• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

HPN, 9 Februari 2023: Dor..! Pimpinan RMOL di Bengkulu Terkapar

3 Februari 2023 by admin Tinggalkan Komentar

“Peristiwa barbar itu akan mendistorsi secara signifikan hasil Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) nasional pada 2022 lalu yang meningkat 1,86 poin,”

Oleh: Luthfil Hakim – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Timur

Judul tulisan ini (HPN) merupakan akronim dari kosakata Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Februari. Tahun ini puncak peringatan HPN akan digelar 9 Februari di Kota Medan.Sepekan lagi.

Tetiba hari ini, Jumat (3/2/2023) kita dikagetkan peristiwa penembakan terhadap Rahimandani, pimpinan media massa (RMOL) di Bengkulu oleh orang tak dikenal. Dor..! korban terkulai tak berdaya. Kabarnya, peluru menyasar lengan –tembus ke badan bagian kiri.

Polisi masih mengusut motif penembakan, termasuk apakah terkait konten berita, atau ada urusan lain di luar tanggungjawabnya sebagai pimpinan media massa.

Jika terkait konten jurnalistik, sungguh miris kehidupan pers kita. Terlebih peristiwa anarkis ini terjadi sepekan menjelang puncak peringatan HPN di Kota Medan.

Peristiwa barbar itu akan mendistorsi secara signifikan hasil Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) nasional pada 2022 lalu yang meningkat 1,86 poin, yang itu sekaligus mempertahankan kenaikan IKP selama lima tahun terakhir. Survei IKP – 2022 ini bahkan mengkategorikan kehidupan pers nasional ‘cukup bebas’.

Survei yang melibatkan 340 responden dari kalangan ahli dan 10 anggota National Assessment Council (NAC)pada 2022 lalu itu, lebih menekankan pada jumlah kasus kekerasan sebagai salah satu indikator kebebasan pers. Misalnya posisi ‘rendah’ IKP Jawa Timur di survei IKP 2022 itu, nampaknya dikontribusi oleh kasus kekerasan terhadap wartawanTempo di Surabaya.

Hanya saja hasil survei IKP 2022 itu kurang pas. Sebab jika salah satu indikator utamanya didasarkanjumlah kasus kekerasan terhadap jurnalis di sebuah provinsi, maka hasilnya tentuakan bias. Belum tentu Provinsi yang tergolong tinggi IKP – nya sudah bebas merdeka kehidupan pers-nya. Sebab bisa saja secara kebetulan dalam setahun kerja survei, produk jurnalistik di kawasan itu landai – landai saja, sehingga tidak memancing kekerasan terhadap jurnalisnya.

Atau bisa saja justru kehidupan jurnalis di sebuah provinsi berada dalam ‘tekanan‘ kekuatan tertentu, oligarki, atau oknum pejabat, sehingga terpaksa pers menempatkan dirinya sebagai friendly journalism. Jika demikian kondisinya, apakah nihilnya kekerasan tersebut sudah tepat dijadikan sebagai ukuran IKP.

Jika tidak hati – hati membuat definisi tentang ‘pers berdaya’, atau definisi tentang IKP, justru berbahaya bagi kehidupan demokrasi itu sendiri.Setidaknya bagi kehidupan pers.

Menurut hemat penulis, semakin banyak tindak kekerasan kepada pekerja pers, justru semakin menunjukkan adanya kekuatan pers. Artinya fungsi kontrol sosial (watchdog)  sebagai amanat UU Pers Pasal 3 cukup diperhitungkan. Bukan diabaikan. Jika benar kasus penembakan Bengkulu terkait konten berita, maka perlu korbannya diacungi jempol karena sudah membawa pers lebih berdaya.

Di sebuah negara yang kuat praktek oligarkinya – seperti Indonesia, makin sulit berharap adanya pers kritis. Harusnya survei IKP menempatkan poin ‘fungsi kontrol pers’ sebagai backbone indicator, wujud tanggung-jawab terhadap UU Pers No,40 TH 1999 Pasal 3 ayat 1 dan Pasal 6 ayat 1 – 5.

