

Saudara sekalian, Terkadang kita melihat seseorang yang berusaha mati-matian untuk mewujudkan harapan baiknya, tetapi yang terjadi justru kebalikan dari apa yang diinginkannya.Terkadang kita tidak mampu bersabar, merasa sedih, dan mengira bahwa takdir tersebut adalah sebuah pukulan yang akan memusnahkan setiap harapan hidup dan cita-cita.
Padahal, terkadang apa yang kita anggap buruk justru merupakan jalan terbaik yang Allah pilihkan. Sedangkan apa yang kita inginkan dan kita anggap baik, belum tentu membawa kebaikan bagi kita.
Bisa jadi Allah memberi pasangan yang buruk kepada seorang yang baik. Mengapa?“Bisa jadi Allah sedang mengubah cara hatinya memandang pernikahan. Karena tidak semua pernikahan yang penuh luka berarti sia-sia. Ada yang menjadi jalan untuk belajar sabar, tahu batas tanggung jawab, dan kembali bergantung kepada Allah.
”Berkacalah pada kisah ibu Nabi Musa AS ketika harus menghanyutkan buah hatinya ke sungai. Betapa sedihnya hati seorang ibu, tetapi pada akhirnya justru dari peristiwa itulah keselamatan dan kemenangan Nabi Musa AS berawal.Lihat pula kisah Nabi Yusuf AS. Beliau harus berpisah dengan ayahnya, Nabi Ya’qub AS. Beliau dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri, kemudian diselamatkan oleh kafilah dagang dan dijual sebagai budak. Namun, pada akhirnya kisah Nabi Yusuf AS berujung pada kemuliaan dan kemenangan.
Maka, lihatlah hikmah yang begitu besar di balik setiap peristiwa duka tersebut.Renungkanlah akhir ayat ini:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 216)
Kita hanyalah makhluk yang penuh keterbatasan, hingga sering lupa bahwa apa pun yang telah Allah takdirkan mengandung hikmah dan kebaikan menurut ilmu-Nya. Dialah Dzat Yang Maha Mengetahui kebaikan bagi para hamba-Nya.
Jangan pernah percaya pada propaganda bahwa ada kekuatan yang tidak terkalahkan di dunia ini.Jadikan Allah sebagai sumber optimisme, sebab kendali tidaklah berada di tangan manusia, sekuat apa pun dia. Allah mengatur segala sesuatu dan kendali selalu tetap berada di tangan-Nya.
Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak kepada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun terkadang kita akan tampak lugu dan naif, tetapi begitulah cara kita menjalani kehidupan ini.
Semoga kita selalu dikuatkan Allah dalam keyakinan, tawakal, kesabaran, dan terus berprasangka baik (husnuzan) kepada-Nya. Sebab, takdir Allah selaras dengan prasangka baik hamba kepada-Nya.
JUM’AT MUBARAK
اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ، وَصَبِّرْنِي عَلَى بَلَائِكَ، وَأَوْزِعْنِي شُكْرَ نِعَمِكَ
“Ya Allah, jadikanlah aku ridha dalam menerima ketentuan-Mu, jadikanlah aku sabar dalam menerima ujian-Mu, dan jadikanlah aku selalu mensyukuri semua nikmat-Mu.”
000—000
*Pembina Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Surabaya



Tinggalkan Balasan