
Washington (Trigger.id) – Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap sikap Iran usai perundingan terbaru mengenai program nuklir yang berlangsung di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Meski demikian, ia menegaskan belum mengambil keputusan terkait kemungkinan serangan militer terhadap Teheran.
“Saya tidak senang karena mereka belum memberikan apa yang kami anggap perlu. Jadi, saya tidak puas,” ujar Trump dalam pernyataan perdananya setelah negosiasi yang dimediasi Oman tersebut berakhir tanpa hasil pada Kamis.
Trump menekankan bahwa ia tidak menginginkan penggunaan kekuatan militer, namun mengakui bahwa dalam situasi tertentu opsi tersebut bisa saja ditempuh. Ia sebelumnya juga mengancam akan mengambil tindakan tegas apabila Iran gagal mencapai kesepakatan terkait ambisi nuklirnya.
Ketegangan yang meningkat memicu sejumlah negara mengeluarkan peringatan perjalanan. Britania Raya untuk sementara menarik sebagian staf kedutaannya di Teheran dan memperbarui imbauan perjalanan agar warganya menghindari kunjungan non-esensial ke Israel.
Sementara itu, China, India, dan Kanada meminta warganya segera meninggalkan Iran. Jerman dan Prancis juga memperbarui peringatan perjalanan terkait potensi eskalasi konflik.
Pemerintah AS sendiri mendesak warga negaranya di Iran untuk segera keluar dari negara tersebut. Kedutaan Besar AS di Israel turut memberi opsi kepada sebagian staf non-esensial dan keluarga mereka untuk meninggalkan wilayah itu selama penerbangan komersial masih tersedia.
Washington dan sekutunya mencurigai Iran tengah bergerak menuju pengembangan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah Teheran. Pemerintah Iran menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai dan sipil, meski diketahui telah memperkaya uranium hingga mendekati tingkat senjata.
Dalam pernyataan terpisah, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi yang memediasi pembicaraan, menyebut Teheran telah sepakat untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya. Menurutnya, tanpa stok material yang diperkaya, peluang pembuatan bom menjadi tidak mungkin.
Meski jalur diplomasi masih terbuka, peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah—yang disebut terbesar sejak invasi ke Irak pada 2003—menjadi sinyal bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran belum mereda. (ori)



Tinggalkan Balasan