Gubernur dan pejabat di daerah yang secara terbuka meminta kepada pers untuk selalu dikritik, perlu mendapatkan poin besar dalam mengukur tingkat IKP. Pola – pola profesional dalam menyelesaikan masalah saat terjadi sengketa berita dengan wartawan, misalnya, perlu mendapatkan poin positif untuk IKP – nya.

Maka itu kita sangat kehilangan tokoh selevel Azyumardi Azra. Meski hanya sebentar di Dewan Pers, tapi ada catatan penting yang ‘’wajib’’ diperhatikan dan ‘’harus’’ dilaksanakan oleh kalangan pers, yakni semangatnya menjadikan pers nasional sebagai ‘mitra kritis pemerintah’.

“Dewan Pers akan Jadi Mitra Kritis Pemerintah,” kata Azyumardi Azra (akrab disapa Prof Edy/Prof Azra) dalam satu seminar di Hall Dewan Pers – Jakarta, Jumat (3/6). “Pers perlu mendukung kebijakan positif pemerintah. Namun jika dirasa ada kebijakan yang tidak tepat, wajib bagi pers memberi masukan.”

Statemen Ketua Dewan Pers itu seolah ‘’wasiat’’ bagi kalangan pers untuk senantiasa menjalankan peran watchdog terhadap jalannya pemerintahan, di tengah makin lemahnya kontrol sosial oleh oposisi dan kendornya peran opsiner oleh civil society.

Sebagaimana UU Pers – Pasal 3, selain fungsi menerangi dan mencerdaskan, tugas lain pers adalah sebagai kontrol sosial (watchdog). Diksi kontrol di sini bermakna sebagai alarm, mencegah terjadinya ketimpangan serta ketidak-adilan, terutama akibat penyelewengan kekuasaan seperti; praktek KKN, otoriter, oligarki, serta political relations with other deviant practices.

Prof Azra seolah berpesan, diktum UU Pers yang mayoritas  berisi moral-force, wajib dipertaruhkan oleh praktisi pers – sebagaimana amanat Pasal 6, yakni wajib menegakkan demokrasi dan supremasi hukum, menghormati kebhinekaan & HAM, melakukan pengawasan – kritik – koreksi terkait kepentingan umum, serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Artinya, pers wajib kritis –  terutama pada ”kebijakan” yang disponsori para pihak yang bergumul dalam kelentan oligarki. Pers wajib ‘menghadang’ kebijakan hasil praktek  political connections antara penguasa dan pemburu rente. Pers harus berani, apapun resikonya. Karena di sanalah letak marwah tertinggi pers. Independensi harga mati.

Pers wajib melindungi segenap bangsa dari segala bentuk kebijakan berbasis keserakahan. Meski para oligar kini banyak menelusup ke sendi – sendi kepemilikan perusahaan pers, tapi insan pers wajib busung dada untuk tidak terkooptasi dalam membela kebenaran. Insan pers wajib mengambil jarak tegas dengan pemilik modal tempatnya bekerja. Jangan ada parktek ‘pengkondisian berita’ hanya untuk kepentingan mendapatkan iklan.

Dalam dunia jurnalistik ada istilah fire-wall atau pagar api. Maksudnya, news-room harus memiliki batas tegas dengan ruang usaha (non-redaksi). Manajemen perusahaan tidak boleh mengarahkan kebijakan redaksi dengan alasan apapun, apalagi bermotif pendapatan iklan.

Meski dalam satu perusahaan, awak redaksi dan non-redaksi adalah dua hal yang berbeda. Awak redaksi diikat oleh aneka peraturan lain di luar ketentuan perusahaan. Mereka (jurnalis) memiliki kode etik sendiri (KEJ) yang harus dipatuhi, ada peraturan Dewan Pers yang mengikat, termasuk persyaratan lolos uji kompetensi (UKW). Awak redaksi harus berdiri tegak secara independen.

