
Gaza, Palestina (Trigger.id) – Untuk tahun ketiga berturut-turut, Ramadan datang ke Gaza bukan dengan gemerlap lampu dan tawa keluarga, melainkan dengan luka yang belum sembuh. Bulan suci yang dulu identik dengan meja makan penuh, jalanan ramai, dan pelukan hangat orang-orang tercinta, kini berlangsung di antara puing bangunan dan langit yang tak pernah benar-benar sunyi dari dengung drone.
Dulu, Ramadan adalah jeda paling damai dalam setahun. Kota Gaza bersolek. Pasar Souq Al-Zawiya yang bersejarah dipadati warga yang berburu lentera warna-warni, taplak meja baru, daging, rempah, acar, manisan, hingga mulukhiyah—hidangan hijau khas yang hampir selalu hadir di meja berbuka pertama keluarga Palestina. Anak-anak berlarian penuh suka cita, memilih lentera paling terang untuk digantung di balkon. Setelah azan Magrib, keluarga berkumpul, lalu malam diisi dengan salat Tarawih dan kunjungan dari rumah ke rumah.
Kini, kenangan itu terasa seperti milik kehidupan lain.
Sejak perang meletus, Gaza berubah drastis. Ramadan pertama datang di tengah kelaparan yang dipaksakan. Bantuan terhambat, bahan makanan menipis. Sekadar menemukan roti terasa seperti keajaiban. Daging, sayur, dan buah menghilang dari dapur jauh sebelum bulan suci dimulai. Dalam pengungsian yang berulang, puluhan anggota keluarga berbagi ruang sempit, nyaris tanpa ruang untuk merayakan apa pun. Berbuka puasa dilakukan dengan apa yang tersedia—lentil, kacang, nasi. Saat itu pun habis, rumput liar dikumpulkan untuk sekadar direbus.
Masjid-masjid banyak yang hancur. Salat Tarawih dipindahkan ke tenda, ruang kelas sekolah, atau sudut rumah sakit. Namun bahkan tempat-tempat itu tak sepenuhnya aman. Rasa khusyuk kerap terpotong oleh ledakan atau suara pesawat tanpa awak yang berputar di atas kepala.
Kehilangan menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan. Banyak keluarga tak lagi utuh. Orang-orang tercinta wafat—sebagian akibat kondisi medis yang tak tertangani karena keterbatasan obat dan akses layanan kesehatan. Penyakit yang mungkin bisa dicegah atau diobati berubah menjadi vonis yang sunyi. Meja makan yang dulu riuh kini menyisakan kursi kosong dan duka yang tak terucap.
Ramadan berikutnya sempat diawali dengan jeda senjata yang rapuh. Ada secercah harapan bahwa bulan suci bisa menjadi ruang pemulihan. Warga mencoba menggantung lampu kecil di balkon rumah yang sebagian runtuh. Pedagang kembali membuka lapak, menjual apa pun yang berhasil mereka dapatkan. Namun sebagian besar kota tetap gelap, listrik tak menentu, dan harga kebutuhan pokok melambung jauh dari jangkauan.
Setiap waktu berbuka, drone masih berdengung di langit. Suaranya menjadi latar tetap bagi doa-doa yang dipanjatkan. Di Gaza, bahkan momen paling sakral pun tak pernah sepenuhnya lepas dari ancaman.
Malam hari tak lagi ramai seperti dulu. Setelah Magrib, kegelapan menelan jalanan. Warga berjalan dengan lampu baterai atau lilin di tangan. Keluar rumah adalah risiko. Jalanan rusak dan berlubang, bangunan-bangunan sulit dikenali. Rumah yang dulu akrab kini berubah bentuk, sebagian runtuh, dikelilingi tenda darurat.
Namun di tengah semua itu, orang-orang tetap berusaha mempertahankan makna Ramadan. Mereka berbagi makanan seadanya, saling menguatkan, dan mengenang masa ketika bulan suci identik dengan kebersamaan, bukan ketakutan. Mereka berbicara tentang harapan, tentang hari ketika anak-anak bisa kembali memilih lentera paling terang tanpa dibayangi suara drone.
Ramadan di Gaza hari ini adalah kisah tentang kehilangan—kehilangan rumah, rasa aman, dan orang-orang tercinta. Tetapi ia juga tentang keteguhan. Tentang upaya menjaga iman dan kemanusiaan tetap menyala, sekecil apa pun cahayanya, di tengah gelap yang panjang.
Di bawah langit yang terus berdengung, warga Gaza masih berbuka puasa. Masih berdoa. Masih berharap. (ori)
Sumber: Berbagai



Tinggalkan Balasan