
Surabaya (Trigger.id) – Di setiap perayaan Idul Fitri, ada satu pemandangan yang nyaris tak pernah berubah: deretan toples berisi kue kering di ruang tamu. Di antara berbagai pilihan, dua nama selalu hadir dan seolah tak tergantikan—nastar dan kastengel. Keduanya bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari ingatan kolektif yang terus hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Nastar, dengan bentuk bulat mungil dan isian selai nanas yang manis-asam, selalu menjadi favorit lintas generasi. Sementara kastengel, dengan cita rasa gurih dari keju yang kuat, menawarkan sensasi berbeda yang melengkapi kehangatan suasana Lebaran. Perpaduan keduanya menciptakan keseimbangan rasa—manis dan asin—yang seolah mencerminkan harmoni dalam kebersamaan keluarga.
Menariknya, kedua kue ini memiliki akar sejarah yang panjang. Nastar diyakini berasal dari pengaruh kuliner Belanda pada masa kolonial, dari kata ananas dan taart. Di Indonesia, ia bertransformasi menjadi versi mini yang praktis. Kastengel pun demikian, berasal dari kaasstengels yang berarti batang keju, lalu diadaptasi menjadi kue kering dengan cita rasa khas Nusantara.
Menurut pakar kuliner dan pembuat kue, Sisca Soewitomo, kekuatan nastar dan kastengel justru terletak pada kesederhanaannya. “Kunci kue kering Lebaran itu bukan hanya di resep, tapi di ketelatenan. Nastar harus lembut dengan isian yang seimbang, sementara kastengel harus terasa kejunya tanpa terlalu keras,” ujarnya dalam berbagai kesempatan berbagi resep.
Lebaran, Saatnya Kastengel dan Nastar Unjuk Gigi
Lebaran menjadi momen di mana kedua kue ini tidak hanya disajikan, tetapi juga diproduksi secara besar-besaran. Dapur-dapur rumah tangga berubah menjadi ruang kreativitas. Ibu, nenek, hingga anak-anak terlibat dalam proses membuat adonan, membentuk, hingga memanggang. Aktivitas ini bukan sekadar memasak, melainkan tradisi yang mempererat hubungan keluarga.
Chef pastry William Wongso juga menilai bahwa kue kering Lebaran adalah bentuk akulturasi budaya yang berhasil. “Kita tidak sekadar meniru resep Barat, tapi mengolahnya sesuai karakter lokal. Itu yang membuat nastar dan kastengel punya identitas Indonesia,” jelasnya.
Di tengah perkembangan zaman, kue kering Lebaran terus berinovasi. Nastar hadir dengan berbagai varian, sementara kastengel tampil lebih modern dengan bahan premium. Namun, versi klasik tetap menjadi primadona. Ada rasa yang tak tergantikan—rasa yang membawa pulang kenangan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kue kering Lebaran bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang nostalgia. Satu gigitan nastar bisa membawa seseorang kembali ke masa kecil, ke suasana rumah yang ramai, atau ke sosok ibu yang sibuk di dapur. Begitu pula kastengel, yang sering kali menjadi teman setia obrolan hangat saat silaturahmi.
Pada akhirnya, nastar dan kastengel adalah lebih dari sekadar kue. Mereka adalah simbol kebersamaan yang terus hidup. Di setiap Lebaran, keduanya kembali hadir, mengingatkan bahwa dalam tradisi, yang sederhana justru menjadi yang paling bermakna. (ian)



Tinggalkan Balasan