• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Tiga Tahun Pandemi, Apa Evaluasi dan Catatan Kita?

13 Maret 2023 by admin Tinggalkan Komentar

Ilustrasi swab Covid-19. Foto: Freepik

WHO menyatakan bahwa Covid-19 masih merupakan “kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”.

Oleh: dr. Ari Baskoro, Sp.PD-KAI (Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr.Soetomo –Surabaya)

Sejak Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi pada 11 Maret 2020 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), banyak kejadian mencengangkan yang tidak terprediksi sebelumnya.

Kini tiga tahun sudah Covid-19 telah memberikan pelajaran yang “sangat keras”.Dampak pandemi dari waktu ke waktu tidak hanya menimbulkan korban jiwa. Kerugian material yang sangat besar, berimplikasi pada aspek sosial, pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.Masyarakat dunia harusnya mampu memetik hikmah yang terkandung dari tragedi kemanusiaan, sebagai upaya menyongsong masa depan kehidupan yang lebih cerah.

Baru-baru ini WHO menyatakan bahwa Covid-19 masih merupakan “kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional”. Situasi tersebut dinilai sebagai satu level di bawah pandemi. Artinya dunia saat ini masih berada pada satu titik transisi. Peralihan dari pandemi menuju endemi.

Hingga saat ini, lebih dari 681 juta warga di seluruh dunia telah terpapar virus maut itu. Hampir 6,9 juta jiwa di antaranya tidak tertolong. Amerika Serikat merupakan negara yang terkena dampak terberat pandemi Covid-19. Lebih dari 105 juta penduduknya terpapar virus tersebut. Angka kematiannya sudah tembus lebih dari 1, 1 juta jiwa. Negara kita berada pada peringkat ke-20 jumlah kasusnya.Hingga 11 Maret 2023, angka terkonfirmasi positif Covid-19 telah menyentuh 6.738.844 kasus. Merenggut korban jiwa hingga 160.945 orang. Angka mortalitasnya sebesar 2,4 persen. Masih lebih tinggi dibanding angka mortalitas dunia yang mencapai sekitar satu persen. Bilangan tersebut diperkirakan akan terus bertambah, meski tidak sedrastis seperti pada saat puncak pandemi.

Seiring berjalannya waktu,dampak pandemi diprediksi akan terus melandai. Saat ini angka kejadiannya sudah 20-30 kali lebih rendah,dibanding setahun yang lalu. Masih ada sekitar 150 ribu kasus terkonfirmasi positif Covid-19 per hari di seluruh dunia. Di antara jumlah tersebut, menyebabkan kematian sebanyak 900 hingga seribu orang per hari.Tidak sedikit para ahli yang meragukan validitas data yang telah disampaikan itu. Sangat mungkin realitas di lapangan lebih dariangka-angka tersebut.Ada beberapa negara yang“tertutup” dan “merekayasa” data yang sebenarnya. Hal itu demi kepentingan martabat dan politis tertentu.

Menurut WHO, saat ini setidaknya 90 persen populasi global telah memiliki tingkat kekebalan tertentu yang bervariasi terhadap virus Covid-19. Imunitas bisa terbentuk melalui paparan alamiah (pada penyintas), ataupun melalui vaksinasi.Tetapi bagi orang-orang dengan “kondisi khusus”, Covid-19 masih merupakan ancaman yang harus tetap diwaspadai. Peringatan tersebut berdasarkan atas riset epidemiologi yang dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat,bersama dengan WHO. Dinyatakan sebanyak 80 persen kematian global terkait pandemi, terjadi pada usia di atas 60 tahun.

Nantinya situasi tersebut harus bisa dibaca sebagai model pengelolaan pandemi yang sifatnya lebih personal. Antara satu individu dengan individu lainnya, mempunyai tingkat risiko yang berbeda. Demikian pula antara satu negara dengan negara lainnya. Penekanan pada aspek pencegahannya pun, tidak bisa disamaratakan. Khususnya menyangkut vaksinasi.

Capaian vaksinasi

Selain patuh terhadap protokol kesehatan, vaksinasi masih menjadi tulang punggung pengendalian dampak pandemi. Walaupun tidak dapat 100 persen mencegah terjadinya penularan, modalitas preventif itu terbukti sangat efektif dalam menekan risiko fatalitas penyakit.

Menilik perbandingan jumlah total cakupan vaksinasi warga Indonesia dengan masyarakat dunia, bisa memicu suatu pertanyaan. Sebanyak 71 persen populasi dunia telah mendapatkan sedikitnya satu kali vaksinasi. Hanya sekitar 65 persen yang telah mendapatkan vaksinasi lengkap (dua kali vaksin). Cakupan vaksinasinya semakin jauh mengecil, bila dikaitkan dengan capaian booster.

