
Surabaya (Trigger.id) – Menopause sering kali identik dengan hot flashes, kenaikan berat badan, dan perubahan suasana hati. Namun ada satu dampak lain yang jarang dibicarakan, yakni menurunnya kenyamanan dan gairah seksual pada perempuan setelah menopause.
Mulai dari vagina kering, nyeri saat berhubungan intim, hingga menurunnya libido menjadi keluhan yang cukup umum terjadi akibat turunnya hormon estrogen dan progesteron. Kini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa senyawa alami dari kedelai mungkin dapat membantu mengurangi masalah tersebut.
Sebuah analisis terbaru yang dipublikasikan di International Journal of Impotence Research menemukan bahwa isoflavon kedelai, baik dari makanan maupun suplemen, cukup aman dan mampu membantu meredakan beberapa gejala seksual dan gangguan area intim pada perempuan pascamenopause.
Apa Itu Isoflavon Kedelai?
Isoflavon merupakan senyawa alami yang banyak ditemukan pada makanan berbahan kedelai seperti tahu, tempe, susu kedelai, dan edamame. Senyawa ini dikenal sebagai fitoestrogen karena memiliki struktur mirip hormon estrogen.
Meski begitu, efeknya tidak sekuat terapi pengganti hormon atau hormone replacement therapy (HRT). Isoflavon hanya memberikan efek menyerupai estrogen dalam kadar ringan, terutama pada jaringan vagina dan saluran kemih yang sering terdampak menopause.
Karena sifatnya lebih ringan, banyak perempuan mulai melirik kedelai sebagai alternatif alami untuk membantu mengurangi gejala menopause.
Hasil Penelitian: Ada Perbaikan pada Area Intim
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan meninjau 13 uji klinis acak yang melibatkan lebih dari 1.300 perempuan menopause dari berbagai negara. Para peserta mengonsumsi makanan tinggi kedelai atau suplemen isoflavon selama empat hingga 24 minggu.
Hasilnya cukup menjanjikan. Konsumsi isoflavon kedelai terbukti membantu mengurangi kekeringan vagina serta gangguan urogenital seperti nyeri saat buang air kecil, rasa tidak nyaman di panggul, hingga penurunan gairah seksual.
Namun, manfaatnya tidak terlalu signifikan untuk mengatasi hot flashes, keringat malam, atau nyeri hebat saat berhubungan intim.
Para peneliti menegaskan bahwa studi jangka panjang masih dibutuhkan untuk memastikan efektivitasnya. Selain itu, beberapa penelitian yang dianalisis masih berskala kecil dan banyak bergantung pada laporan subjektif peserta.
Lebih Baik dari Makanan atau Suplemen?
Menariknya, manfaat ditemukan baik dari makanan kedelai maupun suplemen. Namun sejumlah ahli menilai tubuh kemungkinan lebih mudah menyerap isoflavon dari makanan alami dibanding tablet suplemen.
Masalahnya, untuk mendapatkan efek optimal, jumlah konsumsi kedelai tidak sedikit. Perempuan perlu mengonsumsi sekitar dua hingga tiga porsi makanan berbahan kedelai setiap hari untuk mencapai kadar isoflavon yang dianggap efektif.
Berikut beberapa sumber isoflavon kedelai yang cukup tinggi:
- Setengah cangkir kacang kedelai matang: sekitar 47 mg isoflavon
- 3 ons tempe: sekitar 37 mg
- 1 gelas susu kedelai: sekitar 30 mg
- 3 ons tahu padat: sekitar 20 mg
- 1 sendok makan miso: sekitar 7 mg
Para ahli menyarankan memulai dengan satu hingga dua porsi makanan kedelai per hari sambil memantau perubahan gejala.
Tidak Cocok untuk Semua Orang
Meski terlihat menjanjikan, isoflavon kedelai bukan solusi untuk semua perempuan menopause. Efeknya cenderung lebih terasa pada mereka yang mengalami keluhan ringan hingga sedang dan menginginkan pilihan nonhormonal.
Namun, perempuan dengan riwayat kanker sensitif estrogen, pengguna terapi hormon, atau yang mengonsumsi obat seperti Tamoxifen sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum rutin mengonsumsi suplemen isoflavon.
Pada akhirnya, penelitian ini memberi harapan baru bahwa perubahan sederhana di meja makan mungkin dapat membantu perempuan menopause tetap nyaman, sehat, dan percaya diri dalam kehidupan intim mereka. (ian)
Sumber: Health



Tinggalkan Balasan