• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Haji dan Samudera Teladan dari Nabi

20 Juni 2022 by zam Tinggalkan Komentar

Ahmad Zainul Hamdi

(Gurubesar UIN Sunan Ampel Surabaya; Petugas Haji Indonesia di Arab Saudi)

Mekkah (Trigger.id)– Saat ini, perjalanan haji bukanlah sebuah pertaruhan hidup atau mati. Kini, ibadah haji sangat dimanjakan oleh fasilitas yang memudahkan. Kita berangkat menggunakan pesawat yang sanggup menempuh jarak 7.980 km (Jakarta-Jeddah) hanya dalam waktu 9-10 jam. Sesampai di Mekkah, kita akan masuk ke kamar hotel berbintang, dengan kamar be-AC, ranjang yang empuk dan bersih, kamar mandi dengan fasilitas air hangat. Tak perlu repot masak, kita disiapkan makan pagi, siang dan sore yang dimasak oleh para juru masak pengalaman. Jika bosan masakan yang disiapkan panitia, kita hanya perlu melangkahkan kaki beberapa jangkah untuk menemukan “toko Indonesia” yang menyediakan berbagai keperluan kita, termasuk mie instan yang seringkali menjadi makanan idaman di saat kelaparan atau sedang malas dengan masakan rumahan.

Mau ke Masjidil Haram? Tersedia bus 24 jam yang siap mengantar dan menjemput kita. Masuklah ke area Masjidil Haram, kesejukan AC-nya akan memanjakan kita. Keramik kualitas tinggi membuat kita tak akan pernah merasakan panas di telapak kaki kapan pun kita melakukan thawaf. Jangan pernah membayangkan kita akan menahan haus dan panas saat  berjalan antara bukit Shafa dan Marwa. Bahkan kita tidak menyadari bahwa kita berada di antara dua bukit, karena area sa’i sepenuhnya berada di dalam masjid. Saat melakukan sa’i bolak-balik dari Shafa ke Marwa, kita hanya akan merasakan seperti berjalan dari satu ujung ke ujung lain dalam sebuah area tertentu di dalam masjid. Panas? Sama sekali tidak. Bahkan jika kita sa’i di malam hari, tubuh kita akan sedikit menggigil karena kedinginan. Air putih (Zamzam) tersedia di mana-mana.

Lelah beribadah di Masjidil Haram atau tiba-tiba Anda merasa lapar dan perlu makan? Keluarlah ke halaman masjid, tepat di depan mata, Anda akan menemukan kompleks Makkah Royal Clock Tower atau yang juga disebut Abraj Al-Bait Towers. Ini merupakan kompleks mall, hotel, hunian, dan museum. Bangunan yang tingginya mencapai 601 meter ini merupakan satu dari sepuluh bangunan tertinggi di dunia. Di sini, Anda bisa menemukan restoran, cafe, hypermart, atau toko cinderamata. Tinggal lihat berapa uang yang tersedia di dompet Anda.

Jika ingin kembali ke masjid, silakan karena Anda hanya butuh beberapa langkah kaki untuk memasuki kompleks masjid. Jika ingin istirahat, silakan kembali ke hotel, dan nikmati kelembutan tilam bersih yang menutupi ranjang Anda. Sungguh, fasilitas yang menggiurkan bukan?

Tapi Mekkah tetaplah Mekkah. Keluarlah dari hotel di siang hari tanpa fasilitas-fasilitas yang saya sebutkan di atas. Anda akan langsung disergap panas yang seakan mau membakar tubuh. Siang hari, suuhunya bisa mencapai 40 derajat celcius. Sangat panas dan kering. Arahkan mata Anda ke seluruh penjuru mata angin, di balik bangunan-bangunan hotel yang bertebaran, Anda hanya akan menemukan perbukitan batu  hitam yang kegagahannya hanya memberi kesan kehampaan dan keputusasaan. Jangan pernah mencoba berjalan kaki tanpa alas di siang hari, karena hal itu berarti Anda membakar tapak kaki Anda sendiri dalam pengertian yang sebenarnya.

Lalu, marilah kita membayangkan Mekkah 1.400 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 632 M, saat Nabi bersama rombongan Sahabatnya menunaikan haji. Lenyapkan seluruh fasilitas modern yang saya sebutkan di atas, Mekkah hanyalah sebuah daerah yang hamparannya berupa pasir yang dipaku oleh bukit-bukit batu hitam. Tak ada pemandangan sebuh kota. Yang ada hanyalah pemukiman dari batu dan tenda-tenda.

