• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Akankah Kongo Jadi “Episentrum” Penyakit “X”? Suatu Perspektif Kontemplasi

6 Maret 2025 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*

Puasa Ramadhan, merupakan saat kontemplasi terbaik bagi saya pribadi. Banyak peristiwa di dunia ini yang bisa dipetik hikmahnya. Dari Afrika Barat-Tengah, tepatnya negara Republik Demokratik Kongo (RDK), terdengar berita memprihatinkan. Lagi-lagi wabah misterius melanda negara yang sedang mengalami krisis politik itu. Hanya dalam hitungan hari, kasusnya cepat melonjak. Korban yang tewas pun, sudah mencapai puluhan. Kecemasan melanda dunia, khususnya negara tetangga RDK. Pasalnya interval antara timbulnya gejala, hingga berakhir pada kematian, terhitung sangat singkat. Laporan menyebut, hanya sekitar 48 jam saja! Gejalanya bervariasi. Umumnya berupa demam, muntah, dan perdarahan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), segera merespons. Sejumlah sampel pemeriksaan, dinyatakan tidak terdeteksi adanya virus Ebola dan Marburg sebagai penyebabnya. Padahal manifestasinya sangat mirip dengan kedua macam penyakit yang endemis di RDK itu. Kini para pakar sedang berupaya mengungkap, apa sebenarnya etiologi wabah terbaru itu. Sementara data yang diperoleh cukup berarti. Awal munculnya penyakit, setelah korban mengonsumsi kelelawar. Ada pula hipotesis penyebab lainnya, yakni kecurigaan kontaminasi/keracunan air.

Ada banyak pandangan terkait kelelawar. Antara lain bisa ditinjau dari perspektif agama, ataupun medis. Saya bukanlah ahli bidang agama. Namun ada alasan keingintahuan saya, terhadap mamalia satu-satunya yang bisa terbang itu. Hewan nokturnal tersebut, sering disinyalir sebagai sumber penyakit zoonosis (ditularkan dari hewan ke manusia). Lantas bagaimana sikap seorang muslim, apakah halal mengonsumsinya?

Ternyata cukup menarik. Banyak silang pendapat tentang halal tidaknya memakan kelelawar. Ada yang mengharamkannya (Madzhab Syafii dan Hambali). Ada pula yang menyebutnya makruh, tapi tidak sampai haram. Bukan juga sesuatu yang mubah untuk dikonsumsi (Madzhab Maliki). Pro-kontra juga terjadi pada ulama dari Madzhab Hanafi. Di antara mereka, ada yang menyatakan halal. Namun pendapat lainnya menyatakan tidak halal. Wallahu A’lam Bishawab (Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran sesungguhnya).

Akankah kelelawar picu penyakit “X” zoonosis?

Kini kekhawatiran terhadap munculnya penyakit “X”, sedang ramai diperbincangkan. Hal itu pada hakikatnya bentuk kewaspadaan terhadap substansi yang belum terjadi. Sifatnya baru tataran suatu hipotesis. Nantinya memerlukan pembuktian ilmiah yang sahih. Terutama terhadap mikroba penyebab yang berpotensi memicu pandemi baru, dan belum diketahui polanya secara pasti. Namun otoritas kesehatan dunia harus selalu siap siaga, bila sewaktu-waktu harus terjadi. Perencanaan dari A hingga Z menghadapi pandemi berikutnya, merupakan wujud kewaspadaan terhadap penyakit “X”.
Banyak faktor yang patut diperhitungkan sebagai latar belakang munculnya mikroba patogen baru yang berpotensi memantik wabah. Perubahan kondisi lingkungan, merupakan faktor utama yang layak diantisipasi. Pemanasan global dan polusi, berisiko memengaruhi penularan penyakit melalui berbagai cara. Bisa jadi berkorelasi dengan musim-musim tertentu.

