
Jakarta (Trigger.id) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat tidak mengindikasikan Indonesia sedang menuju krisis ekonomi seperti yang terjadi pada 1997–1998.
Menurut Purbaya, kondisi perekonomian nasional saat ini masih ditopang oleh fundamental yang solid, baik dari sisi fiskal maupun pertumbuhan ekonomi. Karena itu, masyarakat dan pelaku usaha diminta tidak menyamakan situasi saat ini dengan krisis yang pernah melanda Indonesia hampir tiga dekade lalu.
“Fundamental ekonomi kita tetap baik. Kondisi fiskal juga terjaga. Yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar yang memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Purbaya saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kekhawatiran sejumlah pihak setelah rupiah pada perdagangan 4 Juni sempat melewati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan itu memunculkan spekulasi mengenai potensi tekanan ekonomi yang lebih dalam.
Namun pemerintah menilai situasi tersebut masih dapat dikelola melalui koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Sinkronisasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia diyakini mampu memperkuat kembali stabilitas nilai tukar sekaligus menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Pemerintah bersama otoritas moneter tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik sehingga dapat mendorong masuknya kembali aliran modal asing. Selain itu, kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan juga akan terus dijaga melalui pengelolaan kas pemerintah yang terkoordinasi dengan Bank Indonesia.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya membantu menstabilkan rupiah, tetapi juga menekan biaya produksi yang selama ini dirasakan pelaku usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Purbaya optimistis berbagai kebijakan yang tengah disiapkan akan memberikan dampak positif dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa kondisi fiskal negara masih berada dalam jalur yang sehat, sementara aktivitas ekonomi nasional tetap menunjukkan daya tahan yang baik di tengah ketidakpastian global.
Selain itu, ia menilai kepemimpinan Presiden dalam mengawal agenda pembangunan nasional menjadi salah satu faktor penting yang menjaga kepercayaan pasar dan memastikan berbagai program strategis pemerintah dapat berjalan sesuai rencana.
Dengan kombinasi kebijakan yang tepat antara pemerintah dan bank sentral, pemerintah meyakini stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga dan tidak mengarah pada situasi krisis seperti yang pernah terjadi pada akhir 1990-an. (ori)



Tinggalkan Balasan