

BismillahirrahmanirrahimAlhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walaah.
Allah SWT berfirman:”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Dan Allah juga berfirman:”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya).” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Jika direnungkan dengan saksama, sesungguhnya kehidupan manusia berputar pada dua penantian yang pasti. Pertama, menanti datangnya waktu shalat. Kedua, menanti datangnya kematian yang tidak seorang pun mengetahui kapan ia akan tiba.
Sejak fajar menyingsing hingga malam menutup hari, seorang muslim dipanggil lima kali67 I’ll bebahwa hakikat keberadaan manusia adalah sebagai hamba Allah.
Di antara jeda lima waktu itulah kita bekerja, belajar, berdagang, memimpin, mencari nafkah, dan menjalankan berbagai aktivitas dunia. Namun semua itu sejatinya hanyalah bagian dari ikhtiar untuk menguatkan penghambaan kepada Allah, bukan tujuan akhir kehidupan.
Karena itu, shalat tidak semestinya dipahami hanya sebagai rutinitas atau kewajiban yang menggugurkan dosa. Shalat adalah kebutuhan ruhani yang tidak tergantikan. Di dalamnya seorang hamba melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dari godaan harta, jabatan, pujian manusia, perselisihan, dan segala hal yang sering menyita hati. Ketika berdiri, rukuk, sujud, dan duduk dalam shalat, seorang mukmin sedang membangun kembali koneksi terdalam dengan Rabb yang menciptakan, mengatur, dan menghidupkannya.
Shalat mengajarkan kerendahan hati. Di hadapan Allah, semua status sosial, kekuasaan, dan kemegahan dunia kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang mengakui kelemahan dirinya dan menggantungkan seluruh harapan kepada Rabb semesta alam.
Mengapa shalat menjadi begitu penting
Pertama, karena ia merupakan perintah langsung dari Allah kepada Rasulullah SAW pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj tanpa perantara Malaikat Jibril. Keistimewaan ini menunjukkan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Allah juga menegaskan bahwa shalat menjadi benteng yang menjaga manusia dari perbuatan keji dan mungkar.
Kedua, shalat adalah manifestasi penghambaan kepada Allah. Bukankah Allah telah menegaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya? (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ketiga, Rasulullah SAW menyebut shalat sebagai tiang agama. Sebagaimana bangunan tidak akan kokoh tanpa tiang penyangga, demikian pula agama seseorang akan rapuh apabila shalatnya diabaikan.
Keempat, shalat menjadi identitas yang membedakan seorang muslim dengan orang yang mengingkari Allah. Karena itu, menjaga shalat berarti menjaga jati diri keimanan.
Kelima, shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Baiknya shalat menjadi pertanda baiknya amalan-amalan yang lain.
Keenam, shalat menjadi sarana penyucian jiwa. Dengan keikhlasan dan kekhusyukan, Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang senantiasa kembali kepada-Nya dengan taubat dan amal saleh.
Ketujuh, Al-Qur’an memuji orang-orang yang menjaga shalatnya dan memberikan peringatan keras kepada mereka yang melalaikannya. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah sangat tercermin dari bagaimana ia memelihara shalatnya.
Pada akhirnya, shalat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, melainkan kebutuhan yang harus dirasakan. Semakin dekat seseorang kepada Allah melalui shalatnya, semakin tenang hatinya menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sebaliknya, ketika shalat mulai diabaikan, kegelisahan, kehampaan, dan kekacauan batin perlahan akan mengambil tempat di dalam hati.
Maka marilah kita menjadikan setiap azan sebagai panggilan cinta dari Allah, bukan sekadar tanda pergantian waktu. Jadikan shalat sebagai tempat kembali ketika hati lelah, ketika pikiran buntu, ketika rezeki terasa sempit, maupun ketika nikmat melimpah. Sebab hanya dengan mengingat Allah, hati akan memperoleh ketenangan yang sejati.
Di hari Jumat yang penuh keberkahan ini, marilah kita memperbarui komitmen untuk menjaga shalat, memperbaiki kekhusyukan, dan mengajarkannya kepada keluarga serta generasi penerus kita.Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga shalat hingga akhir hayat.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
—000—
Pembina STIDKI ArRahmah Surabaya



Tinggalkan Balasan