• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Penyakit “Misterius”, Hikmah Berharga Dari Kongo

15 Desember 2024 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*

Untuk sekian kalinya mata dunia tertuju ke Kongo. Para pengambil kebijakan di berbagai negara diterpa kekhawatiran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai badan dunia yang paling berkepentingan, segera merespons. Pasalnya provinsi Kwango di Republik Demokratik Kongo (RDK), dilanda penyakit “misterius”. Dalam tempo relatif singkat (akhir Oktober-5 Desember 2024), wabah menyerang sekitar 400 penduduk. Sebanyak 31 orang dilaporkan tewas. Artinya angka mortalitasnya mencapai 7,6 persen. Wajar bila terjadi kekhawatiran pada banyak pihak. Bila dibandingkan dengan COVID-19, angka tersebut berbeda cukup signifikan. Persentase kematian pada penyakit penyebab pandemi terakhir kali itu, ditargetkan hanya satu persen saja.

Beberapa waktu yang lalu, RDK ditetapkan menyandang status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) oleh WHO. Peristiwanya terjadi pada 14 Agustus 2024. Mpox atau sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet, adalah biang penyebabnya. Itu bukanlah penetapan PHEIC untuk pertama kalinya. Problem darurat yang sama di RDK, juga pernah diumumkan pada bulan Juli 2022. PHEIC merupakan “peristiwa luar biasa” yang merupakan indikator tingkat kewaspadaan tertinggi. Artinya memiliki konsekuensi yang “serius, mendadak, tidak wajar, atau tidak terduga”. Legalitasnya berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation/IHR) Tahun 2005. Persoalan tersebut mengharuskan respons segera yang terkoordinasi dari semua negara di dunia.

Penyakit “misterius” yang kini terjadi di RDK, belum ditetapkan sebagai PHEIC. Para ahli WHO dan peneliti sedang mengkaji, apa sebenarnya yang melatarbelakangi penyebabnya. Sejatinya WHO telah memprediksi, bahwa suatu saat pandemi akan melanda dunia. Dalam cetak birunya tahun 2018, dunia harus cepat merespons dan merancang suatu tindakan, apabila terjadi wabah di suatu negara tertentu. Terminologi “penyakit X” adalah etiologi hipotetis mikroba tertentu yang berpotensi memantik wabah. Pandemi COVID-19 yang diawali dari Wuhan-China pada akhir tahun 2019, memenuhi kriteria sebagai “penyakit X” untuk pertama kalinya. Trauma pandemi COVID-19, memicu kekhawatiran bahwa RDK merupakan episentrum baru terjadinya wabah.

Baca juga: Rokok, Judol, dan Narkoba, Relasi Antara Legal dan Ilegal

Mengapa RDK ?

Merebaknya suatu penyakit menular, selalu berkaitan dengan interaksi tiga unsur. Faktor inang/populasi yang rentan, lingkungan yang sesuai, dan mikroba patogen, akan saling memengaruhi. Kini RDK sedang menghadapi banyak masalah. Negara tersebut merupakan negara terbesar kedua di Afrika. Populasinya mencapai 109 juta jiwa, dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Kendala terbesarnya menyangkut stabilitas politik yang rendah, minimnya infrastruktur, korupsi, perang saudara yang tak berkesudahan, dan indeks pembangunan manusia (IPM) yang tergolong rendah di dunia. Peringkatnya hanya menempati posisi ke-179, dari 191 negara di seluruh dunia.

Menurut laporan Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara tersebut mengalami tingkat kerawanan pangan darurat. Khususnya di provinsi Kwango, banyak anak-anak yang mengalami krisis gizi. Sarana diagnostik, perawatan kesehatan, dan capaian vaksinasinya pun tergolong serba terbatas. Musim hujan yang saat ini terjadi, menambah kian rumitnya penanganan wabah di provinsi setempat. Alhasil berbagai masalah yang terjadi di RDK, membawa dampak pada lambatnya sistem pelaporan deteksi dini penyakit yang berpotensi wabah.

Mikroba patogen

Gejala penyakit yang dilaporkan terjadi di Provinsi Kwango, disebut-sebut mirip flu. Rata-rata korbannya mengalami demam tinggi, sakit kepala, badan terasa nyeri, dan batuk-pilek. Mayoritas juga disertai anemia. “Anehnya” meski mirip flu, namun fatalitasnya cukup tinggi. Misteri itu sedikit terkuak, dengan terdeteksinya parasit malaria pada sampel darah sebagian penderita. Gambaran penyakit yang tidak lazim tersebut, diduga bukanlah disebabkan oleh mikroba tunggal. Kini penelitian sedang berlangsung, untuk mengungkap kepastian apakah ada penyebab penyerta lainnya.

Berbagai penyakit diketahui endemis di RDK. Malaria dan Mpox, dikenal sebagai kasus endemis utama. Ada pula demam berdarah dengue (DBD) dan Chikungunya. Seperti halnya malaria, kedua penyakit virus itu ditularkan melalui gigitan nyamuk dengan spesies yang berbeda. Musim hujan yang kini sedang terjadi, disinyalir memantik peningkatan populasi nyamuk sebagai vektor/pembawa penyakit.

Negara yang terletak di bagian tengah-barat Afrika Sub-Sahara tersebut, juga dikenal memiliki angka tuberkulosis dan HIV/AIDS yang tinggi. Ada pula penyakit yang jarang ditemukan di negara-negara lain, tetapi endemis di RDK. Contohnya adalah neglected tropical diseases (antara lain : filariasis, helminthiasis, schistosomiasis, dan onchocerciasis). Semuanya mencerminkan buruknya sanitasi dan higienitas.

