
Banyuwangi (Trigger.id)– Suasana Pantai Pulau Santen, Banyuwangi, Jawa Timur, diwarnai aksi konservasi ketika wisatawan dan warga melepasliarkan tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) ke laut, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan tersebut bukan sekadar menjadi atraksi wisata, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan satwa laut yang populasinya menghadapi berbagai ancaman.
Tukik yang dilepas merupakan hasil penetasan dengan metode Inkubasi Buatan (Intan) yang dikembangkan oleh Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF) atau Yayasan Penyu Banyuwangi. Mengutip laman LKBN Antara, sejumlah wisatawan turut terlibat langsung dalam pelepasliaran.BSTF merupakan organisasi nirlaba dan nonpemerintah yang didirikan di Banyuwangi pada 27 Juli 2011. Yayasan ini memiliki misi menyelamatkan dan melestarikan penyu di luar kawasan konservasi melalui berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi, penyelamatan telur dan penyu, pembesaran tukik, pelepasliaran, hingga kegiatan pembersihan pantai.
Salah satu aspek menarik dari konservasi yang dilakukan BSTF adalah penggunaan metode Inkubasi Buatan (Intan). Teknologi tersebut dikembangkan untuk menetaskan telur penyu dalam kondisi yang lebih terkontrol dibandingkan penetasan alami.Pelepasliaran di Pulau Santen menunjukkan bagaimana aktivitas wisata dapat dipadukan dengan pendidikan lingkungan.
Pengunjung tidak hanya menikmati kawasan pesisir, tetapi juga memperoleh kesempatan mengenal siklus hidup penyu dan memahami bahwa kelestarian satwa laut membutuhkan keterlibatan masyarakat.Pelepasliaran tukik pada akhirnya bukan sekadar momen melepas anak penyu ke laut.
Di balik tubuh kecil yang berjalan menuju garis air terdapat proses panjang penyelamatan telur, penetasan, perawatan, edukasi, hingga pengembalian satwa ke habitat alaminya.(wah)



Tinggalkan Balasan