
Sidoarjo (Trigger.id) – Sekolah Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo mengembangkan pemanfaatan rumah kaca sebagai sarana pembelajaran ilmu pengetahuan alam sekaligus media untuk mengenalkan agrikultur modern kepada siswa.
Program ini tidak hanya memberikan pengalaman praktik bercocok tanam, tetapi juga diarahkan mendukung ketahanan pangan di lingkungan sekolah. Hasil tanaman yang dibudidayakan nantinya dapat dimanfaatkan memenuhi kebutuhan dapur asrama, sekaligus dibagikan kepada guru dan keluarga besar yayasan.
Guru pembina program rumah kaca Sekolah Bumi Shalawat, Muhammad Ilham Elian Galih, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran yang memungkinkan siswa memahami proses pertanian secara langsung.“Budidaya ini kami manfaatkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus memberikan pengalaman kepada siswa mengenai konsep agrikultur modern yang berkelanjutan,” ujarnya dikutip dari laman LKBN Antara, Selasa (29/9).
Siswa jenjang SMP hingga SMA dilibatkan secara bergantian dalam setiap tahapan budidaya. Dengan pendampingan guru pembina, mereka belajar mulai dari proses penyemaian benih, perawatan tanaman, pemantauan pertumbuhan, hinggam kegiatan panen.Salah satu tanaman yang saat ini dikembangkan adalah pokcoy. Tanaman ini memiliki siklus relatif singkat, yakni sekitar dua minggu sejak penyemaian hingga siap dipanen.
Dalam satu kali panen, produksi pokcoy rata-rata mencapai sekitar lima hingga tujuh kilogram. Jumlah hasil panen dapat berbeda-beda bergantung pada banyaknya bibit yang disemai serta kondisi pertumbuhan tanaman di dalam rumah kaca.
Selain pokcoy, siswa juga memperoleh pengalaman membudidayakan berbagai tanaman lain, seperti bayam merah, selada air, dan melon varietas unggulan. Keragaman tanaman tersebut memberikan kesempatan kepada siswa mempelajari karakteristik dan kebutuhan masing-masing komoditas.
Menariknya, kegiatan rumah kaca juga mulai diarahkan pada pembelajaran kewirausahaan. Hasil budidaya melon varietas unggulan tidak hanya dikonsumsi di lingkungan sekolah, tetapi sebagian dipasarkan kepada masyarakat dan wali murid.
Melalui kegiatan, siswa dapat melihat bahwa pertanian tidak berhenti pada proses produksi. Mereka juga dapat mempelajari bagaimana hasil pertanian memiliki nilai ekonomi apabila dikelola, dikemas, dan dipasarkan dengan baik.
Pembelajaran berbasis praktik ini sekaligus memperkenalkan kepada siswa pentingnya pemanfaatan teknologi dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan dalam bidang pertanian. Rumah kaca menjadi ruang belajar yang menghubungkan teori di kelas dengan pengalaman nyata di lapangan. (wah)



Tinggalkan Balasan