Sikap Prof Azra ini harusnya menjadi semangat bagi seluruh komisioner (Anggota) Dewan Pers terkait perlindungan wartawan dalam menjalankan peran kritisnya. Imunitas pers dan keselamatan jurnalis dari jerat hukum harusnya menjadi prioritas dibanding hanya ribut soal verifikasi media. Menjadi percuma jika masih ada jurnalis yang sudah lolos UKW – bahkan level utama, tapi produk beritanya masih bisa dihukum dengan UU non-Pers.

Keberadaan pers sangat dibutuhkan masyarakat, terutama di tengah situasi kekacauan ruang publik yang terkomtaminasi oleh berita – berita non-jurnalistik, berita hoax dan ujaran kebencian. Publik butuh hadirnya pers cerdas, yang bisa mengkonstruksi narasi jurnalistik secara fair, profesional, faktual, taat KEJ, verifikatif, obyektif, relevan, komprehensif, proporsional, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta membela kebenaran dan keadilan – sebagai pusat referensinya.

Ruang publik kini seperti belantara buzer – yang siap menghajar siapa saja, termasuk wartawan yang dinilainya kritis terhadap bohir-nya. Bahkan pola perlawanan buzer bukan dengan narasi ilmiah – logis sebagai tandingan berita yang dibuat oleh wartawan, tapi justru menggunakan bahasa dan diksi murahan – bahkan bersifat menyerang pribadi. Berita kritis berkualitas karya jurnalistik, dihajar oleh buzer dengan narasi opini murahan. Ini justru menjadikan posisi pers lemah dan takut menjalankan fungsi watchdog-nya.

Sebaiknya Dewan Pers, dalam membuat definisi tentang IKP lebih mengacu kepada nilai – nilai perjuangan yang diamanatkan UU Pers, serta prinsip dan nilai luhur profesi pers. Pers harus kritis dan perlu terus-menerus didorong untuk berani.Jika perlindungan terhadap pers dan jurnalis lemah secara hukum, maka jangan harap fungsi watchdog pers – sebagaimana diharapkan UU Pers, bisa terwujud.

Dewan Pers perlu membuat kehidupan pers nasional lebih kuat, berani  dan berdaya. Perlu ada semacam awarding, misalnya, sebagai motivasi bagi jurnalis yang pernah dikriminalisasi secara hukum oleh pihak – pihak korup yang merasa dirugikan secara berita. Atau award kepada jurnalis yang pernah mendapatkan kekerasan phisik akibat tulisannya.

Bukan hanya itu. Jika perlu Dewan Pers membuat peraturan tentang ratio tinggi berapa minimal konten berita kritis dalam sebuah media, sebagai persyaratan utama bagi pengajuan verifikasi perusahaan pers. Buat apa meloloskan verifikasi perusahaan media yang hanya karena memenuhi persyaratan normatif: berbentuk PT, UKW dan BPJS, tapi keberadaannya justru menjadi corong kelompok kepentingan dan para oligar atau hanya sebagai pencatat berita positif saja.

Memang , tingkat IKP tinggi sangat diperlukan bagi pers nasional sebagai tolok ukur demokrasi. Tapi variabel ukurannya mesti disempurnakan secara tepat, subtantif dan seimbang. Jangan biarkan pers berusaha memenuhi persyaratan Dewan Pers hanya untuk mendapatkan kue iklan dari badan pemerintah – yang ujungnya hanya menjadi media darling, atau menjadi penakut tidak dapat iklan, lemah, dan memilih kompromistis bias. Akibatnya rakyat juga yang dirugikan, kehilangan haknya mendapatkan berita jujur, benar dan proporsional.

