
Jakarta (Trigger.id) – Di tengah dunia yang semakin tidak menentu, kekuatan suatu negara tak lagi diukur dari jumlah pasukan atau banyaknya persenjataan konvensional yang dimiliki. Era baru telah mengubah wajah persaingan global. Kini, keunggulan ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan kemampuan berinovasi.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, saat memberikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-23 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Di hadapan sivitas akademika dan mahasiswa, ia mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai ketidakpastian akibat konflik geopolitik yang terus berkembang.
Menurut Jusuf Kalla, karakter peperangan modern telah mengalami transformasi besar. Jika dahulu kekuatan militer diukur dari banyaknya personel yang dimiliki, kini teknologi menjadi faktor penentu.
Perang modern, katanya, bukan lagi soal jumlah tentara yang dikerahkan ke medan tempur, melainkan kemampuan suatu negara dalam mengembangkan teknologi canggih, sistem persenjataan berbasis digital, roket, drone, hingga inovasi sains yang mampu memberikan keunggulan strategis.
Perubahan tersebut menjadi pelajaran penting bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Di tengah kompetisi global yang semakin ketat, penguasaan teknologi dan riset menjadi modal utama untuk menjaga kedaulatan sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.
Jusuf Kalla mencontohkan sejumlah negara yang mampu bertahan dan berkembang karena kekuatan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Iran, misalnya, dinilai mampu menghadapi berbagai tekanan internasional karena memiliki kapasitas teknologi dan riset yang terus berkembang. Sementara itu, Amerika Serikat menjadi contoh bagaimana sinergi antara perguruan tinggi dan industri mampu melahirkan inovasi-inovasi besar yang mengubah dunia.
Silicon Valley, kawasan yang dikenal sebagai pusat teknologi global, lahir dari kolaborasi erat antara universitas, lembaga penelitian, dan dunia usaha. Dari sana muncul berbagai perusahaan teknologi yang kini memengaruhi kehidupan masyarakat dunia.
Bagi Indonesia, tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Perubahan iklim mengancam ketahanan pangan nasional, kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, sementara produktivitas di berbagai sektor masih perlu ditingkatkan.
Untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara berpendapatan tinggi, Indonesia membutuhkan lompatan besar dalam produktivitas dan inovasi. Hal itu tidak mungkin dicapai tanpa dukungan sumber daya manusia yang unggul dan sistem pendidikan yang mampu melahirkan pengetahuan baru.
Karena itulah Jusuf Kalla menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu pilar utama pembangunan bangsa. Universitas tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga pusat lahirnya gagasan, penelitian, dan inovasi yang dapat menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa negara-negara maju selalu ditopang oleh universitas yang berkualitas, tradisi riset yang kuat, serta kemampuan memanfaatkan kecerdasan manusia untuk menghasilkan solusi nyata.
Namun, membangun bangsa tidak cukup hanya dengan menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Jusuf Kalla mendorong generasi muda untuk memiliki keberanian menciptakan peluang baru melalui kewirausahaan.
Ia mengajak mahasiswa untuk mengubah cara pandang dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Semangat kewirausahaan, menurutnya, merupakan kunci untuk memperluas kesempatan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Perubahan pola pikir tersebut menjadi semakin penting ketika dunia kerja mengalami transformasi akibat perkembangan teknologi. Lapangan pekerjaan konvensional dapat berkurang, tetapi peluang baru akan terus muncul bagi mereka yang mampu berinovasi dan beradaptasi.
Di akhir orasinya, Jusuf Kalla menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menghadapi berbagai tantangan global. Dengan dukungan generasi muda yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan memiliki semangat berwirausaha, masa depan bangsa tetap terbuka lebar.
Harapan itu kini bertumpu pada para mahasiswa, akademisi, peneliti, dan ilmuwan muda yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerjemahkan ilmunya menjadi karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak lahir dari sumber daya alam semata, melainkan dari kemampuan manusianya dalam berpikir, berinovasi, dan menciptakan perubahan. (ian)



Tinggalkan Balasan