
Surabaya (Trigger.id) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan inovasi di bidang teknologi pangan dan jaminan halal. Tim peneliti dari kampus teknik terkemuka tersebut berhasil mengembangkan strip test kit portabel pendeteksi kandungan minyak babi yang praktis, ekonomis, dan dapat digunakan tanpa memerlukan proses pengujian laboratorium yang rumit.
Penelitian ini dipimpin Dr Ruri Agung Wahyuono bersama sejumlah peneliti dari Pusat Studi Halal ITS, termasuk Prof Agus Muhamad Hatta. Inovasi tersebut dikembangkan sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat muslim untuk memastikan kehalalan makanan, terutama saat bepergian ke negara dengan mayoritas penduduk nomuslim.
Deteksi Halal Tanpa Laboratorium
Berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) atau sensor elektrokimia, alat buatan ITS ini menggunakan metode deteksi optik berbasis perubahan warna. Cara kerjanya menyerupai strip pengukur pH yang umum digunakan untuk menguji kualitas air.
Tim peneliti merancang formula reagen khusus berbasis material nano yang sensitif terhadap kandungan minyak babi dalam makanan. Ketika reagen bersentuhan dengan sampel yang mengandung minyak babi, akan terjadi reaksi kimia yang menghasilkan perubahan warna tertentu sehingga hasil pengujian dapat diketahui secara cepat dan mudah.
Menurut Ruri, teknologi ini memanfaatkan sinyal optis dari perubahan warna sebagai indikator keberadaan zat yang ditargetkan. Dengan demikian, pengguna tidak perlu membawa sampel ke laboratorium atau menggunakan perangkat analisis yang mahal untuk melakukan pemeriksaan awal.
Mendukung Ekosistem Halal Nasional
Pengembangan alat ini sejalan dengan peran Pusat Studi Halal ITS yang sejak diresmikan pada Tahun 2016 aktif melakukan pendidikan, penelitian, analisis, dan layanan terkait produk halal berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Pusat studi tersebut juga menjadi salah satu rujukan akademik dalam pengembangan sistem jaminan produk halal di Indonesia.
Sebelumnya, peneliti ITS juga telah mengembangkan berbagai teknologi pendeteksi kandungan babi, termasuk sensor berbasis serat optik yang mampu melakukan deteksi secara cepat dan akurat pada produk pangan. Kehadiran strip test kit terbaru ini menjadi langkah lanjutan untuk menghadirkan teknologi yang lebih sederhana dan mudah digunakan masyarakat luas.
Potensi Dikembangkan Guna Deteksi Alergen
Tidak berhenti pada deteksi minyak babi, tim peneliti ITS berencana memperluas fungsi teknologi tersebut untuk mengidentifikasi berbagai bahan pemicu alergi dalam makanan. Pengembangan akan tetap menggunakan prinsip kolorimetri atau perubahan warna, namun dengan formulasi reagen dan katalis yang disesuaikan dengan target zat yang ingin dideteksi.
Langkah ini dinilai berpotensi memberikan manfaat lebih luas, tidak hanya bagi konsumen Muslim yang memperhatikan aspek halal, tetapi juga bagi masyarakat yang memiliki alergi terhadap bahan pangan tertentu.
Ruri menyatakan timnya menargetkan produksi material dan perangkat deteksi dilakukan secara mandiri di dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada produk impor sekaligus memperkuat ekosistem kewirausahaan berbasis riset di lingkungan kampus.
Saat memasuki tahap komersialisasi, harga strip test kit ini diperkirakan sekitar Rp10.000 per strip untuk satu kali pengujian. Nilai tersebut masih berpotensi turun apabila produksi dilakukan dalam skala yang lebih besar.
Kontribusi terhadap SDGs
Selain mendukung keamanan pangan dan kenyamanan konsumen, inovasi ini juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera;
SDG 4: Pendidikan Berkualitas;
SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. ( wah )



Tinggalkan Balasan