• Skip to main content
  • Skip to secondary menu
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer
  • BERANDA
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Sitemap
Trigger

Trigger

Berita Terkini

  • UPDATE
  • JAWA TIMUR
  • NUSANTARA
  • EKONOMI PARIWISATA
  • OLAH RAGA
  • SENI BUDAYA
  • KESEHATAN
  • WAWASAN
  • TV

Derita Imunitas Akibat Cuaca Ekstrem

31 Mei 2024 by admin Tinggalkan Komentar

Oleh: Ari Baskoro*

Akhir-akhir ini hampir sebagian besar wilayah Indonesia mengalami peningkatan suhu udara. Kondisi ituamat terasa,terutama di kota-kota besar. Khususnya pada siang hari, banyak warga masyarakat yang merasakan panas menyengat bila melakukan aktivitas di luar ruangan. Pada malam hari pun terasa gerah. Peralihan dari musim hujan menuju kemarau, menjadi salah satu penyebabnya.

Situasi cuaca yang tidak nyaman itu, diprediksi bisa berlangsung hingga bulan September-Oktober 2024. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca panas yang terjadi tersebut bukan tergolong dalam gelombang panas, seperti yang dialami beberapa negara Asia. Suhu di Kamboja mencapai rekor tertinggi selama 170 tahun terakhir ini, hingga tembus 430 Celsius. Thailand melaporkan,suhu ekstrem sempat menyentuh angka520 Celsius. Akibatnya di negara Gajah Putih tersebut,menimbulkan korban jiwa hingga 30 orang. Suhu di New Delhi, ibu kota India, malah sempat mencapai 52,30 Celsius pada tanggal 29 Mei 2024.Kejadian gelombang panas serupa, juga melanda Meksiko. Diberitakan sebanyak 48 orang tewas karenanya.

Perubahan iklim dan pemanasan global, kini menjadi isu internasional karena  berimbas pada banyak sektor kehidupan. Timbulnya efek rumah kaca, merupakan penyebab penting perubahan iklim dan pemanasan global. Mayoritas dampak tersebut berasal dari aktivitas manusia, berupa gas buang kendaraan bermotor dan industri. Bahan bakar berbasiskan fosil, seperti halnya minyak bumi, batu bara, ataupun gas alam, menghasilkan berbagai macam gas dan polutan berbahaya. Komponennya terdiri dari karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), metana (CH4), nitrogen dioksida (N2O), freon, dan uap air. Sebagai salah satu bentuk imbasnya adalahJakarta.Ibu kota Indonesia itu, sempat mendapat “rekor”sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Itu terjadi pada tanggal 28 Mei 2024 jam 07.31 WIB. Level partikel polutan PM2,5-nya, sudah mencapai 27,6 kali lipat lebih tinggi dari ambang batas aman, menurut kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Istilah PM (ParticulateMatter), merujuk pada campuran partikel padat dan cair yang berada di udara. Bentuknya seperti debu, kotoran, jelaga, dan asap. Ukurannya sangat kecil, sekitar 2,5 mikron (mikrometer). Ukuran ini lebih kecil dari tiga persen ukuran rambut manusia.

Matahari merupakan sumber energi terbesar. Radiasi cahayanya yang sampai ke permukaan bumi, berubah menjadi energi panas. Sebagian akan diserap. Tetapi sebagian lainnya akan dipantulkan kembali ke angkasa. Gas-gas polutan tadi berefek menahan pantulan panas di atmosfer, sehingga “terperangkap” di permukaan bumi. Dampaknya bumi akan semakin panas. Itulah kondisi yang disebut dengan efek rumah kaca, sebagai pemicu terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim.

Perubahan iklim dan pemanasan global, berimbas pada terjadinya kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dampaknya memicu pelepasan polutanyang sifatnya toksik ke atmosfer.Pada gilirannya, kondisi terakhir itusemakin memperparah buruknya kualitas udara lingkungan.

Di sisi lain penebangan/penggundulan hutan dan pembukaan lahan baru bagi kepentingan urbanisasi, semakin memperburuk perubahan iklim. Kemampuan menyerap dan menekan tingkat polutan atmosfer, khususnya CO2, menjadi berkurang  karenanya.

Pemanasan global terpantau mulai pertengahan abad ke-20. Dalam satu abad terakhir, suhu permukaan bumi telah meningkat antara 0,60C  hingga 0,90C.  Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), suhu rata-rata udara di permukaan tanah Indonesia mengalami peningkatan sebesar 0,50C. Dalam skala yang lebih luas, Asia merupakan wilayah yang paling terkena dampak akibat pemanasan global, dibanding wilayah bumi lainnya. Kenaikan suhu pada tahun 2023 rata-rata hampir dua derajat Celsius, bila dibandingkan pada tahun 1961-1990.

