
Ponorogo (Trigger.id) – Suasana malam di kompleks Masjid Tegalsari, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, selalu menghadirkan nuansa berbeda saat memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Cahaya lampu temaram menyinari bangunan tua berarsitektur kayu jati, sementara puluhan hingga ratusan jemaah larut dalam zikir dan lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Mereka datang untuk beriktikaf, terutama pada malam-malam ganjil yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai malam “likuran”, demi menjemput keberkahan Lailatul Qadar.
Masjid bersejarah ini didirikan sekitar tahun 1724 oleh ulama kharismatik Ponorogo, Kiai Ageng Muhammad Besari. Sejak abad ke-18, masjid tersebut menjadi pusat syiar Islam sekaligus jantung pendidikan di kawasan pesantren Tegalsari yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari.
Bangunan masjid hingga kini masih mempertahankan bentuk aslinya. Struktur utamanya ditopang 36 tiang kayu jati besar yang dirangkai tanpa paku, menggunakan teknik sambungan tradisional. Atapnya berbentuk tajug bertingkat tiga—ciri khas arsitektur masjid Jawa kuno—yang melambangkan tahapan spiritual manusia dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Masjid ini sudah berusia lebih dari tiga abad, tetapi sebagian besar struktur kayunya masih asli. Dari dulu memang dibangun dengan teknik sambungan kayu tanpa paku,” ujar pengelola masjid, KH Ahmad Sholihin.
Menurutnya, tradisi iktikaf di Masjid Tegalsari telah berlangsung turun-temurun sejak masa pesantren menjadi pusat pendidikan ulama di Ponorogo. Pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan, jumlah jemaah meningkat signifikan.
“Malam likuran biasanya paling ramai. Ada yang dari Ponorogo, ada juga dari luar kota yang sengaja datang untuk beritikaf di tempat yang punya sejarah dakwah besar ini,” katanya.
Selain dikenal sebagai pusat ibadah, kawasan Tegalsari juga pernah menjadi pusat pendidikan Islam penting di Jawa. Salah satu tokoh yang tercatat pernah belajar di lingkungan pesantren ini adalah pujangga besar Jawa, Ranggawarsita, pada masa mudanya.
Bagi para jemaah, iktikaf di Tegalsari menghadirkan pengalaman spiritual tersendiri. Supriyanto (45), warga Madiun yang hampir setiap Ramadan datang ke lokasi tersebut, mengaku merasakan ketenangan berbeda.
“Rasanya lebih tenang. Karena tempat ini bersejarah dan dekat dengan makam ulama besar, jadi kita lebih khusyuk saat ibadah,” ujarnya.
Di kompleks yang sama juga terdapat makam Kiai Ageng Muhammad Besari yang kerap diziarahi peziarah dari berbagai daerah. Karena itu, selain menjadi lokasi iktikaf, Tegalsari berkembang sebagai destinasi wisata religi penting di Ponorogo.
Perpaduan nilai sejarah, tradisi pesantren, dan kekhusyukan ibadah menjadikan Masjid Tegalsari bukan sekadar bangunan tua. Bagi banyak orang, tempat ini adalah ruang spiritual untuk menelusuri jejak dakwah ulama Jawa sekaligus menjemput malam paling mulia di bulan Ramadan. (wah)



Tinggalkan Balasan