Lazuardinya bukanlah sebuah keindahan langit biru karena terik mataharinya memanggang apapun yang ada di bawahnya. Dalam situasi kekejaman alam seperti itu, hari-hari bisa berupa perjuangan untuk sekedar menghindari kematian. Panas, kering, kehausan, berpadu dengan angin gurun yang mematikan. Mata air adalah salah satu kekayaan mewah di samping onta. Tak ada kecepatan apapun yang bisa mengantar orang melintasi padang gurun kecuali kuda atau onta.

Dalam situasi itulah, Nabi Muhammad mendatangi panggilan Allah yang memerintahkannya untuk berhaji. Episode keberankatan hingga pelaksaan haji Nabi adalah sebuah episode yang sangat mengharukan.  Nabi Muhammad baru bisa melaksanakan haji di tahun ke-10 H sekalipun panggilan Allah itu sudah turun di tahun ke-6. Itu berarti Nabi memendam hasrat selama 4 tahun. Ketika di tahun ke-10 H Nabi mengumumkan akan berhaji, Madinah dipenuhi oleh kaum Musimin yang akan ikut berhaji bersama Rasulullah.

Pada hari Sabtu, lima hari sebelum akhir bulan Dhulqa’dah, Rasulullah berangkat meninggalkan Madinah. Ketika beliau akan meninggalkan Kota Madinah untuk menunaikan haji, yang tampak di depan Sahabat-sahabatnya adalah sosok sederhana dengan sikap tawadhu yang dipenuhi kekhawatiran akan krrusakan amalan hajinya karena riya’ dan hasrat popularitas. Hal ini tercermin dalam doa beliau ketika akan berangkat haji, sebagaimana yang diriwayatkan Anas Ibn Malik RA:

 عن أنس بن مالك حجَّ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ على رحلٍ رَثٍّ وقطيفةٍ خلقةٍ لا تساوي ثم قال : اللهم حجةً لا رياءَ فيها ولا سمعةَ روه الترمذي

Artinya: Dari Anas bin Malik ra., dia berkata, “Nabi SAW menunaikan haji dengan mengendarai unta dan menghamparkan sehelai kain yang harganya kurang dari empat dirham, lalu beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tanpa riya dan mencari kemasyhuran’. (HR. Tirmiżi).

Ketika sampai di Dhulhulaifah atau Bir Ali, Nabi bermalam di sana. Dhulhulaifah atau Bir Ali adalah miqat atau titik start perjalanan haji dari daerah Madinah. Keesokan harinya, beliau mandi hingga bersih, melaksanakan shlat, memakai wewangian, memakai pakaian ihram, melafalkan niat haji, kemudian melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan menuju Mekkah ini, Nabi mengumandangan kalimat-kalimat tauhid dan mengungkapkan hasrat kerinduan dan ketaatannya memenuhi panggilan Allah. Inilah yang sekarang dikenal dengan lafad talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Artinya: Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Setelah delapan hari perjalanan, sampailah Nabi dan rombongannya di Mekkah. Besok harinya, Senin pagi tanggal 5 Dhulhijjah, Rasulullah mandi dan menuju ke Masjid Haram untuk menunaikan thawaf dan sa’i.

Pada tanggal 9 Dhulhijjah, Rasulullah berangkat ke Padang Arafah dan beristirahat di tenda yang telah disiapkan Sahabatnya. Ketika memasuki waktu Dhuhur, beliau minta dibawakan unta beliau yang bernama al-Qaṣwa’ untuk dinaiki. Unta itu pun digiring menuju tengah lembah Uranah. Di atas unta, di tengah lembah Uranah, di bawah terik matahari siang Padang Arafah, beliau menyampaikan khutbah wukuf.

Setelah berkhutbah, Rasulullah meminta Bilal untuk azan dan beliau pun menunaikan shalat jama’ taqdim qashar untuk dhuhur  dan ashar. Selesai melaksanakan ṣalat, Rasulullah menaiki untanya menuju Sakharat yang berada di belakang Jabal Rahmah sambil menghadap ke arah kiblat.

Dalam usia enam puluh tiga tahun, di tengah panas mentari tanpa tenda, Rasulullah SAW. hanya dilindungi oleh Bilal bin Rabah dengan kain yang ada padanya dari terpaan sengatan sinar mentari siang itu, namun beliau bertahan wukuf di atas untanya. Beliau tetap khusyu berzikir dan berdoa.