Persediaan air bersih yang tidak adekuat, buruknya sanitasi, masalah kelaparan, dan kecukupan gizi, berpotensi melanda sebagian penduduk dunia. Distribusi dan populasi vektor penyakit, juga sangat dipengaruhi perubahan iklim. Belum lagi dampak banjir dan bencana lingkungan yang rutin terjadi. Tegasnya, kerusakan lingkungan dan problem deforestasi hutan, perlu mendapatkan penanganan serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis, menjadi perhatian utama. Banyak satwa liar yang secara alami sebagai inang virus, menjadi lebih intens berinteraksi dengan kehidupan manusia. Kerusakan ekosistem berada di balik persoalan tersebut. Sebagai contoh, SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19), disinyalir ditularkan melalui kelelawar. Ada virus-virus lainnya yang juga ditularkan melalui hewan nokturnal itu. Bahkan tingkat bahayanya pun jauh melampaui COVID-19. Misalnya virus Rabies, Ebola, Marburg, MERS-CoV, dan Nipah. Ebola sudah beberapa kali mengancam dunia. Sempat memicu krisis kemanusiaan di Afrika Barat pada tahun 2014-2016. Fatalitasnya sangat tinggi. Persentase kematiannya mencapai 50-90 persen. Sebagai perbandingan, angka mortalitas global COVID-19 “hanya” 3,4 persen. Karena itu WHO menempatkan Ebola dalam sekala prioritas mitigasinya. Pasalnya hingga kini belum ditemukan obat maupun vaksinasinya.

Kelelawar memiliki “keistimewaan”. Bobotnya rata-rata tidak sampai satu kilogram. Namun suasana gelap yang selalu meliputinya setiap saat, berpengaruh pada kadar melatonin yang dikandungnya. Kadarnya justru beberapa kali lipat, dibanding melatonin manusia yang berbobot puluhan, bahkan ratusan kali lipatnya. Ekosistem kehidupan idealnya yang di dalam kegelapan gua, sangat mungkin membawa pengaruh. Berkat kandungan melatonin yang tinggi, hewan nokturnal itu dapat “menyimpan” berbagai macam virus dalam jumlah besar. Tanpa menimbulkan dampak penyakit !
Melatonin adalah hormon neurotropik. Diproduksi oleh kelenjar pineal yang terdapat di otak. Kadar melatonin pada seseorang, bervariasi dari waktu ke waktu. Puncaknya pada malam hari dan mencapai level terendah sekitar jam 7.30. Fenomena itulah yang disebut dengan irama/ritme sirkadian.

Melatonin sangat berperan dalam ritme biologi, regulasi tekanan darah dan sistem imunitas. Perannya sebagai senyawa anti oksidan, juga banyak diteliti. Produksinya dikendalikan oleh reseptor pada retina mata yang peka terhadap cahaya. Pada lingkungan yang gelap, sekresinya akan meningkat. Sebaliknya sintesisnya akan terhambat, bila terpapar cahaya.

Ada suatu fakta menarik, kadar senyawa tersebut dalam sirkulasi darah berbanding terbalik dengan bertambahnya usia. Artinya, dengan semakin meningkatnya usia, kadar melatonin semakin berkurang. Seseorang dengan gangguan tidur (insomnia), memicu efek perubahan pada level melatonin. Bila terjadi insomnia kronik, produksi senyawa tersebut menjadi sangat terganggu secara signifikan. Keadaannya persis sama dengan seseorang yang mengalami rasa cemas berkepanjangan.

Riset melatonin

Kini banyak riset yang berupaya mengungkap manfaat melatonin dari sisi medis. Terutama ditujukan untuk mengatasi gangguan tidur dan cemas. Manfaat lainnya sebagai pereda nyeri serta menurunkan tekanan darah. Senyawa tersebut berpotensi dikombinasi dengan obat-obat anti COVID-19. Diteliti juga manfaatnya sebagai imunomodulator yang dapat meningkatkan respons imun pasca vaksinasi.
Kontemplasiku menjelang berakhir. Andai kelelawar dapat berujar, ia akan menitipkan pesan kepadaku. “Wahai manusia, aku diciptakan-Nya bukan sia-sia. Tugas utamaku mengumpulkan virus-virus dan mikroba ganas lainnya dalam jumlah amat besar. Agar semuanya tidak bertebaran dan membahayakanmu.

Aku memang hina. Wajahku pun buruk. Bahkan menakutkan. Karena itu aku rela hidup di kegelapan malam dan relung-relung gua. Jauh dari lingkungan kehidupanmu. Harapanku supaya tidak bersua denganmu. Atau engkau tidak menyentuhku, apalagi harus memakanku. Tetapi hasrat makanmu memang tidak lazim. Namun aku tidak berdaya. Tapi tahukah engkau wahai manusia, bila tubuhku dirobek-robek dan engkau makan ? Virus pembawa petaka yang kusimpan akan berhamburan. Itu akan menjerat dirimu sendiri, menjadikan rumah baru baginya. Mungkin akan membuatmu sesal tanpa ujung”.

