• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Ondel-ondel, Dari Penolak Bala Menjelma Jadi Penyambung Asa

11 September 2023 by admin Tinggalkan Komentar

Ilustrasi seni boneka Ondel-ondel. Foto: Wikipedia

Jakarta (Trigger.id) – Siapa yang tak tahu ondel-ondel?. boneka raksasa unik itu sudah banyak ditemui di acara-acara kebudayaan Betawi, hari ulang tahun Jakarta, penghias gapura bahkan diarak berkeliling pada parade budaya.

Di sejumlah wilayah di Jakarta, ondel-ondel juga kerap muncul sebagai sarana untuk mencari nafkah. Warisan budaya Betawi itu digunakan untuk mengamen. Para pengamen ondel-ondel umumnya berkelompok. Ada yang bertugas masuk ke dalam tubuh ondel-ondel, ada yang bertugas memainkan musik pengiring, dan ada pula yang bertugas memungut uang dari siapa saja yang dilewati oleh ondel-ondel.

Iqbal (18 tahun) yang setiap sore mengamen dengan ondel-ondel bersama teman-temannya di sekitaran Pisangan Lama, Jakarta Timur. Walau berpeluh, Iqbal dan teman-temannya dengan ceria mencari rezeki dengan ondel-ondel.

“Saya kebetulan orang Betawi juga. Ya sambil cari uang bisa sambil memamerkan kebudayaan juga. Sambil melestarikan budaya,” aku Iqbal kepada ANTARA. Iqbal mengaku sudah menjadi pengamen ondel-ondel selama dua tahun terakhir.

Meski tak menentu, paling banyak Iqbal dan teman-temannya bisa mendapatkan Rp200.000 dalam sehari. Mereka pun membagi rata penghasilan tersebut dan sebagian digunakan untuk membayar sewa ondel-ondel yang mereka gunakan.

“Satu ondel-ondel sewanya Rp30.000. Sisanya lumayan lah, bisa nambah-nambah uang jajan,” kata Iqbal.

Iqbal beserta teman-temannya pun mengaku tanpa paksaan mengamen dengan ondel-ondel ini. Mereka mengatakan hanya ingin mengisi waktu sepulang sekolah sambil mencari tambahan uang saku.

“Nggak dipaksa siapa-siapa. Memang biar ada kegiatan saja. Daripada bengong atau beralih ke hal negatif. Kalau begini kan bisa sambil JJS (Jalan-Jalan Sore) bareng temen, sambil lestariin budaya juga. Iseng-iseng berhadiah lah gitu,” kata Iqbal.

Sejarah ondel-ondel

Sejumlah seniman Ondel-ondel beraksi dalam parade budaya saat hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (11/6/2023). Parade Budaya Betawi dan Tari Merak Sunda yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta tersebut dalam rangka menyambut HUT ke-496 DKI Jakarta. Foto: ANTARA

Fenomena ondel-ondel jadi sarana mengamen ini dipandang lain oleh sejarawan sekaligus pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali. Ia justru menyayangkan ondel-ondel kini menjadi sarana mencari nafkah dengan cara mengamen. Dia mengatakan, ondel-ondel masa kini sudah kehilangan jati diri yang sesungguhnya.

Bagaimana tidak? Peruntukan ondel-ondel dulu dan sekarang saja sudah sangat melenceng jauh, kata Asep. Dahulu, ternyata ondel-ondel merupakan boneka raksasa yang digunakan untuk upacara menolak bala.

“Dulunya ondel-ondel ini digunakan untuk upacara sedekah bumi. Ondel-ondel adalah perwujudan dari sesuatu yang menakutkan yang mampu mengusir roh jahat. Sehingga ondel-ondel digunakan dalam ritual tolak bala,” jelas Asep.

Asep menjelaskan, dulunya tak sembarang orang bisa memainkan ondel-ondel. Orang yang masuk ke dalam ondel-ondel harus memiliki fisik yang kuat dan konon memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh.

Ondel-ondel pun kemudian dirasuki oleh roh tersebut dan dikendalikan oleh orang di dalamnya. Kemudian, masyarakat pun mengarak ondel-ondel tersebut keliling kampung dengan maksud menolak bala.

Musik yang digunakan untuk mengiringi arak-arakan tersebut juga bukan yang mengalun merdu. Musik tersebut biasanya dibuat mendebarkan dan mengagetkan seperti musik barongsai, kata Asep.