Tak terbayangkan betapa panasnya saat itu. Betapa letihnya beliau setelah menempuh perjalanan delapan hari melintasi gurun pasir sepanjang 450 km dari Madinah ke Mekkah. Karena kedalaman rindu dan kehusyukannya, hari itu beliau mungkin sampai lupa makan dan minum hingga banyak Sahabat yang mengira beliau berpuasa

andai beliau tidak minum susu yang dikirim salah seorang istrinya, Maimunah binti Hariṡ.

Inilah doa beliau saat wuquf, di bawah terik matahari siang Padang Arafah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَرَى مَكَانِي , وَتَسْمَعُ كَلَامِي , وَتَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي , لَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِي , أَنَا الْبَائِسُ الْفَقِيرُ , الْمُسْتَغِيثُ الْمُسْتَجِيرُ , الْوَجِلُ الْمُشْفِقُ , الْمُقِرُّ الْمُعْتَرِفُ بِذَنَبِهِ , أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمِسْكِينِ , وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهَالَ الْمُذْنِبِ الذَّلِيلِ , وَأَدْعُوكَ دُعَاءَ الْخَائِفِ الضَّرِيرِ , مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ , وَذَلَّ جَسَدُهُ , وَرَغِمَ, أَنْفُهُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي بِدُعَائِكَ شَقِيًّا ,وَكُنْ بِي رَءُوفًا رَحِيمًا , يَا خَيْرَ الْمَسْئُولِينَ , وَيَا خَيْرَ الْمُعْطِينَ

Artinya: Ya Allah, Engkau melihat tempatku, Engkau mendengar ucapanku, Engkau mengetahui apa yang kusembunyikan dan apa yang kulahirkan, tak satu pun urusanku yang tersembunyi dari-Mu. Aku adalah orang yang menderita yang sangat perlu kepada-Mu, berharap bantuan dan pelukan-Mu, gemetar mengharap belas kasihan dari-Mu, mengaku dengan dosa-dosaku. Aku mohon kepada-Mu permohonan seorang miskin dan aku senandungkan keharibaan-Mu senandung duka orang yang berdosa lagi hina. Aku doa kepada-Mu doa orang yang dalam ketakutan lagi menderita, tertunduk menekurkan kepala kepada-Mu, berlinang air mata untuk-Mu, merendah menghiba kepada-Mu, tidak punya pilihan kecuali berserah pasrah kepada-Mu. Ya Allah, ya Tuhanku, doaku kepada-Mu, janganlah Engkau jadikan aku seorang yang celaka, Maha Belas Kasih dan Maha Penyayanglah kepadaku. Ya Allah Engkaulah sebaik-baik tempat bermohon dan sebaik-baik yang memberi.

Membaca larik-larik doa Nabi di atas sambil membayangkan kekhusyukan beliau di bawah sengatan matahari Arafah, rasanya tak ada bahasa yang bisa melukiskan kemuliaan manusia agung ini. Jika Allah pernah menciptakan manusia sempurna, itu adalah Nabi Muhammad. Inilah manusia yang digambarkan Allah sebagai manusia dengan akhlak yang sangat agung (al-Qalam:4); yang sangat tinggi belas kasih dan sayangnya kepada manusia (al-Taubah:128); yang perilakunya adalah teladan bagi siapa saja yang menginginkan ridha Allah dan pahala akhirat (al-Ahzab:21).

Manusia seperti inilah yang bersimpuh, menghiba, dan menangis ke haribaan Allah dan mengakui dosa-dosanya. Manusia seagung inilah yang gemetaran berharap perlindungan, kasih sayang, dan pelukan dari Allah. Manusia semulia inilah yang menyenandungkan doa dengan kepala tepekur sambil menghiba agar tidak dijadikan sebagai hamba yang celaka.

Lalu, manusia macam apa kita yang setiap hari begitu pongah? Manusia macam apa kita yang hanya karena shalat merasa sebagai manusia paling mulia? Manusia macam apa kita yang hanya karena zakat merasa paling agung derajatnya? Manusia macam apa kita yang hanya karena puasa merasa paling suci hidupnya? Manusia macam apa kita yang hanya karena haji merasa seakan sudah bisa menyegel surga?

Membaca baris-baris doa Nabi yang begitu dalam, terbayang betapa dekatnya Nabi Muhammad dengan Allah hingga doa itu seperti “percakapan” antara hamba dengan Gustinya. Tapi sebegitu dekat Nabi dengan Allah, sebegitu kasmaran Nabi akan cinta Allah, beliau tidak pernah melarikan diri dari umatnya. Beliau tidak meninggalkan umatnya untuk memuasi kekhusyukan personalnya dengan Allah. Manusia inilah yang dalam kekhusyukan yang tak terperikan di Padang Arafah itu, menyampaikan khutbah yang isinya seruan agar umatnya tidak lagi saling membunuh, tidak mengambil harta orang lain, dan tidak merendahkan kehormatan orang lain.

