

Kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk merendahkan orang lain atau membanggakan diri secara terang-terangan. Ada kesombongan yang jauh lebih halus, yaitu ketika seseorang mulai merasa amalnya lebih banyak, ilmunya lebih tinggi, atau ibadahnya lebih baik dibandingkan orang lain.
Pada saat itulah hati mulai lupa bahwa semua kebaikan yang dimilikinya berasal dari Allah. Tanpa hidayah, kekuatan, kesehatan, dan kesempatan yang diberikan-Nya, manusia tidak akan mampu melakukan satu pun amal saleh.
Karena itu, orang yang benar-benar berilmu justru semakin rendah hati. Ia menyadari bahwa apa yang telah dicapainya masih sangat sedikit dibandingkan nikmat Allah yang begitu besar. Ia tidak sibuk menghitung amalnya, melainkan khawatir apakah amal tersebut diterima oleh Allah atau tidak.
Allah SWT berfirman:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Semakin tinggi pohon, semakin ia menunduk. Demikian pula seorang mukmin. Semakin bertambah ilmu dan amalnya, seharusnya semakin bertambah kerendahan hatinya. Ia memahami bahwa semua keberhasilan yang diraih hanyalah karunia Allah, bukan semata-mata hasil kemampuannya sendiri.
Maka jangan terlalu sibuk melihat apa yang telah berhasil kita lakukan. Lihatlah betapa banyak nikmat Allah yang membuat semua itu menjadi mungkin. Ketika hati mulai merasa hebat, saat itulah kita perlu waspada.
Jagalah hati dengan syukur, istighfar, dan kesadaran bahwa segala kebaikan berasal dari Allah. Sebab tidak ada yang lebih indah daripada menjadi hamba yang banyak beramal, tetapi tetap merasa kecil di hadapan Rabb-nya dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.
—000–
*Wartawan senior



Tinggalkan Balasan