
Surabaya (Trigger.id) – Penunjukan Zinedine Zidane sebagai pelatih baru Timnas Prancis seharusnya menjadi kabar besar tentang sepak bola. Legenda Les Bleus itu dipercaya menggantikan Didier Deschamps, yang telah menangani Prancis selama 14 tahun dan mempersembahkan gelar Piala Dunia serta UEFA Nations League.
Namun, kabar tersebut justru diikuti perdebatan di luar lapangan, terutama setelah agama Islam yang dianut Zidane ikut dipersoalkan.
Zidane bukan nama asing bagi publik Prancis. Ia pernah menjadi bagian penting dari generasi emas Les Bleus sebagai pemain dan kini kembali ke tim nasional dengan peran yang jauh lebih besar. Karena itu, kedatangannya semestinya dipandang sebagai awal era baru setelah Deschamps. Namun, sejumlah pihak justru menyeret keyakinan pribadi Zidane ke dalam pembahasan mengenai kelayakannya memimpin tim nasional.
Sorotan tersebut kemudian memunculkan tudingan adanya sentimen Islamofobia. Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) ikut menjadi sasaran pertanyaan terkait keputusan memilih Zidane. Polemik ini terasa janggal karena agama merupakan ranah pribadi dan tidak berkaitan langsung dengan kemampuan seseorang dalam merancang strategi, memimpin ruang ganti, ataupun membawa tim meraih prestasi.
Pembelaan pun datang dari kalangan politik Prancis. Anggota parlemen dari La France Insoumise, Abdelkader Lahmar, mempertanyakan mengapa agama Zidane harus dipersoalkan ketika ia ditunjuk sebagai pelatih. Ia menyoroti bahwa agama para pelatih Prancis sebelumnya tidak menjadi bahan pertanyaan ketika mereka menerima jabatan tersebut. Bagi Lahmar, standar berbeda terhadap Zidane justru menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar daripada sekadar sepak bola.
Di sisi lain, FFF tetap melangkah tanpa membiarkan polemik tersebut mengganggu proyek baru Les Bleus. Zidane juga mulai membentuk tim kepelatihannya dengan membawa sejumlah sosok yang pernah bekerja bersamanya, termasuk David Bettoni dan Hamidou Msaidie, sementara Fabien Barthez dipercaya menangani penjaga gawang. Fokus utama mereka kini adalah mempersiapkan Prancis menghadapi tantangan kompetitif di depan.
Pada akhirnya, penunjukan Zidane menghadirkan pesan yang lebih luas daripada sekadar pergantian pelatih. Rekam jejak, kepemimpinan, dan kemampuannya di lapangan seharusnya menjadi ukuran utama, bukan keyakinan pribadinya. Zidane kini menghadapi tugas besar untuk meneruskan standar tinggi yang ditinggalkan Deschamps. Jika ia berhasil, jawaban terbaik terhadap segala kontroversi bukanlah perdebatan panjang, melainkan prestasi bersama Timnas Prancis. (ori)



Tinggalkan Balasan