
Dubai (Trigger.id) — Miliarder Uni Emirat Arab (UEA), Khalaf al-Habtoor, melontarkan kritik keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait keputusan melancarkan serangan terhadap Iran. Menurutnya, langkah tersebut menyeret negara-negara Teluk yang kaya energi ke dalam situasi berbahaya.
Dalam surat terbuka yang diunggah melalui media sosial X, Habtoor mempertanyakan dasar kewenangan Trump mengambil keputusan yang dinilainya berisiko besar bagi kawasan. Ia menilai tindakan tersebut tidak hanya mengancam stabilitas Timur Tengah, tetapi juga mengkhianati kepentingan rakyat Amerika karena menjadikan perang sebagai prioritas.
“Siapa yang memberi Anda wewenang untuk menyeret kawasan kami ke dalam perang dengan Iran? Atas dasar apa keputusan berbahaya ini diambil?” tulis Habtoor dalam pesannya yang ditujukan langsung kepada Trump.
Habtoor, yang memimpin konglomerat besar Al Habtoor Group, menilai negara-negara di kawasan Teluk justru akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampak eskalasi konflik tersebut.
Kritik ini menarik perhatian karena Habtoor sebelumnya tidak dikenal sebagai pengkritik kebijakan Trump. Bahkan, ia pernah mendukung normalisasi hubungan antara UEA dan Israel melalui Abraham Accords. Perusahaannya juga sempat menjajaki kerja sama dengan maskapai Israel serta menandatangani kemitraan teknologi dengan perusahaan Israel, Mobileye.
Dalam unggahannya, Habtoor juga mempertanyakan apakah keputusan Trump menyerang Iran dipengaruhi oleh tekanan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
“Rakyat di kawasan ini berhak bertanya apakah ini keputusan Anda sendiri atau akibat tekanan dari Netanyahu dan pemerintahannya,” tulisnya.
Ia juga menyoroti kontradiksi kebijakan Washington. Menurut Habtoor, serangan terhadap Iran terjadi ketika Amerika Serikat sebelumnya mengajak negara-negara Teluk mendukung inisiatif “Dewan Perdamaian” untuk menata kembali Gaza.
Habtoor mempertanyakan ke mana arah inisiatif tersebut jika kawasan justru dihadapkan pada eskalasi militer baru. Ia juga menyinggung kontribusi besar negara-negara Teluk yang selama ini menyumbang miliaran dolar untuk program stabilitas kawasan.
Selain itu, Habtoor menilai Trump telah melanggar janjinya kepada publik Amerika untuk menghindari keterlibatan dalam perang baru. Ia menuding pemerintahan Trump justru memperluas operasi militer di berbagai negara, termasuk Somalia, Irak, Yaman, Suriah, hingga Iran.
“Bahkan di dalam Amerika Serikat sendiri muncul kekhawatiran tentang risiko perang baru yang dapat mengancam kehidupan dan masa depan rakyatnya,” tulis Habtoor.
Ia menutup pesannya dengan menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari keputusan untuk berperang, melainkan dari kebijaksanaan, penghormatan terhadap pihak lain, serta upaya menciptakan perdamaian. (ian)



Tinggalkan Balasan