
Ilustrasi Foto :Suasana lomba memasak Agustusan 2026 di Perum Pondok Mulia, Kel Pandanwangi, Kec Blimbing, Kota Malang.Dari kiri, Ferry Agung Rayendra S.Ked (baju kotak), Ir Atok P (membungkuk) dan Drh Rifaie (kaos merah, pemenang juara 2).
Malang (Trigger-id) – Rutinitas sehari-hari yang padat, pekerjaan yang menumpuk, serta tuntutan yang datang silih berganti dapat membuat seseorang mengalami kejenuhan. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut bisa memengaruhi suasana hati, produktivitas, hingga kualitas hubungan dengan orang lain.Di tengah kesibukan tersebut, melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memberikan jeda bagi pikiran. Salah satunya adalah memasak.
Bagi sebagian orang, memasak mungkin hanya dipandang sebagai aktivitas untuk menyiapkan makanan. Namun, kegiatan mulai dari memilih bahan, memotong sayuran, meracik bumbu, mengolah makanan hingga menyajikannya ternyata juga dapat memberikan pengalaman psikologis yang positif.Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, yang merupakan konselor Well-Being Services di BINUS, menjelaskan memasak dapat membantu seseorang mengurangi stres, terutama apabila aktivitas tersebut memang disukai dan dilakukan sebagai hobi.
“Ketika kita memasak itu ada kepuasan tersendiri. Rasa puas dapat semakin kuat ketika makanan yang dibuat mendapat apresiasi dari orang lain,” jelas Ikhsan Bella Persada MPsi, mengutip laman KlikDokter.com.Dijelaskan, salah satu alasan memasak dapat terasa menenangkan adalah karena aktivitas tersebut menuntut perhatian terhadap berbagai hal. Seseorang harus mengikuti resep, menakar bahan, mengatur suhu, memperhatikan tekstur, mencicipi makanan, kemudian melakukan penyesuaian jika diperlukan.
Rangkaian aktivitas tersebut membuat perhatian seseorang tertuju pada apa yang sedang dikerjakan. Dalam konteks ini, memasak dapat menjadi aktivitas yang membantu seseorang mengambil jeda dari pikiran mengenai pekerjaan atau persoalan lain.Manfaat psikososial dari aktivitas memasak juga telah diteliti. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Health Education & Behavior menganalisis 11 penelitian mengenai intervensi memasak pada orang dewasa.
Hasilnya menunjukkan adanya manfaat positif terhadap aspek psikososial, termasuk interaksi sosial, harga diri, kualitas hidup, dan suasana hati. Penelitian lain yang dimuat dalam The Journal of Creative Behavior juga menemukan bahwa memasak dapat menjadi sarana mengekspresikan kreativitas, kesempatan bersosialisasi, serta aktivitas yang berkaitan dengan perbaikan suasana hati.
Frekuensi memasak memiliki korelasi kecil tetapi signifikan dengan sejumlah aspek kesejahteraan psikologis, seperti kemampuan mengelola lingkungan, hubungan positif dengan orang lain, dan penerimaan diri.Artinya, memasak memang berpotensi menjadi aktivitas self-care, tetapi tidak tepat jika dianggap sebagai pengganti terapi psikologis bagi seseorang yang mengalami gangguan mental.
Berikut aspek positif bagi yang hobi memasak :1. Membantu Meredakan StresMemotong bahan, menguleni adonan, mengaduk masakan, atau menyiapkan hidangan dapat menjadi saluran aktivitas yang membuat seseorang sejenak mengalihkan perhatian dari tekanan sehari-hari.Ketika aktivitas tersebut dilakukan dengan santai dan tanpa target yang berlebihan, proses memasak dapat memberikan pengalaman menyenangkan.Sebaliknya, jika dilakukan terburu-buru karena dikejar waktu, memasak justru berpotensi menjadi sumber stres baru.
2. Melatih KesabaranMasakan tidak langsung jadi setelah bahan-bahan diletakkan di meja. Ada proses yang harus dilalui, mulai dari mencuci dan memotong bahan, meracik bumbu, memasak, hingga menunggu makanan matang.Proses tersebut secara tidak langsung mengajarkan pentingnya menikmati tahapan, bukan hanya mengejar hasil akhir.Kebiasaan sederhana seperti menunggu adonan mengembang atau memastikan makanan matang dengan sempurna dapat menjadi latihan untuk lebih sabar menghadapi proses dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menyalurkan KreativitasDapur dapat menjadi ruang bereksperimen. Seseorang bisa mencoba resep baru, mengombinasikan bahan, mengatur tampilan makanan, atau memodifikasi resep sesuai selera.Pengalaman tersebut memberi kesempatan bagi otak untuk berpikir kreatif. Penelitian mengenai memasak dan kesejahteraan juga menemukan bahwa kreativitas merupakan salah satu tema utama yang dirasakan peserta ketika menjadikan memasak sebagai aktivitas sehari-hari.
4. Memberikan Rasa PencapaianAda kepuasan tersendiri ketika bahan-bahan yang semula terpisah akhirnya berubah menjadi makanan yang siap disantap. Keberhasilan membuat menu baru dapat memberikan rasa kompeten dan pencapaian, terutama bagi orang yang sebelumnya merasa kurang percaya diri di dapur.Apresiasi dari keluarga atau teman juga dapat memperkuat pengalaman positif tersebut. Dalam konteks psikologis, pengalaman berhasil menyelesaikan sebuah aktivitas dapat membantu membangun keyakinan bahwa seseorang mampu mempelajari dan melakukan hal baru.
5. Meningkatkan Interaksi SosialMemasak tidak harus dilakukan sendirian. Mengajak pasangan, anak, teman, atau anggota keluarga untuk menyiapkan makanan bersama dapat menjadi kesempatan untuk berkomunikasi tanpa tekanan formal.Makanan yang telah selesai dibuat pun dapat dinikmati bersama. Dengan demikian, aktivitas memasak bukan hanya menghasilkan hidangan, tetapi juga membuka ruang untuk membangun kedekatan.Tinjauan sistematis mengenai intervensi memasak menemukan adanya pengaruh positif terhadap aspek sosialisasi pada sejumlah penelitian yang dianalisis.
6. Membangun Kepercayaan DiriTidak perlu langsung memasak hidangan yang rumit. Memulai dari resep sederhana kemudian meningkatkannya secara bertahap justru dapat memberikan pengalaman keberhasilan yang lebih realistis. Misalnya, seseorang yang awalnya hanya mampu membuat telur atau tumisan sederhana dapat mencoba membuat sup, kue, atau menu baru setelah merasa lebih percaya diri.Namun, penting diingat, memasak bukanlah obat untuk stres berat, depresi, gangguan kecemasan, atau kondisi psikologis lainnya. Jika tekanan mental berlangsung lama, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai gejala yang semakin berat, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater tetap merupakan langkah yang tepat. (wah/berbagai sumber)



Tinggalkan Balasan