
Teheran (Trigger.id) — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Kementerian Intelijen Iran mengeluarkan peringatan mengenai dugaan rencana operasi rahasia Israel yang menargetkan kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.
Seorang pejabat tinggi di Teheran menyatakan bahwa Israel diduga menyiapkan operasi “bendera palsu” atau false flag yang bertujuan menyalahkan Iran dan kelompok-kelompok perlawanan atas serangan terhadap situs suci tersebut. Informasi ini dilaporkan kantor berita Tasnim.
Menurut klaim tersebut, skenario serangan kemungkinan melibatkan penggunaan pesawat nirawak (drone) atau rudal yang diarahkan ke kawasan Masjid Al-Aqsa. Serangan itu disebut-sebut dirancang untuk memicu kemarahan dunia Arab dan Muslim terhadap Iran, terutama menjelang peringatan Hari Al-Quds Internasional.
Pejabat intelijen Iran juga menyinggung sejumlah indikasi yang dianggap tidak biasa di Yerusalem Timur dalam beberapa hari terakhir. Di antaranya, laporan tentang evakuasi bertahap pemukim Yahudi dari wilayah sekitar kompleks Al-Aqsa sejak Kamis lalu.
Langkah tersebut dinilai sebagai kemungkinan persiapan sebelum terjadinya serangan. Media Al Mayadeen juga melaporkan bahwa situasi di kawasan itu semakin tegang setelah Kegubernuran Al-Quds mengungkap rencana kepolisian Israel untuk menutup total akses ke Masjid Al-Aqsa pada Jumat (6/3/2026).
Penutupan itu berpotensi menghalangi umat Muslim melaksanakan shalat Jumat. Sejak meningkatnya ketegangan akibat konflik dengan Iran, akses ke masjid tersebut juga dilaporkan semakin dibatasi, termasuk penghentian paksa kegiatan shalat tarawih dan ibadah malam oleh aparat keamanan Israel.
Teheran menilai skenario tersebut sebagai upaya untuk melemahkan pengaruh Iran di dunia Islam. Dengan menciptakan kesan bahwa serangan berasal dari “Poros Perlawanan”, Israel diduga ingin memicu perpecahan di antara negara-negara Muslim serta mengisolasi Iran di tingkat internasional.
“Serangan terhadap Al-Aqsa akan menjadi kejahatan besar dengan konsekuensi yang tidak terbayangkan,” ujar pejabat tersebut, seraya menyerukan kewaspadaan komunitas internasional.
Saat ini perhatian dunia tertuju pada kompleks Masjid Al-Aqsa. Jika tuduhan tersebut terbukti, kawasan suci itu dikhawatirkan dapat menjadi pemicu gelombang kemarahan global yang jauh lebih besar.
Istilah false flag sendiri merujuk pada operasi militer atau politik yang sengaja dirancang untuk menyalahkan pihak lain. Istilah ini berasal dari praktik para bajak laut pada abad ke-16 yang mengibarkan bendera negara lain untuk menipu kapal dagang agar dapat mendekat tanpa dicurigai. Dalam konteks modern, taktik ini kerap digunakan sebagai dalih untuk membenarkan eskalasi konflik yang lebih luas. (wah)



Tinggalkan Balasan