Harusnya negara kita bisa berbangga.Tepat tiga tahun pandemi, vaksinasi dosis lengkap sudah menyasar 74,74 persen penduduk. Untuk booster pertama dan kedua, masing-masing telah mencakup 37,78 dan 1,65 persen.Sebagai segmen populasi yang paling berisiko tinggi  bila terpapar Covid-19, angka vaksinasi pada lansiamasih belum menggembirakan . Booster pertama baru tercapai 33,89 persen. Untuk booster kedua, baru mencakup 2,73 persen penduduk di atas usia 60 tahun (lansia).

Capaian vaksinasi Indonesia dinilai sangat lambat. Bahkan bisa dikatakan stagnan. Sejak dicanangkan pada 12 Januari 2022, booster pertama masih jauh dari target yang diharapkan. Apalagi berbicara soal booster kedua. Pemerintah telah mencanangkan modalitas pencegahan tersebut,pada 24 Januari 2023.

Mortalitas Covid-19

Meski cakupan vaksinasi di dalam negeri melebihi rata-rata vaksinasi dunia, tetapi angka kematian justru menjadi hal yang sebaliknya. Banyak faktor terkait yang bisa memengaruhi. Lansia dan penyandang komorbid, memberikan kontribusi yang paling signifikan. Deteksi dini dan kemudahan mengakses fasilitas kesehatan yang memadai, masih menjadi kendala yang harus diperbaiki.

Data CDC terbaru menyatakan, individu dewasa yang tidak divaksinasi, memiliki risiko 16 kali lebih tinggi untuk mengalami rawat inap. Pembandingnya adalah orang-orang yang sudah mendapat booster. Sementara itu untuk seseorang berusia muda yang sehat, manfaat absolut vaksinasi booster relatif kecil. Menurut para ahli, vaksinasi booster dalam kondisi tersebut, sangat bermanfaat menekan risiko penyebaran penyakit. Terutama jika mereka hidup bersama dengan orang-orang berisiko tinggi mengalami fatalitas, bila terpapar virus Covid-19. Karena itu beberapa ahli menyarankan vaksinasi booster nantinya didasarkan atas indikasi personal.

Pada prinsipnya masalah jangka panjang yang fluktuatif dan dinamis dalam menghadapi Covid-19, tergantung pada interaksi dua hal. Satu sisi selalu munculnya berbagai virus varian baruyang lebih kebal terhadap antibodi. Di sisi lain, imunitas pasca vaksinasi ataupun setelah paparan alamiah (penyintas), akan melandai seiring dengan berjalannya waktu. Pada umumnya level antibodi,maksimal hanya akan bertahan sekitar enam hingga delapan bulan saja.Diperlukan vaksinasi booster untuk membentuk imunitas yang lebih protektif lagi.

Di sisi lain, sejak pertama kalinya muncul di Wuhan-China, hingga kini telah dikenal beberapa varian virus Covid-19. Ada varian Alfa, Beta, Gamma, Delta, hingga varian Lambda. Tata nama ini merujuk pada abjad Yunani. Tetapi yang menghebohkan dunia adalah varian Delta dan Omicron. Varian Delta telah mencetuskan gelombang kematian yang tinggi . Saat ini varian Omicron telah “beranak pinak”, menghasilkan berbagai subvarian/”keturunan”. Varian virus ini dikenal luas memiliki daya tular yang tinggi. Kemampuan menghindar dari sergapan antibodi pun juga terus berkembang di antara “keturunannya”. Tetapi “untungnya” tidak seganas varian Delta. Hampir 100 persen kasus Covid-19 di seluruh dunia, saat ini didominasi oleh varian Omicron.

Kebijakan fase peralihan

Kebijakan relaksasi/pelonggaran di berbagai negara yang tidak seragam, akan berdampak pula  pada risiko munculnya pertambahan kasus-kasus baru. Walaupun mungkin tidak akan setinggi periode waktu yang telah berlalu.Relaksasi secara bertahap, diprediksi akan mampu menekan angka pertambahan kasus dengan puncak yang lebih rendah. Demikian pula tingkat vaksinasi suatu negara yang setidaknya di atas 70 persen, sangat membantu menekan gelombang baru yang lebih besar.

Selama status pandemi Covid-19 belum dicabut, pembiayaan vaksinasi masih menjadi kewajiban pemerintah. Program pengadaan vaksin merupakan bagian dari penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. Pada saatnya nanti memasuki fase endemi, sangat mungkin pembiayaan vaksin menjadi bagian dari partisipasi masyarakat secara mandiri. Hal itu dikecualikan pada masyarakat yang kurang mampu. Bisa jadi masih merupakan bagian dari pembiayaan pemerintah, melalui mekanisme Penerima Bantuan Iuran(PBI).