—–o—–

*Penulis:

  • Staf pengajar senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya
  • Magister Ilmu Kesehatan Olahraga (IKESOR) Unair
  • Penulis buku:
    – Serial Kajian COVID-19 (tiga seri)
    – Serba-serbi Obrolan Medis
    – Catatan Harian Seorang Dokter
Share This :

Ditempatkan di bawah: Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:“Episentrum”, Akankah, Kongo, Kontemplasi, Perspektif

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Emil Dardak Bikin Kejutan Konser Kahitna, dari Kursi Penonton ke Panggung “Lajeungan”

6 September 2026 By admin

Charles Honoris Soroti 50 Ribu Korban Keracunan MBG dan Anggaran Rp240 Triliun

6 September 2026 By admin

Abu Erupsi Anak Krakatau Terdeteksi Menyebar ke Lima Provinsi

6 September 2026 By admin

Biji Semangka Jangan Dibuang, Kaya Magnesium dan Lemak Sehat

6 September 2026 By admin

Inter Milan Comeback Dramatis, Napoli Tumbang 3-2 di Giuseppe Meazza

6 September 2026 By admin

Seleksi Petugas Haji 2027 Masuk Tahap CAT, Transparansi Jadi Prioritas

5 September 2026 By admin

Hari Pertama Ngantor PBNU, Gus Kikin Bertemu Dubes Arab Saudi dan BSI

5 September 2026 By admin

Nogogeni ITS Siapkan 2 Mobil Hemat Energi

5 September 2026 By admin

Inter Milan vs Napoli: Duel Panas Papan Atas Serie A di San Siro

5 September 2026 By admin

P-APBD Jatim 2026 Disepakati, Anggaran Rp29,9 Triliun Difokuskan untuk Kesejahteraan Warga

5 September 2026 By admin

Zulhas Dorong Sekolah Tiru Kelola Sampah Pesantren.

4 September 2026 By admin

4 Makanan Ini Jangan Terlalu Sering Jadi Menu Sarapan

4 September 2026 By admin

190 Satwa Liar Batal Diperdagangkan

4 September 2026 By admin

BGN Suspend SPPG Sidoarjo Selama 30 Hari

3 September 2026 By admin

FIFA ASEAN Cup 2026, Ujian Timnas Jaga Tren Positif Ranking Dunia

3 September 2026 By admin

4 Kura-Kura Aldabra Asal Jepang Koleksi Perdana KBS

2 September 2026 By admin

BBM Nonsubsidi Naik Per 1 September 2026.

1 September 2026 By admin

Dua Dekade Bersama Argentina, Lionel Messi Akhiri Perjalanan di Tim Nasional

1 September 2026 By admin

DPR Setujui Destry, Aida dan Solikin Pimpin BI

1 September 2026 By admin

Ahli Pemerintah: Pasal Pidana Umrah Bertujuan Lindungi Jamaah, Bukan Batasi Ibadah

1 September 2026 By admin

Prabowo Terima Kartanu Saat Menutup Muktamar NU.

31 Agustus 2026 By admin

SMSI Kukuhkan Pokja Jaga Desa 5 Provinsi Termasuk Jatim

31 Agustus 2026 By admin

KH Miftachul Akhyar Rois Aam, Gus Kikin Ketum PBNU 2026-2031

31 Agustus 2026 By admin

Gus Kikin Resmi Pimpin PBNU 2026–2031, Ditetapkan Lewat Musyawarah AHWA

31 Agustus 2026 By admin

Bruno Fernandes Menggila! Hattrick Antar MU Pesta Gol 5-2 atas Ipswich

31 Agustus 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • 7 Talenta SMK Jatim Tembus Kandidat WorldSkills Shanghai 2026
  • Warga Surabaya Jangan Panik, Tetapi Waspada Sesar Kendeng Aktif
  • Warga Pesisir Bantu Pencarian Speedboat Jurnalis Hilang
  • Kulit Buah Naga Menjadi Teh Celup “Teanaga”
  • Maskapai Wajib Periksa Pesawat Pasca Erupsi Anak Krakatau

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.