
Jakarta (Trigger.id) – Pemerintah Iran dikabarkan memberikan respons positif terhadap permintaan Indonesia terkait dua kapal tanker yang masih tertahan di kawasan Selat Hormuz. Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian kapan kapal tersebut dapat melanjutkan pelayaran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan bersama Kedutaan Besar RI di Teheran guna memastikan keamanan kedua kapal tersebut. Ia menyebutkan bahwa pihak Iran telah memberikan sinyal positif atas permohonan yang diajukan pemerintah Indonesia.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan komunikasi diplomatik dengan Teheran terus dijaga untuk mempercepat proses keluarnya kapal dari wilayah tersebut. Ia mengakui situasi di lapangan tidak mudah, mengingat tingginya tensi geopolitik di kawasan Teluk Persia.
Berdasarkan data pelacakan kapal, dua tanker Indonesia yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro masih berada di perairan sekitar Teluk Persia. Posisi keduanya terpantau masing-masing di dekat Bahrain dan Kuwait, belum memasuki jalur keluar Selat Hormuz.
Pihak Pertamina sebelumnya menyebut total ada empat kapal terkait, namun hanya dua yang berada di area sensitif tersebut. Meski demikian, kondisi ini dipastikan belum mengganggu ketahanan energi nasional karena Indonesia telah menyiapkan sumber alternatif pasokan minyak.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya hanya mengizinkan kapal dari “negara sahabat” untuk melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sejumlah negara seperti China, India, Pakistan, hingga Malaysia disebut telah memperoleh izin melintas setelah melakukan komunikasi langsung dengan otoritas Iran. Bahkan, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan kapal-kapal negaranya mulai dapat keluar dari kawasan tersebut.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya kondusif, Iran juga mengingatkan kemungkinan penutupan total Selat Hormuz jika terjadi eskalasi militer lebih lanjut. Hal ini menjadikan jalur strategis tersebut tetap berada dalam tekanan, sekaligus berdampak pada lalu lintas pelayaran internasional. (ian)



Tinggalkan Balasan