
Solo (Trigger.id) – Malam itu, Solo seakan berbicara melalui kesunyian. Ribuan orang bergerak perlahan meninggalkan halaman Pura Mangkunegaran, Selasa (16/6), mengikuti Hajad Dalem Kirab Pusaka Malam 1 Sura. Tak ada teriakan, tak ada percakapan, bahkan suara langkah kaki pun nyaris tenggelam dalam suasana khidmat.
Sekitar 2.500 peserta menjalani laku tapa bisu, berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Di sepanjang rute kirab, ribuan warga berdiri menyaksikan dengan hormat, larut dalam keheningan yang terasa begitu sakral.
Bagi masyarakat Jawa, Malam 1 Sura bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa.
Momentum ini menjadi ruang perenungan untuk menata kembali hubungan manusia dengan dirinya, sesama, alam, dan Sang Pencipta. Melalui tapa bisu, para peserta diajak mengekang hawa nafsu, mengendalikan ucapan, serta membuka ruang refleksi batin.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan bising, tradisi ini menghadirkan jeda yang langka: kesempatan untuk mendengarkan suara hati sendiri.
Tahun ini, peringatan 1 Sura di Mangkunegaran mengusung tema “Mulih Pulih”. Filosofi tersebut mengajak masyarakat untuk kembali ke akar kehidupan, kembali kepada jati diri, sekaligus memulihkan berbagai hal yang mungkin terabaikan dalam perjalanan hidup.
Bukan sekadar perayaan budaya, rangkaian kegiatan yang berlangsung selama 24 jam itu dirancang sebagai laku spiritual yang terbagi dalam fase Atita, Atiki, dan Anagata—melepaskan masa lalu, menyadari masa kini, serta menyongsong masa depan dengan kesadaran baru.
Di bawah cahaya lampu kota yang temaram, iring-iringan pusaka bergerak menyusuri jalan-jalan utama Solo. Pusaka-pusaka keraton yang menjadi simbol warisan leluhur dikirab bersama keluarga Mangkunegaran, abdi dalem, dan masyarakat umum. Keheningan yang menyelimuti perjalanan itu justru menciptakan komunikasi yang lebih dalam; bukan lewat kata-kata, melainkan melalui kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga nilai, tradisi, dan identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Ketika kirab berakhir dan malam beranjak menuju dini hari, kesunyian perlahan berubah menjadi renungan yang tersimpan dalam benak setiap peserta.
Tapa bisu bukan hanya ritual berjalan tanpa suara, melainkan perjalanan pulang menuju diri sendiri. Di tengah dunia yang semakin riuh, Malam 1 Sura di Mangkunegaran kembali mengingatkan bahwa terkadang makna terdalam kehidupan justru hadir dalam keheningan. (Ian)



Tinggalkan Balasan