Inilah sepenggal khutbah beliau yang disampaikan di Arafah:

فإنَّ دِماءَكم، وأمْوالَكم، وأعْراضَكم عليكم حَرامٌ كحُرْمةِ يَومِكم هذا، في بَلدِكم هذا، في شَهرِكم هذا

Artinya: “Sesungguhnya menumpahkan darah, merampas harta sesamamu, dan merendahkan kehormatan sesamamu adalah haram sebagaimana keharaman berperang pada hari ini, di negeri ini, dan pada bulan ini.(kai)

Share This :

Ditempatkan di bawah: nusantara, update Ditag dengan:guru besar UINSA, ibadah haji, jamaah haji, teladan nabi

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Iran Tolak Gencatan Senjata, Tuntut Akhir Perang Total

1 April 2026 By admin

Tiga Prajurit TNI Gugur, MUI: Wafat dalam Misi Damai Berpahala Syahid

1 April 2026 By admin

Hampers Lebaran dan Batas Etika: Mengapa Pejabat Publik Harus Menolak Gratifikasi

1 April 2026 By admin

Prajurit TNI Gugur, MUI Desak RI Tuntut Israel

31 Maret 2026 By admin

Ambiguitas Pasal dan Ujian Konsistensi KPK dalam Kasus Kuota Haji

31 Maret 2026 By admin

Menanti BBM 1 April: Di Antara Tekanan Global dan Ujian Kebijakan Energi

31 Maret 2026 By wah

Musisi Bruce Springsteen dan Suara Rakyat dalam “No Kings”

31 Maret 2026 By admin

Mayoritas Yahudi AS Tolak Perang Iran

31 Maret 2026 By admin

Menahan Guncangan Minyak dari Jalan Raya: Harapan pada Kendaraan Listrik

30 Maret 2026 By admin

Tottenham Akhiri Kerja Sama dengan Igor Tudor

30 Maret 2026 By admin

Benteng Digital dari Rumah: Saat Regulasi Bertemu Peran Orang Tua

30 Maret 2026 By admin

Pemberangkatan Haji 2026 Tetap Sesuai Jadwal

30 Maret 2026 By admin

Gelombang “No Kings” Guncang AS, Protes Kebijakan Trump Meluas

29 Maret 2026 By admin

Haji 2026 Dipastikan Tetap Lancar

29 Maret 2026 By admin

Iran Respons Positif Kapal RI di Selat Hormuz

29 Maret 2026 By admin

“Jay Idzes Terbaik di PSSI Awards 2026, Gol Spektakuler Rizky Ridho Jadi Sorotan”

29 Maret 2026 By admin

Iran Klaim Siap Hadapi Invasi Darat AS-Israel

29 Maret 2026 By admin

Menyalakan Nurani: KPK Bangun Budaya Antikorupsi dari Hati Masyarakat

29 Maret 2026 By admin

Menag: Ruang Digital Butuh Fondasi Etika

29 Maret 2026 By admin

Gelar Dicabut, Senegal Tetap Pamer Trofi Africa Cup of Nations 2025

29 Maret 2026 By admin

Suhu Bumi Naik, Risiko Kekeringan dan Angin Kencang Meningkat

28 Maret 2026 By admin

Wapres AS JD Vance Tegur Netanyahu soal Iran

28 Maret 2026 By admin

Waspada Microsleep di Jalan: Ancaman Sunyi Saat Mudik/Balik

28 Maret 2026 By admin

Jatim Siaga Kekeringan di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem

28 Maret 2026 By admin

Klopp Buka Sinyal Suksesor Salah, Ekitike Dinilai Punya Potensi Besar di Liverpool

28 Maret 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

April 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
« Mar    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Jejak Gelap Kuota Haji, Dari Lobi Hingga Aliran Dana
  • Italia Gagal Lolos Piala Dunia 2026, Capello Murka
  • Di Tengah Krisis Energi, Bisakah Biaya Haji Dijaga Tetap Aman?
  • Transparansi Energi, Kunci Redam Kepanikan di Tengah Ancaman Krisis
  • Kalah Gugatan Kontrak Sampah, Pemkot Surabaya Wajib Bayar Utang Rp104 Miliar

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.