Risiko terjadinya wabah lebih memungkinkan terjadi, apabila disebabkan oleh mikroba yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi. Bisa juga dipicu oleh mikroba yang sudah diketahui, tetapi mengalami evolusi. Khususnya yang ditularkan melalui hewan (zoonosis).
Inang/populasi yang rentan.

Hampir keseluruhan kasus yang dilaporkan di RDK, terjadi pada anak-anak dengan gizi buruk. Masalah stunting/tengkes, mengakibatkan sistem imunitas tidak kompeten menghadapi infeksi. Infeksi apa pun yang berkategori ringan pada individu yang sehat, bisa bermanifestasi lebih berat, bahkan menjurus fatal pada anak dengan gizi buruk. Apalagi bila terjadi infeksi ganda pada inang/populasi yang terpapar tersebut.

Ada aspek yang perlu mendapatkan perhatian khusus, apabila infeksi terjadi pada individu dengan sistem imun yang terganggu (imunodefisiensi/immunocompromised). Pada umumnya mereka akan mendapatkan pengobatan anti mikroba yang lebih kuat, dosis yang lebih tinggi, dan jangka waktu pemberian yang lebih lama. Dengan sendirinya memantik biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi.

Kini semakin banyak laporan terkait meningkatnya kasus malaria yang kebal terhadap pengobatan. Fenomena itu terjadi juga di RDK dan negara-negara Afrika lainnya, serta di Indonesia (khususnya Indonesia Timur).

Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kasus yang terjadi di RDK. Stabilitas politik dan ekonomi, mendasari solusi persoalan sosial dan kesehatan yang terjadi di masyarakat. Apabila terjadi peningkatan kasus penyakit yang tidak lazim terjadi, respons tanggap darurat kesehatan diharapkan akan berjalan efektif.

—–o—–

*Penulis:

  • Staf pengajar senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
  • Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
  • Penulis buku:
    – Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
    – Serba-serbi Obrolan Medis
    – Catatan Harian Seorang Dokter
Share This :

Ditempatkan di bawah: Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:Berharga, Hikmah, Kongo, Misterius, penyakit, WHO

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Surabaya Petakan Venue Cabor Jelang Tuan Rumah Porprov 2027

11 Oktober 2026 By admin

Prof Inung : Jangan Asal Kuliah UIN, Santri Harus Kuasai Teknologi

11 Oktober 2026 By admin

Kajian Ahad Dhuha Forsikom: Sembilan Obat Malas

11 Oktober 2026 By admin

500 Undangan HUT ke-81 Jatim Ludes 31 Detik

10 Oktober 2026 By admin

TKD Tembus Rp 599,2 T Sampai September, Stimulus Daerah Diperkuat

10 Oktober 2026 By admin

Veda Pratama Ikut Kualifikasi Moto3 Mandalika

9 Oktober 2026 By admin

Cium Bau Gas LPG ? Jangan Nyalakan Sakelar, Ini Langkah Aman Mengatasinya

9 Oktober 2026 By admin

Biaya Haji 2027 Turun Rp 3,4 Juta, Pelunasan Jemaah Jadi Rp 23 Juta

8 Oktober 2026 By admin

1.000 Guru TK, RA, dan TPQ Jatim Dapat Kacamata Gratis

8 Oktober 2026 By admin

Taisei Marukawa, Mimpi Garuda dari Tanah Sakura

8 Oktober 2026 By admin

Kick Off Hari Santri di Tuban, Disiapkan 14 Agenda Kegiatan

7 Oktober 2026 By admin

Hormati Putusan MK, Gibran Siap Follow Up Terkait Ijazah

7 Oktober 2026 By admin

Kemenag : Penghulu Bisa Jadi Agen Warga Daftar Perlinsos

7 Oktober 2026 By admin

Jawara FIFA ASEAN Cup 2026 Lewat Adu Penalti

6 Oktober 2026 By admin

Herdman Ingin Hentikan Dominasi Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026

5 Oktober 2026 By admin

Pemerintah Siapkan Rp 31 T, Usia Diatas 17 Tahun Dapat Rekening Bank

5 Oktober 2026 By admin

Prabowo Resmikan 204 Satuan TNI dan 6 Kodam Baru

5 Oktober 2026 By admin

Logo HUT Ke-81 Jatim Tegaskan Arah Pembangunan Berkelanjutan

4 Oktober 2026 By admin

Kemkomdigi : Notifikasi Tak Cukup, Operator Harus Lindungi Sisa Kuota Pelanggan

4 Oktober 2026 By admin

KCL Singhasari Siapkan Dua Magister Baru, Fokus Perkuat Keamanan Siber

3 Oktober 2026 By admin

Dekananto Eko Purwono Dipercaya Jadi Kapolda Jatim

3 Oktober 2026 By admin

“Batik Berlayar” Merawat Tradisi Menggairahkan Ekonomi

2 Oktober 2026 By admin

Gubernur Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 30 November 2026

2 Oktober 2026 By admin

Jelang Konferensi PWI Jatim, DPS Keluar, Masa Sanggah hingga 2 Oktober 2026

1 Oktober 2026 By admin

PBNU Umumkan 210 Pengurus Periode 2026-2031, Gus Kikin Tekankan Pemerataan Kader

1 Oktober 2026 By isa

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Pasokan BBM Malang Raya Ditambah 120 %, Warga Jangan Panic Buying
  • Stok Pertalite Turun Jadi 16-18 Hari Pasca Harga Pertamax Naik
  • PM2.5 Picu Kualitas Udara Surabaya Memburuk, Warga Diimbau Waspada
  • Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, IHSG Anjlok hingga 8 Persen
  • Prof Masdar Hilmy Resmi Pimpin UINSA

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.