WHO mengingatkan, bahwa perubahan iklim merupakan ancaman terbesar kesehatan global pada abad ke-21. Itu bisa dalam wujud  kelangkaan air, kekurangan sumber makanan, peningkatan terjadinya banjir, dan cuaca panas ekstrem. Dampak rentetannya bisa memantik timbulnya berbagai macam penyakit. Selain penyakit kardiovaskuler, berbagai macam penyakit  pada saluran napas (asma, penyakit paru obstruktif kronik/PPOK, kanker paru), prevalensinya semakin meningkat tajam. Sistem imunitas tubuh pun, dapat mengalami “penderitaan”.Terjadinya reaksi hipersensitivitas, dalam bentuk penyakit alergi dan autoimun, merupakan akibat lanjutannya.

Penyakit alergi dan autoimun

Sebagai tenaga kesehatan yang berkecimpung di bidang imunologi, akhir-akhir ini  penulis merasakan meningkatnya penyakit alergi secara dramatis. Setali tiga uang, demikian pula yang terjadi pada penyakit autoimun. Pada dasarnya  sistem imun diciptakan dan dirancang Tuhan, untuk melindungi seseorang terhadap berbagai macam paparan mikroba. Adanya sistem imun yang kompeten, membuat seseorang tidak akan mudah jatuh sakit. Khususnya terhadap penyakit infeksi. Apabila sistem imun mengalami disfungsi, berdampak memicu timbulnya penyakit alergi dan/atau penyakit autoimun. Penyakit alergi terjadi akibat paparan suatu zat/komponen yang harusnya tidak berbahaya bagi orang pada umumnya. Misalnya terhadap debu rumah, serbuk sari tanaman, ataupun makanan tertentu. Tetapi sistem imun bisa bereaksi secara berlebihan (hipersensitivitas) terhadap komponen tadi, sehingga memicu timbulnya berbagai macam manifestasi penyakit. Zat/komponen pemicu penyakit alergi tadi, disebut dengan alergen.

Penyakit autoimun memiliki latar belakang mekanisme yang serupa dengan penyakit alergi. Perbedaannya hanya terletak pada zat/komponen pemicunya. Bila penyakit alergi timbul sebagai respons terhadap rangsangan zat eksternal, sebaliknya  penyakit autoimun terjadi akibat respons “salah sasaran”/hipersensitivitas terhadap sel/jaringan tubuh sendiri (internal).

Penyakit alergi dan autoimun, merupakan hasil interaksi berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut adalah unsur genetik, kondisi lingkungan, dan paparan mikroba. Gen manusia tidak banyak berubah selama 70 tahun terakhir ini. Tetapi sebaliknya kondisi lingkungan dan mutasi/variasi mikroba yang justru banyak mengalami perubahan dramatis. Riset menyatakan, respons imun bisa menjadi hipersensitif akibat perubahan kondisi lingkungan.

Meningkatnya kadar CO2 dan ozon (O3), serta iklim yang lebih panas, berdampak pada perluasan penyebaran geografis tanaman. Musim berbunga pun menjadi lebih panjang, tetapi disertai juga dengan semakin meningkatnya paparan serbuk sari. Bagi seseorang yang memiliki latar belakang genetik alergi, serbuk sari merupakan alergen yang kuat. Gejalanya bisa berupa hidung tersumbat, bersin-bersin, “meler”, dan meningkatnya kerentanan terhadap paparan infeksi virus pernapasan. “Kolaborasinya” dengan polutan,semakin memantik risiko terjadinya penyakit alergi saluran napas lainnya, seperti asma. Alergenjuga semakin gampang mengalami penetrasi, di sepanjang lapisan terdalam saluran napas. Hal itu sebagai dampak rusaknya mekanisme barier pada lapisan tersebut, akibat berulangnya paparan polutan.

Penyakit autoimunbisa terjadi, ketika sistem imun telah kehilangan sifat toleransinya terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Perilakunya menjadi berubah, seolah-olah jaringan tubuh tersebut sebagai lawan yang harus diserang.Salah satu pemicunya adalah faktor “lingkungan yang salah” (misalnya paparan sinar matahari yang berlebihan) dan stres kehidupan. Contoh penyakit autoimun yang kini melonjak tajam adalah lupus eritematosussistemik (LES). Risiko mengalami penyakit autoimun juga meningkat signifikan,  pada seseorang pasca terpapar COVID-19.

Mitigasi lingkungan

Perubahan iklim perlu dicegah agar tidak semakin memburuk. Gerakan mitigasi iklim, perlu digalakkan dan dirancang untuk memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat.Aksi nyata sangat membutuhkan komitmen dan kerja sama yang intens dari semua pihak. Dari sisi pemerintah, diperlukan  kebijakan yang konsisten terhadap penggunaan energi yang terbarukan dan transportasi bersih. Tindakan itu sebagai upaya menekan dampak polusi udara.Mitigasi lingkungan harus didukung penuh para profesional dibidang iklim dan kesehatan, organisasi masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan dunia usaha.

Aksi yang masif menanam pohon dan semak, dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan. Manfaatnya diharapkan pula mampu memelihara ketahanan lingkungan, terhadap limpahan curah hujan yang berlebihan dan  mengurangi emisi CO2.

