
Granada (Trigger.id) – Di kaki perbukitan Sierra Nevada, Ramadan hadir dengan suasana yang berbeda di Granada. Kota di selatan Spanyol ini bukan hanya terkenal karena keindahan Alhambra, tetapi juga karena jejak panjang peradaban Islam yang masih terasa di lorong-lorong tua Albaicín.
Saat matahari perlahan tenggelam di balik dinding merah Alhambra, aroma sup harira, kurma, dan teh mint mulai menyeruak dari rumah-rumah dan restoran halal di sekitar Mezquita Mayor de Granada. Di halaman masjid yang menghadap langsung ke Alhambra, umat Muslim dari berbagai latar belakang—Maroko, Suriah, Pakistan, hingga mualaf Spanyol—berkumpul menanti azan magrib.
Ramadan di Granada adalah pertemuan sejarah dan harapan. Di kota yang pernah menjadi benteng terakhir kekuasaan Islam di Semenanjung Iberia sebelum jatuh pada 1492, umat Muslim kini kembali menapaki identitasnya sebagai bagian dari masyarakat modern Spanyol. Mereka bukan mayoritas, tetapi kehadirannya terasa hidup.
Pada siang hari, ritme kota berjalan seperti biasa. Turis memenuhi kawasan Albaicín dan Sacromonte, kafe-kafe tetap ramai. Namun bagi Muslim setempat, hari-hari Ramadan diisi dengan bekerja atau kuliah sambil menahan lapar dan dahaga yang bisa berlangsung lebih dari 14 jam, tergantung musim.
Menjelang berbuka, suasana berubah. Toko-toko kecil milik warga keturunan Afrika Utara dipadati pembeli yang mencari bahan makanan khas Ramadan. Anak-anak berlarian di pelataran masjid, sementara para orang tua berbincang dalam campuran bahasa Arab dan Spanyol.
Salat tarawih menjadi momen paling syahdu. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an menggema lembut, berpadu dengan udara malam yang sejuk. Dari teras masjid, cahaya Alhambra yang temaram seakan menjadi saksi bisu bahwa sejarah dan spiritualitas masih berjalin erat di kota ini.
Bagi banyak Muslim di Granada, Ramadan bukan sekadar ibadah personal, melainkan juga ruang membangun jembatan sosial. Beberapa komunitas rutin menggelar buka puasa bersama yang terbuka untuk warga non-Muslim. Mereka berbagi makanan sekaligus cerita, mengikis prasangka lewat percakapan hangat.
Di tengah dinamika Eropa modern, Ramadan di Granada menghadirkan wajah Islam yang damai dan inklusif. Ia hidup dalam bisikan doa, dalam tawa anak-anak di halaman masjid, dan dalam keyakinan bahwa cahaya spiritual selalu menemukan jalannya—bahkan di kota yang pernah kehilangan, lalu menemukan kembali, jejaknya. (ian)



Tinggalkan Balasan