
Bangkok (Trigger.id) – Di tengah tekanan global yang memicu kenaikan harga energi dan berdampak pada industri penerbangan, Thailand memilih tidak tinggal diam. Negeri Gajah Putih itu justru tancap gas, merancang berbagai strategi kreatif untuk menjaga denyut sektor pariwisatanya tetap hidup dan menggoda wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Langkah cepat ini lahir dari kekhawatiran pelaku industri penerbangan yang tergabung dalam Airlines Association of Thailand. Mereka menilai lonjakan biaya operasional akibat fluktuasi harga minyak dunia mulai membebani maskapai. Situasi geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah, turut memperparah tekanan tersebut.
Di tengah kondisi itu, Presiden AAT, Puttipong Prasarttong-Osoth, menyuarakan perlunya “napas tambahan” bagi industri penerbangan. Salah satu solusi yang didorong adalah pemangkasan sementara pajak bahan bakar untuk penerbangan domestik, agar harga tiket tetap terjangkau dan tidak membebani wisatawan.
Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Perjalanan domestik di Thailand memiliki peran strategis dalam menyebarkan manfaat ekonomi pariwisata hingga ke daerah-daerah. Ketika wisatawan bergerak ke berbagai kota, roda ekonomi lokal ikut berputar.
Tak berhenti di situ, momentum Songkran 2026 dimanfaatkan sebagai ajang “serangan promosi”. Maskapai bersiap menambah frekuensi penerbangan sekaligus menawarkan potongan harga tiket hingga 30 persen melalui program khusus. Harapannya, lonjakan mobilitas wisatawan saat festival dapat dimaksimalkan.
Namun strategi paling menarik datang dari Tourism Authority of Thailand. Lembaga ini tengah menyiapkan program yang cukup menggiurkan: wisatawan asing yang membeli tiket internasional menuju Thailand akan mendapatkan tiket penerbangan domestik pulang-pergi secara gratis.
Program ini sejatinya bukan hal baru, tetapi sempat tertunda dan kini dihidupkan kembali sebagai upaya mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak destinasi, termasuk kota-kota sekunder yang selama ini kurang terekspos.
Selain itu, TAT juga mengoptimalkan anggaran promosi bertajuk “Thailand Summer Blast” untuk mendukung pembukaan rute-rute baru, baik ke destinasi utama maupun alternatif. Langkah ini diharapkan mampu memperluas sebaran wisatawan sekaligus memperkaya pengalaman perjalanan mereka.
Perubahan strategi juga terlihat dari arah pasar yang dibidik. Menurunnya jumlah wisatawan jarak jauh dari Eropa dan Amerika Serikat—bahkan disebut mencapai sekitar 30 persen—mendorong Thailand mengalihkan fokus ke pasar regional. Negara-negara di Asia seperti China, Korea Selatan, Jepang, India, Malaysia, Indonesia, hingga Singapura kini menjadi target utama.
Di antara semuanya, pasar China masih menjadi tumpuan besar. Selain jumlah wisatawan yang signifikan, pendekatan promosi dua arah—mendorong warga Thailand dan China saling berkunjung—dinilai mampu menciptakan keseimbangan dan mengurangi ketergantungan pada satu arus wisata.
Sementara itu, sektor perhotelan menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Data dari Thai Hotels Association mencatat pemesanan kamar masih lebih tinggi dibandingkan pembatalan, khususnya di segmen hotel mewah. Meski demikian, pelaku industri tetap waspada terhadap perubahan tren pasar global.
Berbagai stimulus tambahan pun terus digulirkan, mulai dari subsidi penerbangan charter hingga program wisata domestik berbasis skema pembiayaan bersama. Semua ini menjadi bagian dari upaya besar Thailand untuk menjaga daya saingnya sebagai destinasi unggulan dunia.
Bagi wisatawan, langkah agresif ini tentu menjadi kabar menggembirakan. Liburan ke Thailand kini bukan hanya lebih terjangkau, tetapi juga menawarkan peluang menjelajahi lebih banyak tempat dengan cara yang lebih mudah dan menarik. (ian)



Tinggalkan Balasan