Bila memasuki fase pandemi, peran masyarakat diarahkan lebih dominan dalam mempertahankan kondisi  imunitas. Vaksinasi booster lebih diindikasikan pada masyarakat dengan skala prioritas. Lansia harusnya menempati skala prioritas utama. Disusul orang-orang dengan sistem imunitas yang kurang sempurna atau yang memiliki komorbid. Misalnya penyandang HIV/AIDS,kanker, diabetes, penyakit ginjal, lever, penyakit kardiovaskuler, dan masih banyak lagi penyakit-penyakit kronis lainnya.Walaupun berusia dewasa muda, vaksinasi booster masih tetap diperlukan.Terutama bila mereka tinggal bersama keluarga dengan risiko tinggi. Meski sebagai individu sehat,mereka tetap berisiko sebagai pembawa virus. Hal itu harus tetap diwaspadai.            

Partisipasi aktif masyarakat hanya bisa terealisasi, bila mereka dapat memahami situasi yang dihadapi. Edukasi yang berkesinambungan untuk meningkatkan literasiwarga, menjadi kata kunci keberhasilan menyongsong era transisi dari pandemi menuju endemi.

Share This :

Ditempatkan di bawah: jatim, Kesehatan, nusantara, Tips, wawasan Ditag dengan:3 Tahun Pandemi, Ari Baskoro Sppd, covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

Kemenag : Penghulu Bisa Jadi Agen Warga Daftar Perlinsos

7 Oktober 2026 By admin

Jawara FIFA ASEAN Cup 2026 Lewat Adu Penalti

6 Oktober 2026 By admin

Herdman Ingin Hentikan Dominasi Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026

5 Oktober 2026 By admin

Pemerintah Siapkan Rp 31 T, Usia Diatas 17 Tahun Dapat Rekening Bank

5 Oktober 2026 By admin

Prabowo Resmikan 204 Satuan TNI dan 6 Kodam Baru

5 Oktober 2026 By admin

Logo HUT Ke-81 Jatim Tegaskan Arah Pembangunan Berkelanjutan

4 Oktober 2026 By admin

Kemkomdigi : Notifikasi Tak Cukup, Operator Harus Lindungi Sisa Kuota Pelanggan

4 Oktober 2026 By admin

KCL Singhasari Siapkan Dua Magister Baru, Fokus Perkuat Keamanan Siber

3 Oktober 2026 By admin

Dekananto Eko Purwono Dipercaya Jadi Kapolda Jatim

3 Oktober 2026 By admin

“Batik Berlayar” Merawat Tradisi Menggairahkan Ekonomi

2 Oktober 2026 By admin

Gubernur Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga 30 November 2026

2 Oktober 2026 By admin

Jelang Konferensi PWI Jatim, DPS Keluar, Masa Sanggah hingga 2 Oktober 2026

1 Oktober 2026 By admin

PBNU Umumkan 210 Pengurus Periode 2026-2031, Gus Kikin Tekankan Pemerataan Kader

1 Oktober 2026 By isa

BAZNAS Jatim-UNUSA Perkuat Sinergi, Dorong Beasiswa, Riset, dan Pemberdayaan UMKM

1 Oktober 2026 By admin

‘Apartemen’ Lapas Cibinong Tak Tercatat Aset Negara. Siapa Donaturnya ?

1 Oktober 2026 By admin

Kenali Influenza A pada Anak: Gejala dan Cara Cegah Penularan

30 September 2026 By admin

Sambut Allergy Awareness Day, Morinaga Soya Rayakan Beragam Potensi Anak di Surabaya dan Malang

30 September 2026 By zam

Jalan Tol Prosiwangi Segmen Gending-Paiton Dibuka Hari Ini, Gratis Selama 14 Hari

30 September 2026 By zam

Gaya Hidup Tak Sehat Picu Serangan Jantung Usia Muda

29 September 2026 By admin

Rumah Kaca Sekolah Bumi Shalawat Jadi Laboratorium Agrikultur Modern

29 September 2026 By admin

Tips Memilih Daging Sapi Aman dan Berkualitas

29 September 2026 By admin

Jelang Indonesia vs Malaysia, GBK Semarak Hiburan Suporter

28 September 2026 By admin

Syahrini 7 Tahun Setelah Jaga Anak dan Reino Barack

28 September 2026 By admin

Opera Kolosal “Merah Putih Bertanya” Refleksi Perobekan Bendera

27 September 2026 By admin

Manasik Haji 2027 Dimulai Lebih Awal

27 September 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Surabaya Petakan Venue Cabor Jelang Tuan Rumah Porprov 2027
  • Prof Inung : Jangan Asal Kuliah UIN, Santri Harus Kuasai Teknologi
  • Kajian Ahad Dhuha Forsikom: Sembilan Obat Malas
  • 500 Undangan HUT ke-81 Jatim Ludes 31 Detik
  • TKD Tembus Rp 599,2 T Sampai September, Stimulus Daerah Diperkuat

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.