Maka itu, peristiwa penembakan kepada pimpinan media pers di Bengkulu perlu menjadi refleksi bagi para profesi wartawan di Peringatan HPN 2023 di Medan, sepekan depan. Perlu ada semacam rekomendasi kritis dari acara HPN terkait penguatan konten pers dalam konteks perannya sebagai watchdog. Jangan hanya berdiskusi soal media di era disrupsi dari tahun ke tahun. Sebab itu hanya soal platform distribusi konten pers. Sedangkan konten pers  adalah kasta tertinggi yang perlu terus – menerus dikuatkan. (*)

Share This :

Ditempatkan di bawah: nusantara, wawasan Ditag dengan:Dor, Hak Azasi Manusia (HAM), Hari Pers Nasional (HPN), Indeks Kemerdekaan Pers (IKP)

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Menjaga Lisan dan Tulisan Cermin Akhlak Seorang Muslim

30 Oktober 2026 By admin

Kemenekraf Dorong Media Digital Naik Kelas

29 Oktober 2026 By admin

Liverpool Singkirkan Chelsea Lewat Adu Penalti

29 Oktober 2026 By admin

Investor Pasar Modal Jatim Naik 69,93 %, OJK Tekankan Literasi dan Perlindungan

28 Oktober 2026 By admin

MUI : Pelaku “Imam Mahdi” Bangkalan Sesat.

28 Oktober 2026 By admin

Dua Anak Menhaj Mundur dari Tenaga Ahli Usai Menuai Sorotan

27 Oktober 2026 By admin

Indonesia–India Bangun Koridor Teknologi Kreatif di KEK Singhasari Malang

27 Oktober 2026 By admin

Armada WiraWiri Tambah 18 Mikrobus Rute Surabaya Barat

27 Oktober 2026 By admin

Waspada Stroke, Kenali Gejala dengan Metode FAST

26 Oktober 2026 By admin

Indonesia Delapan Besar Asian Para Games 2026, Boccia Jadi Lumbung Emas

25 Oktober 2026 By admin

Petenis Tanah Air Janice Tjen dan Storm Hunter Juara Ganda Putri Japan Open 2026

25 Oktober 2026 By admin

Cuaca Panas 38 Derajat, Pakar Unair : Kendalikan Emosi

24 Oktober 2026 By admin

Diskominfo Tabalong Studi Banding ke PWI Jatim Pelajari Penguatan Pers

24 Oktober 2026 By admin

Akses Penanjakan Bromo Dibuka Usai Kebakaran

23 Oktober 2026 By admin

Pataka Resolusi Jihad, Kobarkan Semangat Juang Santri

23 Oktober 2026 By admin

ITS Ciptakan Futechi Farm, Kandang Ayam Pintar Terintegrasi IoT

22 Oktober 2026 By admin

Khofifah Minta Distribusi Biosolar dan Pertalite Dipercepat

21 Oktober 2026 By admin

Sambut Hari Santri 2026, Ziarahi Makam Pencipta Lambang NU

21 Oktober 2026 By admin

Heboh Kode QR UMKM Tersambung Bank Tiongkok, Begini Aturannya.

21 Oktober 2026 By admin

UNESA dan UM Raih Gelar Juara Campus League 2026 Futsal Regional Surabaya

20 Oktober 2026 By admin

Trump Soroti Imigrasi Prancis, Klaim Paris Terancam Menjadi Kota Muslim

20 Oktober 2026 By admin

Kewajiban Sertifikasi Halal Produk Mundur Tahun 2028

20 Oktober 2026 By admin

Benahi Rumah Potong Unggas, Perkuat Jaminan Halal dan Higienis

20 Oktober 2026 By admin

UM dan UNESA Berebut Takhta Futsal Campus League 2026

19 Oktober 2026 By admin

Garden Fest Menikmati Persawahan Sore Hari

19 Oktober 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

November 2026
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
« Okt    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Menag Kukuhkan 15 Anggota Majelis Masyayikh
  • Giat Tanam Cabe Terapkan Inovasi Teknologi ITS
  • 5 Rumah Pompa Kawasan Banjir Beroperasi 1 Desember 2026
  • Tumpak Sewu, Pesona Tirai Air yang Mendunia
  • MLSC Surabaya dan Bandung Seri 1 2026–2027 Tuntas, Empat Sekolah Raih Gelar Juara

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.