaya Haji 2027 Turun Rp 3,4 Juta, Pelunasan Jemaah Jadi Rp 23 Juta
  • 1.000 Guru TK, RA, dan TPQ Jatim Dapat Kacamata Gratis
  • Taisei Marukawa, Mimpi Garuda dari Tanah Sakura

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.