
Surabaya (Trigger.id) – Aroma opor ayam, gurihnya rendang, hingga kuah santan yang kental selalu menjadi ciri khas perayaan Idul Fitri. Di meja makan, hidangan bersantan seolah tak pernah absen, menjadi simbol kehangatan keluarga dan tradisi yang terus hidup dari tahun ke tahun. Namun di balik kelezatannya, ada hal penting yang sering terlupakan: bagaimana menikmatinya tanpa membebani tubuh.
Dokter spesialis penyakit dalam, Waluyo Dwi Cahyono, mengingatkan bahwa kunci utama bukan pada jenis makanan, melainkan pada cara mengonsumsinya. Menurutnya, tubuh manusia sebenarnya mampu menerima berbagai jenis makanan, termasuk yang bersantan, selama dikonsumsi dengan bijak.
Ia menjelaskan bahwa lambung memiliki “aturan alami” yang sering diabaikan. Idealnya, kapasitas lambung terbagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk cairan, dan sepertiga lagi untuk udara. Keseimbangan ini penting agar sistem pencernaan bekerja optimal. Ketika seseorang makan berlebihan—terutama makanan berat dan berlemak—ruang tersebut terganggu, memicu rasa begah, tidak nyaman, bahkan gangguan seperti Gastroesophageal Reflux Disease.
Fenomena ini kerap terjadi saat Lebaran, ketika keinginan mencicipi semua hidangan membuat porsi makan tak terkontrol. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu menu ke menu berikutnya, tubuh dipaksa bekerja ekstra tanpa jeda yang cukup.
Padahal, lemak dari santan bukanlah musuh sepenuhnya. Dalam jumlah yang tepat, lemak berperan penting dalam metabolisme tubuh, membantu regenerasi sel, serta melarutkan vitamin agar lebih mudah diserap. Masalah muncul ketika konsumsinya berlebihan. Lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan kadar kolesterol tertentu dan berpotensi memicu gangguan kesehatan, terutama pada jantung.
Di sinilah pentingnya kesadaran dalam menikmati hidangan. Mengatur porsi makan, memberi jeda antar waktu makan, serta menyeimbangkan dengan asupan cairan menjadi langkah sederhana namun berdampak besar. Tidak kalah penting, tubuh juga perlu “didengar”—rasa kenyang seharusnya menjadi sinyal untuk berhenti, bukan diabaikan.
Lebaran sejatinya adalah tentang kebahagiaan dan kebersamaan. Makanan hanyalah bagian dari perayaan, bukan tujuan utama. Menjaga kesehatan di tengah melimpahnya hidangan justru menjadi bentuk syukur yang lebih dalam—bahwa nikmat tidak hanya dirasakan di lidah, tetapi juga dalam tubuh yang tetap sehat.
Dengan pendekatan yang seimbang, hidangan bersantan tetap bisa dinikmati tanpa rasa khawatir. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa banyak yang disantap, melainkan bagaimana kita menjaganya agar tetap membawa kebaikan, bukan sebaliknya. (ian)



Tinggalkan Balasan