
Surabaya (Trigger.id) – Keberhasilan membawa Paris Saint-Germain menjuarai Liga Champions kembali menegaskan posisi Luis Enrique sebagai salah satu pelatih terbaik dalam sejarah sepak bola Eropa. Gelar tersebut membuat pelatih asal Spanyol itu resmi masuk ke dalam kelompok elite pelatih yang mampu meraih sedikitnya tiga trofi Liga Champions sepanjang karier mereka.
Sepanjang sejarah kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa itu, hanya segelintir pelatih yang mampu mengangkat trofi Liga Champions sebanyak tiga kali atau lebih. Prestasi tersebut menjadi ukuran konsistensi, kemampuan taktik, dan kepemimpinan di level tertinggi sepak bola dunia.
Di posisi teratas masih bercokol Carlo Ancelotti dengan lima gelar Liga Champions. Dua trofi diraihnya bersama AC Milan pada 2003 dan 2007, sementara tiga gelar lainnya dipersembahkan untuk Real Madrid pada 2014, 2022, dan 2024. Catatan tersebut menjadikannya pelatih tersukses dalam sejarah kompetisi ini.
Di bawah Ancelotti terdapat nama legendaris Bob Paisley yang membawa Liverpool FC meraih tiga gelar Liga Champions pada 1977, 1978, dan 1981. Prestasi serupa juga ditorehkan Zinedine Zidane yang mencatat sejarah dengan mengantar Real Madrid menjuarai Liga Champions tiga musim beruntun pada 2016, 2017, dan 2018.
Sementara itu, Pep Guardiola mengoleksi tiga trofi Liga Champions, masing-masing dua bersama FC Barcelona pada 2009 dan 2011, serta satu gelar bersama Manchester City FC pada 2023. Keberhasilannya menunjukkan kemampuan beradaptasi dan meraih sukses di dua klub berbeda.
Kini, Luis Enrique bergabung dalam daftar eksklusif tersebut. Sebelum membawa PSG ke puncak Eropa, ia lebih dulu meraih gelar Liga Champions bersama Barcelona pada 2015. Tambahan dua gelar bersama Paris Saint-Germain membuat koleksi trofinya mencapai tiga, menyamai Guardiola, Zidane, dan Paisley.
Pencapaian ini semakin menegaskan bahwa Liga Champions bukan hanya panggung bagi para pemain bintang, tetapi juga arena pembuktian bagi para pelatih hebat. Hanya mereka yang mampu menjaga konsistensi, mengelola tekanan, dan memenangkan pertandingan besar yang dapat mengukir nama dalam sejarah kompetisi paling prestisius di Eropa tersebut. (ian)



Tinggalkan Balasan