—–o—–

*Penulis :
Staf pengajar senior di:
Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo – Surabaya

Anggota Advisory Board Dengue Vaccine

Penulis buku:
* Serial Kajian COVID-19 (sebanyak tiga seri)
* Serba-serbi Obrolan Medis

Share This :

Ditempatkan di bawah: jatim, Kesehatan, update, wawasan Ditag dengan:Cuaca Ekstrem, Cuaca Panas, Derita Imunitas, Gelombang Panas, Musim Panas

Reader Interactions

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sidebar Utama

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

Lainnya

KH Miftachul Akhyar Rois Aam, Gus Kikin Ketum PBNU 2026-2031

31 Agustus 2026 By admin

Gus Kikin Resmi Pimpin PBNU 2026–2031, Ditetapkan Lewat Musyawarah AHWA

31 Agustus 2026 By admin

Bruno Fernandes Menggila! Hattrick Antar MU Pesta Gol 5-2 atas Ipswich

31 Agustus 2026 By admin

Arab Saudi Gaspol Revolusi Layanan Haji dan Umrah

31 Agustus 2026 By admin

Miftahul Akhyar Kembali Dipercaya Jadi Rais Am PBNU 2026-2031

31 Agustus 2026 By admin

Calhanoglu Jadi Pahlawan, Inter Milan Kuasai Puncak Serie A Usai Bungkam Cagliari

31 Agustus 2026 By admin

Pemilihan Ketum PBNU Diserahkan 9 Anggota AHWA

30 Agustus 2026 By admin

KomdigiTerbitkan SE, Opsel Wajib Lindungi Sisa Kuota Pelanggan

30 Agustus 2026 By admin

Inovasi Ampas Kopi Jadi Obat Kumur Lansia

30 Agustus 2026 By admin

Mulai 31 Agustus, 96 Angkot Gratis Antar Pelajar Kota Malang

29 Agustus 2026 By admin

Malam Ini Pemilihan Rais Aam dan Ketua PBNU

29 Agustus 2026 By admin

NU: Antara Kharisma Ulama, Konstitusi, dan Kekuasaan

29 Agustus 2026 By admin

BAZNAS Siapkan 15.000 Paket Konsumsi dan Beasiswa Santri di Muktamar

28 Agustus 2026 By admin

Festival Kampung Klasik : Merawat Tradisi Merajut Kebersamaan

28 Agustus 2026 By admin

Prabowo : NU Penjaga Stabilitas Bangsa

28 Agustus 2026 By admin

Pemkab Kediri Serahkan Lahan 5,9 Ha untuk Hotel Haji

28 Agustus 2026 By admin

Presiden dan Wapres Hadiri Pembukaan Muktamar NU

27 Agustus 2026 By admin

ITS Didorong Perkuat Inovasi Teknologi Kedaulatan Pangan

27 Agustus 2026 By admin

Jonatan Christie, Tunggal Putra Nomor Satu Dunia

27 Agustus 2026 By admin

DPT Muktamar NU Tuntas, 557 Pemilik Suara Dipastikan Sah

26 Agustus 2026 By admin

Muktamar NU Perkuat Tata Kelola Digital dengan Kartu Cip dan 100 CCTV

26 Agustus 2026 By admin

Beban Kesehatan Tembus Rp120 Triliun, PFI Serukan Penanganan Sistemik Karhutla

26 Agustus 2026 By zam

Replika Unta, Magnet Pawai Maulid Kampung Nelayan

25 Agustus 2026 By admin

Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp, Dorong Kemandirian Energi

25 Agustus 2026 By admin

Dari Sudan ke Cikoang: Ketika Cinta kepada Nabi Dihias di Atas Perahu

24 Agustus 2026 By admin

TERPOPULER

Kategori

Video Pilihan

WISATA

KALENDER

September 2026
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
« Agu    

Jadwal Sholat

RAMADHAN

Teknologi dan Layanan Khusus Sambut Jamaah di 10 Malam Terakhir Ramadan

11 Maret 2026 Oleh admin

Bubur India Masjid Pekojan Semarang, Tradisi Berbuka Lebih dari Satu Abad

10 Maret 2026 Oleh admin

Menambang Kehidupan, Bukan Sekadar Emas: Jejak Hijau Martabe di Jantung Sumatra

21 Oktober 2025 Oleh admin

Merayakan Keberagaman: Tradisi Unik Idul Fitri di Berbagai Negara

31 Maret 2025 Oleh admin

Khutbah Idul Fitri 1446 H: Ciri-ciri Muttaqin Quran Surat Ali Imran

31 Maret 2025 Oleh admin

Footer

trigger.id

Connect with us

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • YouTube

terkini

  • Zulhas Dorong Sekolah Tiru Kelola Sampah Pesantren.
  • 4 Makanan Ini Jangan Terlalu Sering Jadi Menu Sarapan
  • 190 Satwa Liar Batal Diperdagangkan
  • BGN Suspend SPPG Sidoarjo Selama 30 Hari
  • FIFA ASEAN Cup 2026, Ujian Timnas Jaga Tren Positif Ranking Dunia

TRIGGER.ID

Redaksi

Pedoman Media Siber

Privacy Policy

 

Copyright © 2026 ·Triger.id. All Right Reserved.