

Hari Kesehatan Sedunia yang diperingati setiap 7 April semestinya menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen bangsa. Namun di balik peringatan tersebut, tersimpan kegelisahan mendalam dari dunia medis Indonesia. Duka yang muncul akibat wafatnya tiga dokter muda yang tengah menjalani masa internship menjadi pengingat bahwa sistem kesehatan tidak hanya berbicara tentang pasien, tetapi juga tentang keselamatan tenaga medisnya.
Ketiga dokter tersebut meninggal akibat kondisi medis seperti anemia, komplikasi demam berdarah dengue (DBD), dan campak. Secara klinis, penyakit seperti DBD dan campak umumnya dapat ditangani dengan baik, terutama pada individu tanpa gangguan imun. Hal ini memunculkan dugaan bahwa faktor kelelahan fisik dan tekanan psikologis selama bertugas turut memperburuk kondisi mereka. Situasi ini menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap beban kerja, risiko profesi, serta sistem perlindungan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, media sosial kini menjadi ruang terbuka bagi tenaga medis untuk menyuarakan realitas yang jarang tersentuh media arus utama. Salah satu fenomena yang mengundang perhatian adalah ketika sejumlah dokter melamar pekerjaan sebagai pengasuh anak (baby sitter) dengan gaji yang dinilai lebih menjanjikan. Bahkan, pelamar berasal dari dokter berpengalaman di ICU hingga UGD dengan berbagai kompetensi tambahan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah kesejahteraan dokter di Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja?
Realitas di lapangan menunjukkan ketimpangan yang mencolok. Di beberapa daerah, seperti Kabupaten Alor, terdapat dokter dengan status PPPK paruh waktu yang hanya menerima penghasilan sekitar Rp300 ribu per bulan. Kondisi ini tentu jauh dari layak dan berdampak pada keberlangsungan pelayanan kesehatan, karena tidak sedikit tenaga medis yang akhirnya memilih mengundurkan diri.
Masalah serupa juga dialami oleh dokter spesialis di berbagai daerah yang mengalami keterlambatan pembayaran tunjangan profesi hingga berbulan-bulan. Ketidakpastian ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas layanan kesehatan secara keseluruhan.
Ironisnya, panjangnya proses pendidikan kedokteran tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan yang diperoleh. Untuk menjadi seorang dokter, seseorang harus menempuh pendidikan minimal 5,5 tahun, ditambah berbagai tahapan seperti ujian kompetensi nasional dan program internship selama satu tahun. Tidak sedikit mahasiswa yang harus mengulang ujian (retaker), yang berdampak pada tekanan mental dan tertundanya karier profesional.
Masa internship sendiri kerap disebut sebagai “kawah candradimuka” bagi dokter muda. Namun dalam praktiknya, mereka dihadapkan pada jadwal kerja yang tidak menentu, beban kerja tinggi, serta imbalan yang belum sepadan. Bantuan Biaya Hidup (BBH) yang diterima sering kali berada di bawah standar upah minimum, meskipun risiko pekerjaan yang dihadapi sangat tinggi, termasuk paparan penyakit menular.
Menariknya, kondisi tersebut tidak menyurutkan minat generasi muda untuk menempuh pendidikan kedokteran. Jurusan ini tetap menjadi salah satu yang paling diminati dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan adanya persepsi masyarakat yang masih menganggap profesi dokter identik dengan kesejahteraan dan status sosial tinggi, meskipun realitasnya tidak selalu demikian.
Momentum Hari Kesehatan Sedunia seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga sebagai panggilan untuk memperhatikan kesejahteraan tenaga medis. Konsep Health for All perlu diperluas, tidak hanya bagi pasien, tetapi juga bagi mereka yang berada di garis depan pelayanan kesehatan.
Tanpa tenaga medis yang sehat secara fisik dan mental, sulit rasanya mewujudkan sistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pembenahan sistem, pemerataan distribusi tenaga medis, serta peningkatan kesejahteraan menjadi langkah krusial yang tidak bisa lagi ditunda.
—000—
*Penulis:
- Staf pengajar senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
- Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
- Penulis buku:
– Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
– Serba-serbi Obrolan Medis
– Catatan Harian Seorang Dokter



Tinggalkan Balasan