
Beijing (Trigger.id) – Gemerlap layar lebar di Shanghai pada Juni 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi sineas dunia, tetapi juga menjadi ruang bagi perfilman Indonesia untuk menunjukkan kualitasnya di hadapan publik internasional.
Dalam ajang The 28th Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026, empat film Indonesia hadir membawa beragam warna dan kekayaan cerita yang merepresentasikan wajah sinema nasional.
Keempat film tersebut adalah Jumbo, Yuni, Garuda di Dadaku, dan Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (My Own Last Supper). Kehadiran mereka bukan sekadar melengkapi daftar peserta festival, melainkan menjadi bukti bahwa karya-karya sineas Indonesia semakin mendapat tempat dalam percaturan perfilman dunia.
Sorotan utama tertuju pada My Own Last Supper (MOLS), film garapan Ismail Basbeth yang berhasil menembus nominasi Main Competition Golden Goblet Award, penghargaan paling prestisius dalam SIFF. Film ini bahkan telah lebih dahulu diputar bagi penonton internasional pada 16 Juni 2026, membuka ruang dialog antara kisah yang lahir dari Indonesia dengan audiens lintas budaya.
Di ranah animasi, Garuda di Dadaku karya Ronny Gani juga mencatatkan prestasi dengan masuk sebagai nominasi Golden Goblet Award untuk kategori animasi. Kehadiran dua nominasi tersebut menandai semakin beragamnya genre film Indonesia yang mampu bersaing di panggung internasional.
Partisipasi Indonesia semakin kuat dengan dipercaya-nya sutradara sekaligus produser Kamila Andini sebagai salah satu juri Golden Goblet kategori Asian New Talent. Penunjukan ini mencerminkan pengakuan dunia terhadap kapasitas insan perfilman Indonesia, bukan hanya sebagai pembuat karya, tetapi juga sebagai penilai karya-karya terbaik Asia.
Momentum tersebut turut dirayakan melalui kegiatan nonton bersama My Own Last Supper yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Matta Cinema, dan Ruang Basbeth Bercerita. Sebanyak 188 penonton memenuhi CMG Cinema Shanghai, terdiri atas pejabat pemerintah, korps diplomatik negara sahabat, jurnalis internasional, akademisi, pelaku industri film, hingga masyarakat Indonesia dan diaspora yang bermukim di Shanghai.
Sebelum film diputar, para hadirin berkesempatan mengikuti sesi diskusi bersama produser, sutradara, dan pemeran utama. Percakapan itu menjadi ruang untuk mengupas proses kreatif sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya yang tersimpan di balik cerita film.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, menilai capaian tersebut merupakan cerminan dari perkembangan pesat perfilman Indonesia. Menurutnya, karya-karya sineas nasional kini semakin memperoleh pengakuan internasional. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan My Own Last Supper di SIFF menunjukkan cerita lokal yang dikemas secara autentik mampu menarik perhatian sekaligus diterima oleh penonton dunia.
Pandangan serupa disampaikan Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir. Ia melihat film sebagai medium yang mampu menjembatani perbedaan budaya, memperkenalkan identitas bangsa, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui industri kreatif.
Upaya memperluas jejaring internasional juga dilakukan melalui penyelenggaraan Indonesia Film Talk di SIFF Market pada 21 Juni 2026. Forum tersebut menghadirkan sutradara dan produser My Own Last Supper untuk berbagi pengalaman sekaligus mempromosikan perkembangan industri perfilman Indonesia kepada pelaku industri global.
Lebih dari sekadar meraih penghargaan, kehadiran film-film Indonesia di Shanghai menjadi simbol semakin terbukanya jalan bagi sinema nasional untuk memasuki pasar internasional. Di balik setiap adegan dan cerita yang ditampilkan, tersimpan harapan bahwa karya anak bangsa tidak hanya diapresiasi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi duta budaya yang memperkuat citra Indonesia, memperluas kolaborasi global, serta meningkatkan daya saing industri kreatif nasional di masa depan. (wah)



Tinggalkan Balasan