
Surabaya (Trigger id) – Setiap kali tim nasional Jepang tampil di panggung Piala Dunia, ada satu pemandangan yang hampir selalu mengundang decak kagum. Seusai pertandingan berakhir dan sebagian besar penonton beranjak pulang, sekelompok pendukung Samurai Biru justru tetap bertahan di tribun. Mereka memunguti botol plastik, kemasan makanan, dan berbagai sampah lain, lalu memasukkannya ke dalam kantong yang telah mereka siapkan.
Kebiasaan itu telah lama menjadi simbol kedisiplinan dan budaya bersih masyarakat Jepang. Di berbagai edisi Piala Dunia, aksi tersebut berulang kali dipuji sebagai contoh tanggung jawab sosial yang layak ditiru.
Namun, Piala Dunia 2026 menghadirkan cerita yang berbeda.Alih-alih hanya menuai apresiasi, foto-foto para suporter Jepang yang membersihkan stadion justru memicu perdebatan di negeri mereka sendiri. Di media sosial, muncul kritik bahwa semangat menjaga kebersihan di ruang publik belum tentu sejalan dengan pembagian tanggung jawab di dalam rumah.
Perdebatan itu semakin ramai setelah sebuah poster berbahasa Jepang viral. Poster tersebut menampilkan dua kontras yang mencolok. Pada gambar pertama, seorang laki-laki tampak memungut sampah di stadion seusai pertandingan. Pada gambar kedua, laki-laki yang sama digambarkan bersantai di sofa sambil memainkan telepon genggam, sementara istrinya mencuci piring sendirian di dapur.
Pesan yang menyertai ilustrasi itu sederhana tetapi mengena: laki-laki Jepang perlu lebih banyak membantu pekerjaan rumah tangga. Poster tersebut juga mengingatkan bahwa waktu yang dihabiskan laki-laki Jepang untuk pekerjaan domestik masih termasuk yang paling rendah di dunia.
Komentar publik pun bermunculan. Ada yang menyindir, “Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tetapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring.” Ada pula yang mengingatkan bahwa mungkin saja di antara para suporter yang membersihkan stadion terdapat seorang ayah yang meninggalkan seluruh tanggung jawab mengasuh anak kepada istrinya demi menyaksikan Piala Dunia.
Kritik tersebut tidak lahir tanpa dasar. Survei pemerintah Jepang pada 2021 menunjukkan bahwa di keluarga dengan dua orang tua yang sama-sama bekerja dan memiliki anak berusia di bawah enam tahun, perempuan menghabiskan lebih dari tujuh jam setiap hari untuk pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Sebaliknya, laki-laki rata-rata menghabiskan waktu kurang dari dua jam.
Data dari Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) juga menggambarkan kesenjangan yang serupa. Pada 2021, perempuan Jepang menghabiskan lebih dari tiga jam setiap hari untuk pekerjaan domestik yang tidak dibayar, sedangkan laki-laki hanya sekitar 47 menit. Angka tersebut menempatkan Jepang sebagai salah satu negara maju dengan partisipasi laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga yang paling rendah.
Fenomena ini memperlihatkan ironi yang menarik. Budaya menjaga kebersihan di ruang publik memang telah menjadi identitas masyarakat Jepang yang diakui dunia. Namun, bagi sebagian warga Jepang sendiri, ukuran kepedulian tidak berhenti di stadion atau jalanan. Nilai yang sama juga diharapkan hadir di ruang keluarga.
Pada akhirnya, membersihkan sampah di tribun memang mencerminkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Namun, membersihkan piring, menyapu lantai, atau berbagi tugas mengasuh anak di rumah adalah bentuk tanggung jawab yang tidak kalah penting. Sebab, masyarakat yang benar-benar beradab bukan hanya terlihat bersih di ruang publik, tetapi juga menghadirkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. (Ian)



Tinggalkan Balasan