
Surabaya (Trigger.id) – Lebih dari satu dekade setelah kariernya di dunia administrasi sepak bola internasional terhenti secara dramatis, Michel Platini kembali membuka babak baru dalam perseteruannya dengan FIFA. Mantan legenda sepak bola Prancis itu kini mengambil langkah hukum yang berpotensi mengguncang kembali panggung tertinggi sepak bola dunia.
Platini mengajukan gugatan pidana di Prancis terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino. Gugatan tersebut diajukan menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, sebuah momentum yang membuat perhatian publik sepak bola dunia kembali tertuju pada konflik lama yang belum sepenuhnya usai.
Melalui tim kuasa hukumnya, Platini menuduh Infantino terlibat dalam upaya sistematis untuk menyingkirkannya dari persaingan menuju kursi Presiden FIFA. Dalam dokumen pengaduan yang diajukan, Infantino bahkan disebut sebagai figur utama yang diduga berperan dalam proses yang membuat karier kepemimpinan Platini di sepak bola internasional berakhir sebelum sempat dimulai.
Bagi banyak pengamat sepak bola, tuduhan tersebut menghidupkan kembali kisah yang pernah mengguncang FIFA pada pertengahan dekade 2010-an.
Saat itu, Platini berada di puncak pengaruhnya. Sebagai mantan pemain legendaris Prancis dan Presiden UEFA yang sukses, ia dianggap sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Sepp Blatter sebagai pemimpin FIFA. Dukungan dari berbagai federasi sepak bola membuat jalannya menuju kursi tertinggi organisasi tersebut tampak terbuka lebar.
Namun situasi berubah drastis ketika muncul penyelidikan terhadap pembayaran sebesar dua juta franc Swiss yang diterimanya dari Blatter pada 2011.
FIFA kemudian membuka proses etik dan menjatuhkan sanksi berat kepada Platini. Pada 2015, Komite Etik FIFA melarangnya terlibat dalam aktivitas sepak bola selama delapan tahun. Hukuman itu memang kemudian dipangkas menjadi empat tahun oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), tetapi kerusakan terhadap reputasi dan ambisi politiknya sudah terlanjur terjadi.
Kesempatan untuk memimpin FIFA pun lenyap.
Di tengah kekosongan yang muncul akibat diskualifikasi Platini dan berakhirnya era Blatter, Gianni Infantino justru tampil sebagai figur yang kemudian memenangkan pemilihan Presiden FIFA pada 2016. Sejak saat itu, Infantino memimpin organisasi sepak bola terbesar di dunia dan memperluas pengaruhnya di panggung internasional.
Sementara itu, Platini terus berupaya membersihkan namanya melalui jalur hukum.
Ia berulang kali menegaskan bahwa dana dua juta franc Swiss tersebut bukanlah pembayaran ilegal, melainkan kompensasi yang tertunda atas pekerjaannya sebagai penasihat Sepp Blatter pada periode 1998 hingga 2002.
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2022, Pengadilan Kriminal Federal Swiss menyatakan Platini dan Blatter tidak bersalah. Putusan tersebut menjadi kemenangan penting bagi keduanya setelah bertahun-tahun menghadapi tuduhan yang membayangi karier mereka.
Tiga tahun kemudian, pengadilan banding Swiss kembali menguatkan putusan tersebut, semakin memperkokoh posisi hukum Platini bahwa transaksi tersebut tidak melanggar hukum pidana.
Meski demikian, bebas dari tuduhan tidak serta-merta menghapus dampak yang telah ditimbulkan. Kesempatan memimpin FIFA telah hilang, dan era kepemimpinan sepak bola dunia telah berubah arah.
Kini, melalui gugatan yang diajukan di Prancis, Platini tampaknya ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang selama ini terus mengikutinya: apakah kejatuhannya dari persaingan Presiden FIFA murni akibat proses hukum dan etik, atau ada campur tangan pihak-pihak tertentu yang memang ingin menutup jalan menuju kursi tertinggi sepak bola dunia?
Hingga saat ini, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas gugatan tersebut. Namun langkah hukum terbaru ini menunjukkan bahwa bagi Michel Platini, kisah yang dimulai lebih dari sepuluh tahun lalu belum benar-benar berakhir.
Di balik gemerlap stadion dan pesta sepak bola dunia, pertarungan memperebutkan kekuasaan di balik layar FIFA tampaknya masih menyisakan babak-babak yang belum selesai dituliskan. (ian)



Tinggalkan Balasan