

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ujian. Ini adalah sebuah kepastian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Bahkan para Nabi, manusia terbaik pilihan Allah SWT, tetap diuji dengan berbagai cobaan yang berat. Dari sinilah kita memahami bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang sarat makna.
Bentuk ujian yang dihadapi manusia pun beragam. Ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta, sakit berkepanjangan, keterbatasan fisik atau mental, masalah dalam keluarga, kesempitan rezeki, hingga pengkhianatan dari orang terdekat. Semua ini sering kali mengguncang hati, bahkan tidak jarang membuat seseorang terjatuh dalam keputusasaan dan prasangka buruk kepada Allah SWT.
Padahal, Islam dengan tegas mengajarkan bahwa ujian adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ
“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan beratnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” (HR. Ibnu Majah)
Lebih dari itu, Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa ujian adalah keniscayaan dalam kehidupan:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini memberikan pemahaman yang sangat kuat bahwa ujian adalah bagian dari skenario kehidupan yang telah Allah tetapkan. Oleh karena itu, yang terpenting bukanlah menghindari ujian, tetapi bagaimana kita menyikapinya dengan benar.
Ada beberapa sikap utama yang perlu kita tanamkan agar tetap kokoh di tengah ujian.
Pertama, menyadari bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan. Kesadaran ini akan membuat hati lebih siap menerima kenyataan dan tidak mudah goyah saat cobaan datang.
Kedua, bersabar dalam setiap cobaan. Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan tetap teguh sambil terus berikhtiar. Kita juga dianjurkan untuk melihat orang lain yang ujiannya lebih berat, agar tumbuh rasa syukur dalam diri.
Ketiga, memperbanyak doa dan zikir. Allah SWT berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al-Ghafir: 60)
Doa menjadi penguat jiwa, penenang hati, sekaligus bukti ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya.
Keempat, bertawakal kepada Allah SWT. Setelah berusaha maksimal, serahkan hasilnya kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
“… Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali-Imran: 159)
Dengan tawakal, hati akan dipenuhi ketenangan, optimisme, dan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kendali Allah.
Kelima, mengambil hikmah dari setiap ujian. Di balik setiap kesulitan, tersimpan pelajaran berharga. Ujian dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, sekaligus mengikis kesombongan yang mungkin tumbuh dalam diri.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegelisahan, gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari)
Akhirnya, ujian seharusnya tidak membuat kita menjauh dari Allah, melainkan semakin mendekat kepada-Nya. Jangan sampai hati kita menyimpang setelah mendapatkan petunjuk. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah:
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang kuat dalam menghadapi ujian, sabar dalam cobaan, dan selalu bertawakal kepada-Nya. Aamiin.
—000—
*Pembina Yayasan STIDKI Surabaya



Tinggalkan Balasan