Biasanya ritual ini dilakukan ketika sebelum dan sesudah panen. Masyarakat melakukan ritual ini dengan harapan bisa mengusir roh jahat supaya panen mereka sukses.

Fisik ondel-ondel pun juga menyeramkan dan bertaring. Rambutnya berantakan serta bajunya tak segagah hari ini. Ondel-ondel juga tak memiliki gender seperti saat ini. Oleh sebab itu Asep menilai ondel-ondel sudah mengalami pergeseran nilai-nilai yang sungguh berbeda.

“Dulu ondel-ondel itu menyeramkan. Beda sama sekarang. Saya saja dulu takut sama ondel-ondel waktu kecil,” kata Asep.

Sementara itu menurut informasi dari laman resmi Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), ondel-ondel dahulu bernama barongan yang berarti serombongan.

Awal keberadaan ondel-ondel hingga kini belum didapatkan angka tahun pastinya. Namun menurut perkiraan para ahli, ondel-ondel sudah ada di Jakarta berabad-abad yang lalu.

Pedagang Inggris bernama W. Scot mencatat dalam bukunya, jenis boneka seperti ondel-ondel sudah ada pada 1605.

Ondel-ondel berbentuk bonea raksasa dengan tinggi 2,5 meter. Rambutnya diberi hiasan kembang kelapa. Garis tengah tubuhnya sebesar 80 cm. Wajahnya dibuat dari kayu dengan mata yang melotot.

Ondel-ondel laki-laki dan perempuan juga memiliki warna yang bereda. Ondel-ondel laki-laki wajahnya dicat merah, warna yang dianggap mempunyai kekutan atau keberanian. Sementara ondel-ondel perempuan memiliki warna kuning, warna yang dianggap memiliki kehalusan dan ketulusan.

Asa untuk ondel-ondel di masa depan

Peserta menampilkan kesenian ondel-ondel saat mengikuti parade di kawasan Kota Tua, Jakarta, Kamis (22/6/2023). Foto: ANTARA

Dengan pergeseran dan perubahan tersebut, Asep pun sangat menyayangkan ondel-ondel kini digunakan sebagai sarana mengamen. Sebagai sejarawan, Asep berharap ada cara yang lebih layak untuk melestarikan dan mengenalkan ondel-ondel terhadap generasi muda.

“Ini menurunkan citra, menurunkan martabat. Menurut saya ini sangat menyedihkan. Dari tahun ke tahun juga semakin mengkhawatirkan. Mungkin pada akhirnya, ondel-ondel nantinya hanya sekedar simbol. Hanya untuk hiasan. Tradisi menolak balanya saja sekarang sudah tidak ada,” ujar Asep.

Menurut Asep, banyak cara yang baik untuk melestarikan salah satu budaya khas Betawi ini. Misalnya saja memberikan ruang untuk penampilan ondel-ondel. Meski tak persis seperti zaman dahulu, namun setidaknya dibuatkan panggung atraksi budaya untuk menunjukkan ondel-ondel yang sesungguhnya.

“Dibuat satu ritual tapi tidak ada unsur syiriknya. Cukup sekedar atraksi budaya agar generasi masa kini paham dan ondel-ondel tidak kehilangan jati dirinya,” Kata Asep.

Dari sisi perajin ondel-ondel, Hanif pun sebenarnya menyayangkan boneka unik khas DKI Jakarta ini dijadikan sebagai sarana mengamen. Namun di sisi lain, dia pun memandang hal ini bisa membawa ondel-ondel semakin dekat dengan masyarakat sehingga lebih dikenal.

“Mungkin ada sisi negatifnya. Tapi positifnya jadi dikenal orang juga. Harapannya pemerintah ngasih tempatlah jadi ada yang resmi. Kita juga bisa nyari nafkah sekaligus lestarikan ondel-ondel dengan cara yang layak,” kata Hanif.

Sebagai orang Betawi asli, Mardali juga menyayangkan ondel-ondel dijadikan sebagai sarana mengamen. Dia juga menyayangkan pengamen ondel-ondel diberikan edukasi.

