
Kairo (Trigger.id) – Dari pesantren di pelosok Jawa Timur, perjalanan akademik puluhan anak muda kini berlanjut hingga Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.
Sejak 2021, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memfasilitasi 123 mahasiswa asal Jatim untuk menempuh pendidikan jenjang sarjana dan pascasarjana di salah satu pusat studi Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia itu.
Hasilnya mulai terlihat. Sebagian mahasiswa Jatim tidak hanya menekuni studi Al-Qur’an, hadis, fikih, ushul fikih, tafsir, dan sejarah peradaban Islam.
Ada juga yang tampil dalam berbagai kompetisi akademik dan keilmuan, termasuk ajang internasional.
Sebagian di antaranya bahkan dipercaya menjadi juri dalam sejumlah kegiatan internasional.
Kesan itu terlihat ketika tim Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur bersama dewan penguji melakukan monitoring ke tempat tinggal mahasiswa di kawasan Kairo.
Diskusi berlangsung dalam bahasa Arab dan menyentuh berbagai persoalan keislaman kontemporer.
Rata-rata mahasiswa yang ditemui memiliki kemampuan bahasa Arab dan membaca kitab klasik yang kuat. Mereka juga terbiasa hidup mandiri. Sebagian memasak sendiri dan membangun kehidupan gotong royong di antara sesama mahasiswa.
“Anak-anak muda ini datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Banyak yang berlatar belakang pesantren dan memiliki kemampuan bahasa Arab yang sangat baik. Mereka tidak hanya belajar, tetapi mulai menunjukkan prestasi,” kata Prof M Mas’ud Said PhD dalam laporan dari Kairo. Mesir, Sabtu (26/9).
Menurutnya, keberadaan mahasiswa Jatim di Al Azhar merupakan investasi akademik dan kebudayaan yang hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun, ketika mereka kembali ke Indonesia, para alumni berpotensi memperkuat pesantren, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dan institusi publik.
Program tersebut juga tidak berdiri sendiri. Sejumlah pesantren Jawa Timur, seperti Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Amanatul Ummah, Dalwa Bangil, dan pesantren lainnya, selama ini telah mengirimkan santri dan alumninya untuk melanjutkan studi ke Al Azhar secara mandiri.
Setelah berjalan beberapa tahun, Pemprov Jawa Timur melalui LPPD mulai memperluas program. Mulai 2025, pemerintah provinsi memfasilitasi seleksi mahasiswa jenjang magister dengan kuota 60 orang yang memenuhi persyaratan.
Bidang studi yang dikembangkan antara lain tafsir, hadis, ushul fikih, ushuluddin, bahasa Arab, serta kajian kebudayaan dan peradaban Islam.
Pengembangan program juga disertai monitoring dan evaluasi secara berkala. Aspek yang dipantau tidak hanya prestasi akademik, tetapi juga kesehatan, kondisi tempat tinggal, kemampuan menulis ilmiah, motivasi belajar, serta ketepatan waktu penyelesaian studi.
Direktur LPPD Jawa Timur Prof. Dr. Abdul Halim Soebahar ditunjuk untuk mengawal pelaksanaan program bersama tim. Pendampingan tersebut diarahkan agar mahasiswa mampu menyelesaikan studi dengan baik sekaligus membangun kapasitas akademik yang dapat mereka bawa ketika kembali ke Indonesia.
Bagi Prof M. Mas’ud Said PhD yang juga tim rombongan LPPD menambahkan, apa yang sedang tumbuh di Kairo itu layak dilihat sebagai investasi jangka panjang. Para mahasiswa tersebut bukan sekadar penerima beasiswa, melainkan calon akademisi, ulama, pendidik, dan penggerak pesantren yang kelak dapat mengisi ruang-ruang keilmuan dan kelembagaan Islam di Indonesia.
“Kontribusi akademik sering kali berjalan sunyi. Tidak selalu tampak seperti ekonomi atau politik. Tetapi, ketika ilmu itu tumbuh dan dibawa pulang, dampaknya bisa berlangsung panjang,” ujar Direktur Pasca Sarjana Unisma Malang ini.
Prof Mas’ud yang juga Wakil Ketua Umum ISNU pusat ini menilai, dari ruang-ruang kuliah Al Azhar hingga kehidupan sederhana di tempat kos mahasiswa, Jawa Timur sedang menanam sebuah investasi sumber daya manusia. Buahnya mungkin baru akan benar-benar terlihat beberapa tahun mendatang, ketika para mahasiswa itu kembali dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Tulisan ini laporan Prof Mas’ud Said PhD dari Kairo Mesir.



Tinggalkan Balasan