

Shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh sering dianggap ringan, padahal nilainya sangat agung di sisi Allah. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa keutamaannya melebihi seluruh dunia dan isinya.
Dua Rakaat Fajar Lebih Baik dari Dunia
Rasulullah ﷺ bersabda:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat (sebelum) Subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”
(HR. Muslim)
Hadis shahih ini menunjukkan bahwa siapa yang menjaga dua rakaat sebelum Subuh sejatinya sedang menggenggam sesuatu yang nilainya melampaui dunia. Dunia yang manusia kejar siang malam, ternyata kalah nilainya dibanding dua rakaat yang mungkin hanya beberapa menit dikerjakan dengan khusyuk.
Shalat Subuh Berjamaah dalam Jaminan Allah
Setelah sunnah fajar, seorang mukmin melanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah. Keutamaannya pun luar biasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ
“Siapa yang melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah.”
(HR. Muslim)
Berada dalam dzimmah (perlindungan) Allah adalah kemuliaan besar. Ini bukan sekadar pahala, tetapi penjagaan dan perhatian langsung dari Rabb semesta alam.
Duduk Berzikir hingga Terbit Matahari
Lebih tinggi lagi derajatnya jika setelah Subuh ia tetap duduk berzikir hingga matahari terbit (waktu syuruq), lalu mengerjakan dua rakaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
“Barang siapa shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu ia shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.”
(HR. Tirmidzi, hasan shahih)
Bayangkan, hanya dengan menjaga waktu pagi, seorang hamba mendapatkan pahala setara haji dan umrah yang sempurna.
Dilanjutkan dengan Majelis Ilmu
Apabila setelah Subuh diisi dengan kajian atau mendengarkan ceramah agama, maka ia telah menggabungkan ibadah fisik dan ibadah ilmu. Dalam hadis disebutkan:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama, kecuali turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.”
(HR. Muslim)
Pagi hari yang dimulai dengan sunnah fajar, Subuh berjamaah, zikir hingga syuruq, dua rakaat, lalu majelis ilmu — adalah paket lengkap keberkahan.
Tanda Dicintai Allah
Salah satu tanda Allah mencintai seorang hamba adalah diberi pemahaman agama dan semangat beribadah. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika seseorang ringan melangkah ke masjid saat fajar, hatinya rindu majelis ilmu, dan istiqamah menjaga sunnah — itu bukan semata kekuatan dirinya. Itu tanda kebaikan yang Allah kehendaki untuknya.
Penutup
Dua rakaat sebelum Subuh lebih berharga dari dunia. Subuh berjamaah menghadirkan jaminan Allah. Duduk berzikir hingga terbit matahari bernilai seperti haji dan umrah. Majelis ilmu mendatangkan sakinah dan rahmat.
Maka jika kita mampu menjaga semua itu, sesungguhnya bukan dunia yang kita kejar — tetapi akhirat yang Allah dekatkan. Dan ketika akhirat menjadi tujuan, dunia justru Allah letakkan dalam genggaman kita.
—000—
*Akademisi UINSA Surabaya dan Pengasuh Pesantren Miftahul Ula Surabaya



Tinggalkan Balasan