Dia berharap pemerintah memiliki tindakan yang tegas juga serius dalam menjaga warisan budaya bangsa. Jika terabaikan juga tidak diberi ruang, lama-lama budaya bangsa bisa saja kehilangan makna seperti ondel-ondel atau lebih parahnya diklaim oleh pihak lain. (ant/zam)

Sumber: ANTARA

Share This :

Ditempatkan di bawah: ekonomi pariwisata, nusantara, seni budaya, update Ditag dengan:Kesenian Betawi, Ondel-ondel, Ondel-ondel Jadi Penyambung Asa, Ondel-ondel Penolak Bala

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Disabilitas Tak Tampak: Yang Tak Terlihat, yang Terabaikan

2 Juli 2026 By wah

Saat Camilan Menjadi Penjaga Kesehatan Mental

2 Juli 2026 By zam

Sensus Ekonomi 2026, Penentu Arah Pembangunan Jawa Timur

1 Juli 2026 By wah

Seluruh Penerbangan Umrah dan Haji Khusus di Soetta Dipusatkan ke Terminal 2F

1 Juli 2026 By wah

Mbappe Bersinar, Prancis Melaju ke 16 Besar

1 Juli 2026 By zam

Kemendikdasmen-BPOM budayakan hidup sehat lewat edukasi pangan aman

30 Juni 2026 By admin

DPD RI Apresiasi Haji 2026, Kemenhaj Berkomitmen Sempurnakan Tata Kelola

30 Juni 2026 By zam

Paraguay dan Maroko Buat Kejutan, Singkirkan Jerman dan Belanda untuk Melaju ke 16 Besar Piala Dunia 2026

30 Juni 2026 By wah

Kemenhaj: Sekitar 90 Persen Jemaah Haji Indonesia Sudah Kembali ke Tanah Air

29 Juni 2026 By zam

Khofifah Tinjau SPBU di Malang, Pastikan Pasokan Biosolar di Jawa Timur Tetap Aman

29 Juni 2026 By admin

AS dan Iran Sepakat Redakan Ketegangan, Bahas Selat Hormuz dalam Pertemuan di Qatar

29 Juni 2026 By admin

Hakan Calhanoglu Tinggalkan Inter Milan pada Akhir Musim 2026/27

29 Juni 2026 By admin

Prabowo Ajak NU Dukung Upaya Menutup Kebocoran Kekayaan Negara

24 Juni 2026 By wah

Ronaldo Cetak Brace, Portugal Gilas Uzbekistan 5-0 di Piala Dunia 2026

24 Juni 2026 By zam

Film Indonesia Menembus Panggung Shanghai, Dari Cerita Lokal Menuju Apresiasi Global

24 Juni 2026 By admin

Argentina Pastikan Tiket ke 32 Besar Usai Tumbangkan Austria 2-0

23 Juni 2026 By admin

Layanan Haji Indonesia Kini Terpusat di Madinah

23 Juni 2026 By admin

Inter Milan Makin Serius Kejar Nico Paz untuk Proyek Baru Cristian Chivu

22 Juni 2026 By admin

Dari Gus Fring ke Syahadat: Kisah Giancarlo Esposito Menemukan Islam di Tanah Saudi

22 Juni 2026 By admin

Fatwa MUI Dominasi Mazhab Syafi’i Demi Kearifan Lokal dan Kehati-hatian Hukum

22 Juni 2026 By admin

Calhanoglu Minta Maaf Usai Turki Tersingkir Cepat dari Piala Dunia 2026

22 Juni 2026 By admin

Khofifah: Munas-Konbes NU 2026 Hadirkan Manfaat Nyata bagi Masyarakat

21 Juni 2026 By admin

Kemenhaj: Kepulangan Haji Momentum Awal Amalkan Nilai Kemabruran di Tengah Masyarakat

21 Juni 2026 By admin

Deniz Undav Jadi Pembeda, Jerman Bangkit Tekuk Pantai Gading 2-1

21 Juni 2026 By admin

Saat Stadion Bersih, Benarkah Rumah Warga Jepang Terlupakan?

21 Juni 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Juli 2026
S S R K J S M
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
« Jun    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Belajar ADEM di Jawa Timur, Mengabdi untuk Papua
  • Festival Muharram LAZIS Nurul Falah Asah Hafalan dan Kreativitas Ratusan Santri
  • Jatim Siap Perkuat Rantai Pasok Biodiesel B50, Khofifah Dukung Transformasi Energi Nasional
  • De La Fuente Optimistis Spanyol Mampu Singkirkan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2026
  • Ariana Grande Mundur dari American Horror Story 13, Tur Dunia Jadi Prioritas

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.